Katakan Insya Allah

image

Surat Al Kahfi ayat 23-24.

Kapan Seharusnya Kita Mengucapkan “Insya Allah”?

Kapan seharusnya kita harus mengucapkan “Insya Allah”?

1. Insya Allah diucapkan apabila kita mengungkapkan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya (seperti perawi dalam meriwayatkan hadis, HR Muslim, No. 216).

2. Insya Allah boleh tidak diucapkan walaupun dikaitkan dengan masa yang akan datang, yaitu apabila ada sebuah harapan atau rencana akan tetapi bukan sesuatu yang pasti akan dilakukan.
Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh besok aku akan memberitakan bendera ini kepada seorang lelaki yang dicnintai oleh Allah dan rosul-Nya … “ (HR Muslim, No. 4424)

3. Insya Allah atau Insyi’ta tidak boleh diucapkan pada saat memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya, seorang mukmim harus yakin bahwa Allah Azza w Jalla pasti akan mengabulkan permohonan yang kita panjatkan (HR Abu Dawud, No. 1268)

4. Insya Allah diucapkan apabila kita telah bertekad untuk melakukan suatu hal pada masa yang akan datang.

“Walaa taquulanna li syain innii faa’ilun dzaalika ghodan illa an yasyaa’allah” ;”
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi”, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah’” (Q.S : Al Kahfi : 23-24).

Asbabun Nuzul.

Dalam Tafsir Al Qur’an Al ’Adzhim karya Ibnu Katsir Ad-Dimasqy, beliau menyebutkan bahwa asbabun nuzul dari ayat ini adalah terkait dengan kisah sebagai berikut :

Syahdan, suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh salah seorang sahabat tentang kisah ashabul kahfi. Diantara pertanyaannya adalah : berapa tahun ashabul kahfi berlindung dan menghabiskan masa tidurnya dalam gua al-kahfi ? Dan berapa jumlah anggota yang tergabung dalam ashabul kahfi ketika itu, lima orang dengan seekor anjingnya atau tujuh beserta anjingnya?

Rasulullah SAW saat itu tak sanggup memberi jawaban pasti. Lantas, beliau berkata kepada sahabat yang bertanya : “Jawabannya akan kuberikan besok. ” Biasanya pada saat-saat seperti demikian, keesokannya turun wahyu sebagai jawaban.

Keesokan harinya, fajar telah menyingsing menyambut mentari terbit di ufuk timur. Sang surya terus menyemai panas diatas kepala sehingga dzuhur. Namun, wahyu dari Sang Khaliq tak kunjung turun memberikan jawab. Akhirnya sore semakin tinggi. Senjapun memerah mengantar kegelapan malam.

Berhari-hari Rasulullah SAW menantikan wahyu itu. Lewat lima belas hari turunlah wahyu. Wahyu sebagai jawaban disertai teguran dalam ayat : “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu : “ Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) “Insya Allah.“ ( Al Qur’an surat Al Kahfi : 23-24).

Sejak saat itu, Rasulullah SAW tak pernah alpa menyebut : “Insya Allah”, setiap kali menjanjikan pada ummatnya untuk hal-hal yang akan beliau ucapkan dan lakukan. Sebagaimana sebuah hadits shahih dari Abdullah ibn ‘Amru berkata , Rasulullah SAW pernah berujar saat singgah di Thaif bersama para sahabatnya: “Innaa qaafiluuna ghodan Insya Allah” ; “Besok kita akan berangkat melanjutkan perjalanan, Insya Allah.”(HR.Bukhari/Muslim).

Inilah sebuah petunjuk mulia dari Allah pada rasul-rasul-Nya. Bahwa kedudukan Muhammad sebagai rasul-Nya tidak lantas menjadikan dirinya dengan mudah memastikan kehendakNya. Adalah sebuah adab hamba kepada Tuhannya, jika dia sudah bertekad untuk mengerjakan suatu hal pada waktu mendatang, dia tetap menyandarkan segalanya pada kehendak Allah semata (masyi’atillah), Yang Maha Mengetahui semua yang ghaib, Yang Mengetahui apa yang tidak akan terjadi dan apa yang akan terjadi, dan Yang Mengetahui pula bagaimana sesuatu itu dapat terjadi. Wallahu A’lam bishawab.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 23-24

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, (QS. 18:23) kecuali (dengan menyebut): ‘Insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.’” (QS. 18:24)

Yang demikian ini merupakan bimbingan dari adab Allah kepada Rasulullah saw mengenai sesuatu jika beliau hendak melakukannya pada masa yang akan datang, yakni hendaklah beliau mengembalikan hal itu kepada kehendak Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, yang Mahamengetahui segala yang ghaib, yang mengetahui apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, yang tidak akan terjadi, dan bagaimana akan terjadinya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain, dari Abu Hurairah, dari Rasulullahbeliau bersabda:

“Sulaiman bin Dawud pemah berkata: ‘Aku akan berkeliling mendatangi tujuh puluh isteriku [yang dalam riwayat lain disebutkan, sembilan puluh isteri, dan dalam riwayat lainnya disebutkan seratus isteri] dalam satu malam, yang masing-masing akan melahirkan satu orang anak laki-laki yang berperang di jalan Allah.’ Kemudian dikatakan kepadanya, [dalam sebuah riwayat disebutkan, salah satu Malaikat berkata kepadanya] “Katakanlah, Insya Allah (jika Allah menghendaki).’ Tetapi Sulaiman tidak mengucapkannya. Kemudian ia berkeliling mendatangi isteri-isterinya itu. Maka tidak seorang pun dari mereka yang melahirkan anak kecuali seorang wanita raja yang melahirkan setengah orang.”
Selanjutnya, Rasulullah bersabda: “Demi Allah, seandainya ia (Sulaiman) berkata: ‘Insya Allah’, niscaya ia tidak berdosa dan demikian itu sudah cukup untuk memenuhi hajatnya.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Dan akan berperang di jalan Allah semua orang-orang yang ahli berkuda.”

Pada awal Surat telah dikemukakan sebab turunnya ayat ini, yakni dalam sabda Nabi ketika beliau ditanya tentang kisah Ash-haabul Kahfi: “Akan aku berikan jawaban kepada kalian besok hari.” Lalu wahyu terlambat turun sampai lima belas hari.

Firman Allah Ta’ala: wadz-kur rabbaka idzaa nasiita (“Dan ingatlah kepada Rabb-mu jika kamu lupa.”) Ada yang mengatakan, artinya, jika kamu lupa mengucapkan pengecualian (insya Allah), maka berikanlah pengecualian pada saat kamu mengingatnya. Demikianlah yang dikemukakan oleh Abul `Aliyah dan al-Hasan al-Bashri.

Husyaim menceritakan dari al-A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas mengenai orang yang bersumpah. la mengatakan, hendaklah ia memberikan pengecualian (dengan mengucapkan insya Allah) meski setelah satu tahun. Demikianlah yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari Abu Mu’awiyah, dari al-A’masy.
Dan arti ungkapan Ibnu `Abbas: “Hendaklah ia memberikan pengecualian meskipun setelah berlalu satu tahun,” berarti jika ia lupa dalam sumpahnya atau ucapannya untuk mengucapkan insya Allah, lalu ia mengingatnya setelah satu tahun berlalu, maka disunnahkan baginya mengucapkan hal itu, supaya ia datang dengan memberikan pengecualian meskipun setelah ia melakukan kesalahan. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir, dan ia menashkan hal tersebut. Namun, hal itu tidak menghapuskan dosa sumpah dan menggugurkan kaffarat. Dan yang dikatakan oleh Ibnu Jarir. inilah yang shahih dan yang lebih layak bagi ungkapan Ibnu `Abbas. Wallahu a’lam.

Selain itu, mungkin juga ayat di atas mempunyai sisi lain, yaitu bahwa Allah Ta’ala bermaksud menunjukkan orang yang lupa akan sesuatu dalam ucapannya supaya mengingat-Nya, karena lupa itu disebabkan oleh syaitan.
Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang anak muda yang bersama Musa as: “Dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan.” (QS. Al-Kahfi: 63).
Allah mengingatkan agar mengusir syaitan. Jika syaitan itu telah pergi, maka lupa itupun lenyap. Maka Allah Ta’ala menyebutkan kapan harus mengingat. Oleh karena itu, Dia berfirman: wadz-kur rabbaka idzaa nasiita (“Dan ingatlah kepada Rabb-mu jika kamu lupa.”)

Firman-Nya lebih lanjut: wa qul ‘asaa ay yaHdiyanii rabbii li-aqraba min Haadzaa rasyadan (“Dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.’”) Maksudnya, jika kamu ditanya tentang sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala dan menghadaplah kepada-Nya dengan memohon agar Dia memberimu taufiq untuk memperoleh kebenaran dan juga petunjuk mengenai hal tersebut. Ada juga yang berpendapat, mengenai penafsiran ayat tersebut terdapat penafsiran lain selain itu. Wallahu a ‘lam.

Sumber:
alquranmulia.wordpress.com/ Untung Sugiyarto.
pustaka abatasa. Penulis adalah mahasiswa program S1 tingkat akhir Fakultas Ushuluddin, Departemen Tafsir dan Ulumul Qur’an, Al Azhar University, Kairo. Anggota divisi wakaf BWAKM, Kairo.

Reporaseterkini.net.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s