Do’anya Selalu Mustajabah.

image

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

MARI kita renungi sejenak hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Beliau bersabda:

“ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يَفْطُرَ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ”

“Tiga do’a yang tidak tertolak: do’a pemimpin yang adil, orang berpuasa hingga berbuka dan do’a orang yang dizhalimi.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)

Di setiap masa dan rezim, selalu ada peluang munculnya orang-orang yang do’anya sangat mustajabah, meskipun mereka tidak sedang berpuasa. Boleh jadi ibadahnya sedikit, boleh jadi tak banyak amalan sunnah yang dikerjakan, tapi mustajabah do’anya karena ia memimpin dengan adil.

Qais bin Sa’ad berkata, “Sehari bagi imam yang adil, lebih baik daripada ibadah seseorang di rumahnya selama enam puluh tahun.”

Maka alangkah ruginya, alangkah celakanya dan binasalah jika masa yang singkat sebagai pemimpin tak dimanfaatkan sepenuh kesungguhan dengan menegakkan keadilan dan kebenaran.Kepemimpinan akan berakhir dalam waktu singkat. Tapi adilnya kepemimpinan akan membawa kebaikan yang tiada akhir hingga Yaumil Qiyamah. Sebaliknya, kezhaliman akan membawa petaka yang tiada akhir. Di dunia beriring cerca, di akhirat musibah besar yang tak terkira. Pedih bersambung-sambung tiada ujungnya.

Jika seorang pemimpin melakukan kezhaliman yang sangat besar sehingga rakyat sengsara dan tak dapat menjalankan agama dengan baik, maka ketika itulah akan banyak orang yang mustabajah do’anya bersebab dizhalimi. Jika itu terjadi, gunakanlah untuk mendo’akan kebaikan, bagi dirimu, keluargamu, keturunanmu dan orang lain.

Saat sedang dizhalimi, sebagian orang hanya menghabiskan waktu untuk mencaci-maki, bahkan hingga melampaui batas. Sebagian memperbanyak do’a seraya memperbaiki diri. Tetapi pada akhirnya, kembalinya kepada yang dizhalimi, apakah ia hanya menggerutu dan memaki sehingga makin terpuruk, atau berbenah dan memperbanyak do’a. Semuanya membawa akibat yang berbeda-beda bagi diri mereka.

Adakalanya seseorang dizhalimi bukan karena adanya pemimpin yang zhalim, tetapi karena adanya orang-orang yang zhalim kepadanya. Yang jelas, di setiap rezim selalu ada pintu do’a yang makbul; boleh jadi bagi pemimpin yang adil, boleh jadi bagi rakyat yang dizhalimi. Tapi seburuk-buruk keadaan adalah zhalimnya rakyat. Siapakah itu? Seseorang yang tidak direnggut haknya, tidak dinistakan, tidak pula ditelantarkan. Tapi ia bertindak zhalim dan melampaui batas.

Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata, “Jika seorang pemimpin berkeinginan melakukan kecurangan atau telah melakukannya, maka Allah akan menimpakan kekurangan pada rakyatnya di pasar, di sawah, pada hewan ternak dan pada segala sesuatu. Dan jika seorang pemimpin ingin melakukan kebaikan & keadilan atau telah melakukannya niscaya Allah menurunkan barakah pada penduduknya.”

Apakah kita sedang berjalan menuju barakah atau justru menjauhinya? Mari sejenak kita periksa sikap kita dan sikap pemimpin terhadap kita. Ini baru berkait dengan ada tidaknya kezhaliman, adil tidaknya seorang pemimpin. Sungguh, ada urusan lain yang jauh lebih mendasar. Salah satunya terkait sikap pemimpin terhadap syari’at Islam ini.

Sesungguhnya setiap pemimpin memiliki hak untuk kita do’akan dengan kebaikan. Dan setiap do’a bermanfaat bagi yang mendo’akan, terlebih ketika ia mendo’akan secara diam-diam tanpa sepengetahuan yang dido’akan. Jika kita do’akan kebaikan bagi seorang pemimpin, mungkin Allah Ta’ala akan jadikan ia baik, mungkin kebaikan itu bagi kita sendiri.

Mari sejenak kita renungi hadis riwayat Muslim berikut ini. Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’” (HR. Muslim).

Maka, tak ada ruginya mendo’akan yang baik, kecuali bagi orang yang nyata-nyata menginjak-injak agama ini dan memusuhinya secara sadar. Do’a yang baik tetap bermanfaat, sekurangnya bagi yang mendo’akan.

Terkait kepemimpinan, mari kita ingat pula sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tiada seorang hamba yang Allah memberi kekuasaan kepadanya mengurusi rakyat, di hari ia mati itu ia menipu rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga atasnya.” (HR. Muslim).

Hadis riwayat Muslim ini semoga dapat menjadi renungan kita. Semoga Allah Ta’ala limpahkan kebaikan kepada kita semua. Semoga tetap iman.

Aku tulis ini sebagai nasehat bagi diriku sendiri, pemimpin dan calon pemimpin. Bukan untuk menilai. Tapi sebagai pengingat bersama.

Wallahu a’lam bish-shawab.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s