Kuatkan Solidaritas dengan Kedermawanan

PEKAN lalu, bumi Gaza yang diberkahi,  kembali dibombardir oleh Zionis Yahudi. Ratusan syahid telah berguguran dan puluhan ribu warga sipil mengalami luka-luka. Sekalipun telah terjadi gencatan senjata, bagaimanapun wilayah Gaza tidak bisa dikatakan seratus persen aman. Situasi diluar prediksi bisa terjadi sewaktu-waktu. Sebab, Zionis, bagaimanapun bukanlah tipe manusia yang bisa dipegang komitmennya. Al-Quran berkali-kali menyitir di dalam banyak ayar, watak Yahudi gemar berkhianat dalam perjanjian.

Sejak 1948, rakyat Palestina sudah hidup dalam penderitaan. Mereka telah kehilangan negara, tanah, kemerdekaan, dan kebebasannya. Mereka bahkan tidak punya hak untuk memilih pemerintahan sendiri di tanah-tanah mereka sendiri. Sungguh tidak masuk akal hingga hari ini, eksistensi Palestina sebagai sebuah negara masih belum diakui. Sementara penjajah yang datang merampas wilayahnya, diakui dan didukung Negara bernama Amerika dan PBB.

Dermawan

Tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh Zionis-Israel terhadap rakyat Palestina Rabu (14/11/2012) lalu jelas perbuatan amat biadab. Akibat kejahatan dan makar yang sangat terencana ini,  hingga menyebab Negara besar dunia –secara politis–  takut dan ragu membela yang benar, membela orang yang didzalimi dan dijajah.

Sungguh, tidak patut,  kita –sebagai sesama Muslim yang tidak lain juga saudara seiman mereka—membiarkan tragedi ini.  Keimanan kita menuntut berkontribusi langsung, dengan jiwa dan kemampuan kita. Setidaknya ‘inilah Saatnya Kita Berjihad dengan Harta’ yang kita miliki.

Ibnul Qayyim berkata, “Wajib berjihad dengan harta sama seperti kewajiban berjihad dengan nyawa.”

Dalam hadits lain, Rasulullah mengatakan,  jihad dengan harta adalah salah satu dari dua jihad yang ada. “Siapa yang memberangkatkan (mendanai) orang yang berperang di jalan Allah, berarti dia juga ikut berperang.” (HR Bukhari)

Momentum ini adalah kesempatan besar bagi seluruh umat Islam untuk menguatkan solidaritas dengan memupuk sifat kedermawanan dan melenyapkan kekikiran.  Karena kikir adalah sifat tercela yang dimurkai Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah bersabda, “Takutlah (jauhilah) olehmu akan kezaliman, karena kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat. Dan takutlah akan kekikiran dan kerakusan, karena kekikiran yang disertai kerakusan itulah yang membinasakan orang-orang terdahulu; dan membawa mereka pada pertupahan darah serta menghalalkan hal-hal yang diharamkan kepada mereka.” (HR. Muslim).

Jadi, mari kita bantu Palestina sebisa mungkin kita lakukan. Tetapi jangan lupa juga untuk membantu saudara atau tetangga sendiri yang tentu juga membutuhkan uluran tangan kita. Apabila kita berhasil menjadikan momentum ini untuk menjadi Muslim yang dermawan, Insya Allah rizki yang akan kita terima juga akan semakin banyak dan berkah.

Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu selalu menggenggam tanganmu (kikir tidak mau berinfak), maka Allah akan menyempitkan rizkimu. Atau dalam redaksi yang lain beliau bersabda, “Janganlah kamu menghitung-hitung (menumpuk-numpuk harta, tidak mau berinfak karena bakhil), sehingga Allah akan menyemptikan rizkimu.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat yang lain, Nabi bersabda, “Tidaklah ada suatu hari di mana hamba-hamba berada, melainkan ada dua malaikat turun di hari itu. Malaikat yang satu berkata, “Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang berinfak; sedangkan malaikat yang satunya berkata, “Ya Allah, berilah kerusakan (kerugian) bagi orang yang tidak berinfak.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian, ibrah paling dalam dari tragedi pelanggaran HAM oleh Zionis Yahudi Israel ini adalah kita dipanggil oleh Allah untuk  bersegera mengulurkan tangan dengan harta yang kita miliki, seberapapun yang ingin kita sumbangkan. Besar atau kecil bukan ukuran, yang utama adalah panggilan jiwa.

Apabila kita telah terpanggil untuk membantu rakyat Palestina, juga tidak mengabaikan saudara dan tetangga terdekat yang membutuhkan Insya Allah kita akan mendapatkan rizki yang lebih baik dan tentunya lebih berkah. Selain itu, jika kita memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki untuk saudara seiman yang membutuhkan bantuan, maka kita telah berada pada kebajikan yang sempurna.

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS:  Ali Imran [3]: 92).

Bercermin pada Ikrimah

Menjadi Muslim yang gemar berinfak atau dermawan adalah perkara utama. Ia harus dimiliki oleh siapapun, kaya atau miskin, terutama di saat-saat, kedermawanan itu memang sangat dibutuhkan oleh saudara yang lain. Sifat inilah yang menonjol pada kalangan umat Islam terdahulu, sehingga solidaritas mereka sangat kuat.

Akan tetapi, memiliki budaya berinfak (derwaman) bukanlah perkara mudah. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh Muslim yang memang memiliki motivasi akhirat yang tinggi dan pengetahuan yang dalam, serta keyakinan yang menghujam.

Dalam perkara ini, kita bisa bercermin pada Ikrimah. Ia adalah seorang mujahid yang mati-matian memburu syahid ketika bersama 400 pasukan Muslim menyerbu musuh dalam Perang Yarmuk.

Kala itu, pasukan yang dipimpin Abu Ubaidah terdesak oleh infanteri Bizantium dan serangan panahnya, sehingga terjadi sedikit kekacauan barisan di kalangan pasukan Muslim.

Saat itulah Ikrimah dan beberapa pasukan bertekad untuk terus menggempur puluhan ribu pasukan Bizantium. Sesaat sebelum merangsek menembus pasukan musuh, Ikrimah sempat berujar kepada Abu Ubaidah, “Aku sudah bertekad mati syahid, apakah Anda mempunyai pesan penting pada Rasulullah, bila aku menemuinya nanti?”

“Ya, katakanlah pada beliau, “Ya Rasulullah sesungguhnya kami telah menemukan bahwa apa yang dijanjikan Allah kepada kami memang benar!” Jawab Abu Ubaidah.

Seketika Ikrimah melaju ke arah pasukan musuh. Sekejap saja, bayangan Ikrimah telah hilang ditelah debu dan kerumunan pasukan yang mendentangkan besi-besi tajam. Ribuan benda-benda taam pun menguraikan darah dan berkelebat ke sana kemari. Ikrimah menderita luka serius di wajah dan dada.

Dalam kondisi luka parah itu, bersama dua sahabatnya, yaitu Suhail bin Amru dan Harits bin Hisyam, Ikrimah merasakan haus yang sangat.

Setelah datang seorang pasukan Muslim menghampiri ketiganya dengan membawakan air minum menuju Ikrimah, tiba-tiba Harits bin Hisyam, yang tidak lain adalah paman dari Ikrimah bersuara lirih, “haus…air minum….”

Ikrimah pun menolak air minum itu dan memerintahkan agar diberikan kepada pamannya, Harits bin Hisyam.

Tatkala air sudah hampir diminum oleh Harits bin Hisyam, terdengar suara rintihan kehausan dari sebelahnya. Harits pun memerintahkan air minum itu diberikan kepada sahabatnya terlebih dahulu, yaitu Suhail bin Amru.

Pasukan itu pun bergeser, menemui sahabat ketiga. Sayangnya, begitu pasukan pembawa air minum itu telah sampai kepada sahabat ketiga, ternyata Suhail telah syahid. Maka ia segera kembali kepada Harits bin Hisyam, ternyata ia juga telah syahid menghadap Allah.

Pasukan itu pun segera menemui Ikrimah, orang pertama yang hendak diberikan air minum, ternyata sang mujahid juga telah menghadap Allah SWT. Jadi, tiga sahabat itu tidak ada yang sempat minum air, padahal dirinya sangat membutuhkan. Dalam situasi seperti itu, orang-orang mulia itu masih sempat berpikir untuk orang lain dan mengutamakan mereka atas dirinya sendiri. Subhanallah.

Demikianlah Ikrimah, Harits, dan Suhail. Sosok Muslim yang memberikan gambaran gamblang tentang bagaimana ukhuwah Islamiyah yang sesungguhnya. Dan, ini adalah catatan emas dalam sejarah peradaban Islam.

Itulah ukhuwah yang harus kita teladani, sebuah ukhuwah (solidaritas) yang berhasil meruntuhkan ego-ego duniawi. Sebuah catatan yang tidak mungkin diulangi kecuali oleh mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Jadi, mari kita teladani Ikrimah, kita dahulukan saudara kita yang lain yang sangat berhajat daripada diri kita sendiri.

Salah satunya Allah sebutkan dalam Firman-Nya;

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Hai orang-orang yang beriman, maukah kalian Aku tunjukkan suatu perdagangan (jual-beli, transaksi) yang dapat menyelamatkan kalian dari dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui. Niscaya Allah mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘And. Itu lah kemenangan yang agung.” (QS: al-Ṣaff (61): 10-12).

Dengan kedermawanan, insya Allah kita bisa meraih kemuliaan dan kebahagiaan hakiki. Ayo saatnya“berjihad harta untuk Gaza dan Palestina”

Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s