Menjaharkan Dzikir Sesudah Shalat Fardhu Ternyata Sunnah.

Menjaharkan Dzikir Sesudah Shalat Fardhu Ternyata Sunnah!

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah dengan segala limpahan nikmat-nikmat-Nya yang zhahir maupun yang batin. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Berdzikir sesudah shalat merupakan sunnah yang sudah diamalkan dan dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hendaknya kita mengikuti beliau dalam amal ini dan mencontoh bagaimana beliau melaksanakannya.

Sebagian saudara kita (kaum muslimin) ada yang memandang bahwa dzikir sesudah shalat harus lirih, tidak boleh mengeraskannya karena bisa mengganggu orang di sekitarnya yang juga berdzikir atau mengganggu mereka yang sedang menyelesaikan shalatnya. Sehingga ketika ada ikhwan yang mengeraskan suara dzikir diingkari dan dianggap bid’ah. Bagaimana tatacara dzikir sesudah shalat yang sesuai sunnah? Apakah disunnahkan mengeraskannya atau melirihkannya? 

Dzikir setelah shalat merupakan ibadah yang sangat disunnahkan dan salah satu kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau juga melakukannya dengan suara keras. Dalam sahih Bukhari dan Muslim disebutkan pada Bab Dzikir setelah shalat, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

Sesungguhnya mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang usai melaksanakan shalat wajib merupakan kebiasaan yang berlaku pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas menambahkan, ‘Aku mengetahui mereka selesai shalat dengan itu, apabila aku mendengarnya.

Masih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

 كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيرِ

Aku megetahui selesainya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan takbir.” (HR. al-Bukhari)

Hadits-hadits di atas merupakan dalil tentang sunnahnya menjaharkan (mengeraskan) suara dzikir sesudah shalat. Dan ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengingkari dan melarangnya.

Ibnu Huzaiman memasukkan hadits di atas daam kitab Shahih-nya, dan memberinya judul, Bab: Raf’u al-Shaut bi al-Takbiir wa al-Dzikr ‘inda Inqidha’ al-Shalah (Bab: meninggikan (mengeraskan) suara takbir dan dzikir ketika selesai shalat (wajib).. hal ini menunjukkan bahwa beliau memahami bolehnya mengeraskan takbir dan dzikir sesudah shalat.

Ibnu Daqiq al-‘Id, juga menyatakan hal yang sama, “Dalam hadits ini, terdapat dalil bolehnya mengeraskan dzikir setelah shalat, dan takbir secara khusus termasuk dalam kategori dzikir.” (Ihkamul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam)

Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan, bahwa hadits ini adalah dalil bagi pendapat sebagian ulama salaf bahwa disunnahkan mengeraskan suara takbir dan dzikir sesudah shalat wajib. Dan di antara ulama muta’akhirin yang menyunahkannya adalah Ibnu Hazm al-Zahiri.

Sedangkan Imam al-Syafi’i rahimahullaah, memaknai hadits di atas dengan mengatakan, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan (dzikir sesudah shalat) hanya dalam waktu sementara saja untuk mengajari mereka tentang sifat dzikir, bukan mengeraskan terus menerus. Imam Syafi’i berpendapat agar imam dan makmum melirihkan dzikir kepada Allah Ta’ala sesudah shalat, kecuali kalau imam ingin agar makmum belajar darinya, maka dia mengeraskan dzikirnya sehingga ia melihat makmum telah belajar darinya, lalu melirihkannya.  Dan beliau memaknai hadits tersebut dengan ini. (Lihat Syarah Shahih Muslim lin Nawawi).

Berikut ini kami sertakan fatwa-fatwa para ulama tentang dzikir sesudah shalat:

1. Fatwa Syaikh Utsaimin rahimahullaah

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah ditanya tentang hukum menjaharkan dzikir sesudah shalat lima waktu dan bagaimana cara pelaksanaannya?

Beliau menjawab: Bahwa sesungguhnya menjaharkan dzikir sesudah shalat fardhu adalah sunnah. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari hadits Abdullah bin Abbasradhiyallahu ‘anhu menunjukkan sunnah tersebut, bahwa mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang selesai melaksanakan shalat fardhu telah ada pada masa Nabishallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,

كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

Dan aku tahu apabila mereka telah selesai dari shalat dengan itu, (yaitu) apabila aku mendengarnya.” (Hadits ini juga diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dawud. Hadits ini adalah salah satu dari hadits-hadits dalam al-‘Umdah).

Dalam Shahihain, dari hadits al-Mughirah bin Syu’bahradhiyallahu ‘anhu berkata, Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca apabila telah selesai shalat:

لَا إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

Tidak ada tuhan yang hak kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.” Al-hadits. Dia tidak akan mendengar dzikir ini kecuali jika orang yang berdzikir mengeraskannya.

Ibnu Taimiyah, para ulama salaf dan khalaf memilih menjaharkan dzikir sesudah shalat berdasarkan hadits Ibnu Abbas dan al-Mughirah radhiyallahu ‘anhum. Dan mengeraskan bacaan dzikir sesudah shalat disyariatkan baik saat membaca tahlil, tasbih, takbir, ataupun tahmid berdasarkan keumuman hadits Ibnu Abbas. Tidak didapatkan keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membedakan antara tahlil dan selainnya. Bahkan di dalam hadits Ibnu Abbas, mereka mengetahui selesainya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan takbir. Dengan ini terbantahkan pendapat orang bahwa tidak boleh jahar (keras) dalam membaca tasbih, tahmid, dan takbir.

Ibnu Taimiyah, para ulama salaf dan khalaf memilih menjaharkan dzikir sesudah shalat berdasarkan hadits Ibnu Abbas dan al-Mughirah radhiyallahu ‘anhum.

Dan mengeraskan bacaan dzikir sesudah shalat disyariatkan baik saat membaca tahlil, tasbih, takbir, ataupun tahmid berdasarkan keumuman hadits Ibnu Abbas.

Adapun orang yang berkata bahwa menjaharkan bacaan dzikir sesudah shalat adalah bid’ah, sungguh dia telah salah. Bagaimana sesuatu yang biasa dilaksanakan pada zaman Nabishallallahu ‘alaihi wasallam disebut bid’ah?!

Syaikh Sulaiman bin Sahman rahimahullaah berkata, “Hal itu ditetapkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari perbuatan dan taqrirnya. Para sahabat melaksanakan hal itu pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau mengajarkannya kepada mereka. Beliau menyetujui mereka atas hal itu sehingga mereka mengetahuinya dengan pengajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka. Mereka melaksanakan dan beliau menyetujui mereka di atas perbuatan tersebut setelah mengetahuinya, beliau tidak mencela mereka.”

Adapun alasan mengingkari dzikir jahar dengan firman Allah Ta’ala,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang,” (QS. Al-A’raf: 205). Maka kami jawab: Sesungguhnya Dzat yang memerintahkan menyebut nama Rabbnya (dzikir) dalam hati dengan merendahkan diri dan rasa takut adalah yang memerinthakan untuk menjaharkan dzikir sesudah shalat wajib. Apakah orang yang tersebut lebih mengetahui maksud Allah Ta’ala daripada Rasul-Nya? Atau ia meyakini bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammengetahui maksud Allah tapi beliau menyelisihinya. Kemudian ayat yang menyebutkan dzikir pada pagi hari dan sore hari bukan dzikir sesudah shalat lima waktu. Imam Ibnu katsirrahimahullaah dalam tafsirnya memahami makna jahar (keras) di sini dengan terlalu keras (berteriak-teriak).

Adapun yang mengingkari dzikir jahar ini dengan sabda Nabishallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai manusia kasihanilah diri kalian, karena kalian tidaklah berdoa kepada Dzat yang tuli…! (sampai akhir hadits)”. Maka bisa dijawab dengan mengatakan: Sesungguhnya orang yang menyabdakan hal itu, dia juga yang dulunya mengeraskan dzikir setelah shalat wajib ini. Itu berarti, tuntunan ini punya tempat sendiri, sedangkan yang itu juga ada tempatnya sendiri. Dan sempurnanya mengikuti sunnah beliau adalah dengan menempatkan semua nash yang ada pada tempatnya masing-masing.

Kemudian ungkapan dalam sabdanya, “Kasihanilah diri kalian,” menunjukkan bahwa para sahabat terlalu meninggikan suaranya sehingga menyukitkan dan memberatkan mereka. Karena sebab inilah beliau bersabda, “Kasihanilah diri kalian.” Maksudnya, berlemahlembutlah terhadap diri kalian dan jangan terlalu membebani diri kalian. Sedangkan menjaharkan dzikir sesudah shalat bukan termasuk kesulitan dan membebani.

Adapun orang yang mengatakan bahwa amalan itu bisa mengganggu orang lain, maka bisa dijawab dengan mengatakan padanya: Jika maksudmu akan mengganggu orang yang tidak biasa dengan hal itu, maka seorang mukmin jika sudah ada kejelasan bahwa hal itu merupakan sunnah, maka hal  (gangguan) itu akan hilang (dengan sendirinya). Jika maksudmu akan mengganggu jamaah lain yang masih shalat, maka jika jamaah tidak ada yang masbuq (terlambat) maka mengeraskan suara tersebut tidak akan mengganggu mereka sebagaimana fakta lapangan, karena mereka sama-sama mengeraskan dzikirnya. Jika ada yang masbuq dan sedang menyelasikan shalatnya, jika ia dekat denganmu sehingga bisa mengganggunya, maka jangan keraskan suara dzikir dengan tingkatan suara yang bisa mengganggunya, agar kamu tidak mengganggu shalatnya. Sedang jika ia jauh darimu, maka ia tak akan terganggu oleh suara keras dzikirmu yang keras.

Berdasarkan keterangan yang kami sebutkan, menjadi jelas bahwa mengeraskan dzikir setelah shalat wajib adalah sunnah. Hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan nash yang shahih maupun dengan penalaran yang jelas. Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar menganugerahkan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih kepada kita semua. sesungguhnya Dia itu maha dekat lagi maha mengabulkan doa. (Fatawa wa Rasail Ibni Utaimin, jilid 13)

Adapun orang yang berkata bahwa menjaharkan bacaan dzikir sesudah shalat adalah bid’ah, sungguh dia telah salah. Bagaimana sesuatu yang biasa dilaksanakan pada zaman Nabishallallahu ‘alaihi wasallamdisebut bid’ah?! (Syaikh Utsaimin)

Fatwa Syaikh Ibnu Bazz

Al-‘Allamah Ibnu Bazz pernah ditanya tentang sunnah dzikir sesudah shalat, mana yang sesuai sunnah, mengeraskan dzikir atau melirihkannya?

Beliau menjawab: Yang sunnah adalah menjaharkan dzikir sesudah shalat lima waktu dan sesudah shalat Jum’at ba’da salam. Hal itu didasarkan hadits dalam Shahihain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa mengeraskan suara dzikir sesudah manusia selesai melaksanakan shalat wajib sudah ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Abbas berkata, “Aku mengetahui kalau mereka sudah selesai shalat apabila aku mendengarnya.” (Kumpulan pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh Ibnu Bazz oleh Muhammad al-Syayi’)

Dalam Jawaban lain, beliau berkata: “Telah disebutkan dalam kitab shahihain, dari riwayatnya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Sesungguhnya mengeraskan dzikir saat selesai dari shalat wajib, itu telah ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Ibnu Abbas juga mengatakan: “Aku tahu selesainya shalat mereka itu, saat aku mendengar (suara dzikir) itu.”

Hadits shahih ini dan hadits-hadits semakna lainnya yang berasal dari hadits Ibnu Zubair, dan Al-Mughirah bin Syu’bahradhiyallahu ‘anhuma dan lainnya, semuanya menunjukkan disyariatkannya mengeraskan dzikir ketika orang-orang selesai shalat wajib, yang kira-kira sampai terdengar oleh orang-orang yang berada di pintu-pintu dan di sekitar masjid, sehingga mereka tahu selesainya shalat (jama’ah) dengan (kerasnya suara dzikir) itu. (Tapi) bagi orang yang didekatnya ada orang lain yang sedang menyelesaikan shalatnya, maka sebaiknya ia memelankan sedikit suaranya, agar tidak mengganggu mereka, karena adanya dalil-dalil lain yang menerangkan hal itu. Dalam tuntunan mengeraskan dzikir ketika para jamaah selesai shalat wajib ini, ada banyak manfaat, diantaranya: 1. Menampakkan pujian kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan mereka kenikmatan bisa menjalankan kewajiban yang agung ini. 2. Dan (Sebagai sarana untuk) mengajari orang yang jahil dan mengingatkan orang yang lupa. Jika saja tidak ada hal itu, tentunya sunnah ini akan jadi samar bagi banyak orang. Wallahu waliyyut taufiq.

Yang sunnah adalah menjaharkan dzikir sesudah shalat lima waktu dan sesudah shalat Jum’at ba’da salam.(Syaikh Ibnu Bazz)

Syaikh Shalih al-Fauzan

Beliau ditanya tentang menjaharkan doa dan dzikir secara umum, dan sesudah shalat secara khusus? Apakah doa dan dzikir itu dengan keras, lirih, atau di antara keduanya?

Beliau menjawab, “Doa yang dicontohkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang disyari’atkan, seseorang diberi pilihan antara menjaharkannya atau melirihkannya. Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al-a’raf: 55) Dan Allah Subhanahu wa Ta’alamengetahui yang lirih dan tersembunyi. Engkau boleh berdoa dengan keras dan lirih, kecuali apabila menjaharkannya bisa mengganggu orang disekitarmu; yang tidur, shalat, atau yang sedang membaca Al-Qur’an al-Karim, maka engkau harus melirihkan suaramu. Atau apabila kamu takut tumbuh riya’ dan sum’ah dalam dirimu, maka engkau lirihkan suaramu dalam berdoa, karena hal ini lebih bisa menjadikan ikhlas.

Perlu diperhatikan, bahwa mengeraskan di sini bukan dengan suara bersama-sama (koor), sebagaimana yang dilakukan sebagian orang. Setiap orang berdoa untuk dirinya dengan lirih dan keras. Adapun berdoa dengan berjama’ah (bersama-sama), maka termasuk bid’ah.

Sedangkan dzikir sesudah shalat, maka yang sunnah adalah menjaharkannya sesuai dengan hadits-hadits shahih yang menyebutkan bahwa para sahabat menjaharkan dzikir sesudah shalat; tahlil dan ihtighfar sesudah salam sebanyak tiga kali, lalu membaca:

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

sampai akhir dari dzikir-dzikir yang dicontohkan, maka membacanya dengan keras. Tapi dengan sendiri-sendiri, bukan dengan berjamaah (bersama-sama) sebagaimana yang kami sebutkan di awal. Dzikir berjama’ah ini termasuk perkara bid’ah (yang diada-adakan). Setiap orang berdzikir sendiri-sendiri dan mengeraskannya sesudah shalat.” (al-Muntaqa’ min Fatawa al-Fauzan: Juz 3).

Sedangkan dzikir sesudah shalat, maka yang sunnah adalah menjaharkannya sesuai dengan hadits-hadits shahih . . .(Syaikh  Shalih Fauzan)

Fatwa Lajnah Daimah

Disyariatkan untuk mengeraskan dzikir setelah shalat wajib, karena adanya keterangan yang shahih dari hadits Ibnu Abbasradhiyallahu ‘anhu, (ia mengatakan): “Sesungguhnya mengeraskan dzikir saat selesai dari shalat wajib, itu telah ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “. Ibnu Abbas juga mengatakan: “Aku tahu selesainya shalat mereka itu, saat ku dengar (suara dzikir) itu”.

(Mengeraskan dzikir setelah shalat wajib tetap disunnahkan), meski ada orang-orang yang masih menyelesaikan shalatnya, baik mereka itu (menyelesaikan shalatnya secara) sendiri-sendiri atau dengan berjama’ah. Dan hal itu (yakni mengeraskan dzikir) disyariatkan pada semua shalat wajib yang lima waktu.

Adapun mengeraskan doa dan membaca Al-Qur’an secara jama’i (bersama-sama),  maka hal ini tidak pernah ada tuntunannya dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, maupun dari para sahabat beliau. (Oleh karena itu), perbuatan itu termasuk bid’ah.

Adapun jika ia berdoa untuk dirinya sendiri, atau membaca Quran sendiri dengan suara tinggi, maka hal itu tidak mengapa, asal tidak mengganggu orang lain.”

Penutup

Dari hadits dan penjelasan ulama di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mengeraskan bacaan dzikir sesudah shalat wajib adalah sunnah. Ini merupakan petunjuk yang dzahir dan sharih dari teks hadits dalam Shahihain. Walaupun ada pendapat sebagian ulama –seperti imam Syafi’i, Imam Nawawi dan Syaikh Al-Albani- yang melarang menjaharkannya dan membawa makna hadits di atas sebagai pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya, jadi dilaksanakan hanya temporar dan tidak terus menerus. Jika tidak ada tujuan seperti itu maka dianjurkan untuk melirihkannya.

Pendapat yang menganjurkan untuk mengeraskan dzikir sesudah shalat sesuai dengan dzahir hadits. Maka, sebagaimana kaidah Ushul Fiqih bahwa makna dzahir harus lebih didahulukan dan diamalkan sehingga ada dalil kuat lainnya yang me-nasakh-nya, atau men-takhshish-nya atau men-takwil-nya. Dan tidak didapatkan adanya dalil kuat yang menerangkan, bahwa dikeraskannya dzikir setelah shalat wajib itu hanya untuk sementara waktu saja. Wallahu Ta’ala a’lam.

[PurWD/voa-islam.com]

2 responses to “Menjaharkan Dzikir Sesudah Shalat Fardhu Ternyata Sunnah.

  1. Maaf saudara penulis. Saya baru belajar tentang Sunnah. Karenanya mohon penjelasan lebih rinci karena saya malah menemukan hal yang bertentangan dengan tulisan antum diatas. Dalam shahih Muslim ttg doa dan dzikir nomor shahih 4873 seperti yang juga antum bahas diatas, kita malah dianjurkan merendahkan suara. Sunnah yang dipakai antum dalam tulisan diatas apakah memang sudah jelas kesahihannya. Tolong dijelaskan lagi riwayat perawi-perawinya dan nomor kesahihan haditsnya. terima kasih, jazakumullah.

  2. حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو قَالَ أَخْبَرَنِي بِذَا أَبُوْ مَعْبَدٍ ثُمَّ أَنْكَرَهُ بَعْدُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:

    كُنَّا نَعْرِفُ اِنْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيْرِ

    120 – (583)

    Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari ’Amru, dia berkata; Abu Ma’bad pernah mengabariku dengan ini, namun setelah itu ia memungkirinya, dari Ibnu Abbas Radhiyallaahu ‘anhu , dia berkata:

    Kami pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah shalat beliau mengakhirinya dengan takbir.

    (Shahih Muslim 583-120)

    حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِيْنَارٍ عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ سَمِعَهُ يُخْبِرُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:

    مَا كُنَّا نَعْرِفُ اِنْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ بِالتَّكْبِيْرِ قَالَ عَمْرٌو فَذَكَرْتُ ذَلِكَ ِلأَبِي مَعْبَدٍ فَأَنْكَرَهُ وَقَالَ لَمْ أُحَدِّثْكَ بِهَذَا قَالَ عَمْرٌو وَقَدْ أَخْبَرَنِيْهِ قَبْلَ ذَلِكَ

    121 – (583)

    Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari ’Amru bin Dinar dari Abu Ma’bad mantan budak Ibnu Abbas, bahwa dia pernah mendengar Abu Ma’bad mengabarkan dari Ibnu Abbas Radhiyallaahu’anhu katanya:

    Kami tidak mengetahui usai shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selain dengan takbir. ’Amru mengatakan; kemudian aku sebutkan kepada Abu Ma’bad, namun dia memungkirinya seraya berujar: Aku belum pernah menceritakan kepadamu seperti ini. Kata ‘Amru; Padahal sebelum itu, sungguh ia pernah mengabariku tentang hal itu.

    (Shahih Muslim 583-121)

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ ح وَحَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُوْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِيْنَارٍ أَنَّ أَبَا مَعْبَدٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ:

    أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ قَالَ قَالَ اِبْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا اِنْصَرَفُوْا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعَهُ

    122 – (583)

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibn Juraij katanya: (Dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur dan lafadz darinya, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibn Juraij telah mengabarkan kepadaku ’Amru bin Dinar, bahwa Abu Ma’bad mantan budak Ibn Abbas mengabarinya, bahwa Ibn Abbas Radhiyallaahu’anhu pernah mengabarinya:

    Bahwa mengeraskan suara dzikir sehabis shalat wajib, pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. kata Abu Ma’bad; Ibn Abbas mengatakan; Akulah yang paling tahu tentang hal itu, ketika mereka telah selesai (mengerjakan shalat), kalau dia pernah mendengarnya.

    (Shahih Muslim 583-122)

    حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ عَنِ اْلأَوْزَاعِيِّ عَنْ أَبِي عَمَّارٍ اِسْمُهُ شَدَّادُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ:

    كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِنْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اِسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا وَقَالَ اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيْدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ اْلاِسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُوْلُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ

    135 – (591)

    Telah menceritakan kepada kami Dawud bin Rusyaid telah menceritakan kepada kami Al Walid dari Auza’i dari Abu ‘Ammar namanya Syaddad bin Abdullah dari Abu Asma`dari Tsauban dia berkata:

    Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat, beliau akan meminta ampunan (membaca istighfar) tiga kali dan memanjatkan doa ALLOOHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKASSALAAM TABAARAKTA DZAL JALAALI WAL IKROOM (Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan. Kata Walid: maka kukatakan kepada Auza’i. Lalu bagaimana cara meminta ampunan? Jawabnya: Engkau ucapkan saja Astaghfirullah, Astaghfirullah.

    (Shahih Muslim 591-135)

    حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ:

    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ إِلاَّ مِقْدَارَ مَا يَقُوْلُ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ نُمَيْرٍ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

    136 – (592)

    وَحَدَّثَنَاه ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ خَالِدٍ يَعْنِي اَلأَحْمَرَ عَنْ عَاصِمٍ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ وَقَالَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ

    (592)

    وحَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ وَخَالِدٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ كِلاَهُمَا عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

    (592)

    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari ’Ashim dari Abdullah bin Harits dari ’Aisyah Radhiyallaahu’anhu , dia berkata:

    Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam, beliau tidak duduk selain seukuran membaca bacaan ALLOOHUMMA ANTAS SALAAM, WAMINKAS SALAAM, TABAARAKTA DZAL JALAALI WAL IKROOMI (Ya Allah, Engkau adalah Dzat Pemberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan).

    Dan dalam riwayat Ibn Numair disebutkan YA DZAL JALAALI WAL IKROOMI (Wahai Dzat pemilik kebesaran dan kemuliaan).

    (Shahih Muslim 592-136)

    Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Abu Khalid yaitu Al Ahmar dari ’Ashim dengan isnad ini, yaitu beliau bersabda dengan redaksi YA DZAL JALAALI WAL IKROOMI (Wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan).

    (Shahih Muslim 592)

    Dan telah menceritakan kepada kami Abdul Warits bin Abdusshamad telah menceritakan kepadaku bapakku dari Syu’bah dari ’Ashim dari Abdullah bin Al Harits dan Khalid dari Abdullah bin Al Harits keduanya dari ‘Aisyah Radhiyallaahu’anha :

    Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana di atas. Hanya saja dengan tambahan redaksi YA DZAL JALAALI WAL IKROOMI (Wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan).

    (Shahih Muslim 592)

    حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا جَرِيْرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنِ الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ وَرَّادٍ مَوْلَى الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ كَتَبَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ إِلَى مُعَاوِيَةَ:

    أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ اَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

    137 – (593)

    وَحَدَّثَنَاه أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُوْ كُرَيْبٍ وَأَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنِ الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ وَرَّادٍ مَوْلَى الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنِ الْمُغِيْرَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ وَأَبُوْ كُرَيْبٍ فِي رِوَايَتِهِمَا قَالَ فَأَمْلاَهَا عَلَيَّ الْمُغِيْرَةُ وَكَتَبْتُ بِهَا إِلَى مُعَاوِيَةَ

    (593)

    و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ أَخْبَرَنَا اِبْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَبْدَةُ بْنُ أَبِي لُبَابَةَ أَنَّ وَرَّادًا مَوْلَى الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ:

    كَتَبَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ إِلَى مُعَاوِيَةَ كَتَبَ ذٰلِكَ الْكِتَابَ لَهُ وَرَّادٌ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِينَ سَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيْثِهِمَا إِلاَّ قَوْلَهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْ

    (593)

    و حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ عُمَرَ الْبَكْرَاوِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرٌ يَعْنِي اِبْنَ الْمُفَضَّلِ قَالَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي أَزْهَرُ جَمِيْعًا عَنِ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ عَنْ وَرَّادٍ كَاتِبِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الْمُغِيْرَةِ بِمِثْلِ حَدِيْثِ مَنْصُوْرٍ وَاْلأَعْمَشِ

    (593)

    Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Jarir dari Manshur dari Musayyab bin Rafi’ dari Warrad mantan budak Mughirah bin Syu’bah , dia berkata:

    Mughirah bin Syu’bah pernah berkirim surat kepada Muawiyah, bahwa apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat dan mengucapkan salam, beliau memanjatkan doa: LAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR, ALLOOHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU (Tiada sesembahan selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, dan akan bermanfaat kekayaan seorang kaya kecuali atas kehendak-Mu).

    (Shahih Muslim 593-137)

    Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib dan Ahmad bin Sinan mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari Al A’masy dari Musayyab bin Rafi’ dari Warrad mantan budak Mughirah bin Syu’bah dari Al Mughirah dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam seperti hadits di atas. Abu Bakar dan Abu Kuraib berkata dalam riwayatnya; Lalu Mughirah mendiktekannya kepadaku dan aku tulis untuk Muawiyah.

    (Shahih Muslim 593)

    Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abdah bin Abu Lubabah, bahwa Warrad mantan budak Mughirah bin Syu’bah mengatakan:

    Mughirah bin Syu’bah berkirimsuratkepada Mu’awiyah. Yang menulissurattersebut adalah Warrad, (bunyinya) aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seusai mengucapkan salam mengucapkan… seperti hadis keduanya, hanya ia tidak menyebutkan sabdanya WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR.

    (Shahih Muslim 593)

    Dan telah menceritakan kepada kami Hamid bin Umar Al Bakrawi telah menceritakan kepada kami Bisyr yaitu Ibnu Mufadldlal katanya, (Diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepadaku Azhar, semuanya dari Ibnu ‘Aun dari Abu Sa’id dari Warrad sekretaris Mughirah bin Syu’bah, katanya; Muawiyah berkirim surat kepada Mughirah … seperti hadis Manshur dan Al A’masy.

    (Shahih Muslim 593)

    وَحَدَّثَنَا اِبْنُ أَبِي عُمَرَ اَلْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ أَبِي لُبَابَةَ وَعَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ سَمِعَا وَرَّادًا كَاتِبَ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ يَقُولُ:

    كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الْمُغِيْرَةِ اُكْتُبْ إِلَيَّ بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَكَتَبَ إِلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ اَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

    138 – (593)

    Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar Al Makki telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami ’Abdah bin Abu Lubabah dan Abdul Malik bin Umair, keduanya mendengar Warrad juru tulis Mughirah bin Syu’bah berkata:

    Muawiyah berkirimsuratkepada Mughirah, katanya: Tulislah untukku sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!. Lantas Mughirah menulis untuknya: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seusai shalat memanjatkan doa: LAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIRUN, ALLOOHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU (Tiada Tuhan (yang berhak untuk disembah) selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, akan bermanfaat kekayaan seorang kaya kecuali atas kehendak-Mu).”

    (Shahih Muslim 593-138)

    وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ:

    كَانَ اِبْنُ الزُّبَيْرِ يَقُوْلُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ حِينَ يُسَلِّمُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَقَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ

    139 – (594)

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Abu Zubair katanya:

    Seusai shalat setelah salam, Ibnu Zubair sering memanjatkan do’a: LAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIRUN, LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHI, LAA ILAAHA ILALLOOHU WALAA NA’BUDU ILLAA IYYAAHU, LAHUN NI’MATU WALAHUL FADHLU WALAHUTS-TSANAA’UL HASANU, LAA ILAAHA ILLALLOOHU MUKHLISHIINA LAHUDDIINA WALAU KARIHAL KAAFIRUUNA. (Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya selaga puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, Hanya milik-Nya lah segala keni’matan, milik-Nya lah keutamaan dan milik-Nya lah pujian yang baik. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, hanya bagi-Nya ketundukan, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengeraskan suara dengan kalimat ini setiap selesai shalat.

    (Shahih Muslim 594-139)

    وَحَدَّثَنَاه أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ مَوْلًى لَهُمْ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ يُهَلِّلُ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ بِمِثْلِ حَدِيْثِ اِبْنِ نُمَيْرٍ وَقَالَ فِي آخِرِهِ ثُمَّ يَقُوْلُ اِبْنُ الزُّبَيْرِ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ

    140 – (594)

    Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Abu Sulaiman dari Hisyam bin ‘Urwah dari Abu Zubair mantan budak mereka, bahwa Abdullah bin Zubair biasa bertahlil (membaca dengan suara keras) sehabis shalat dengan seperti hadis Ibnu Numair, dan di akhir beliau berkata. Kemudian Ibnu Zubair mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan suaranya dengan kalimat ini sehabis shalat.

    (Shahih Muslim 594-140)

    وحَدَّثَنِي يَعْقُوْبُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ اَلدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ حَدَّثَنِي أَبُوْ الزُّبَيْرِ قَالَ:

    سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ يَخْطُبُ عَلَى هٰذَا الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا سَلَّمَ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ أَوِ الصَّلَوَاتِ فَذَكَرَ بِمِثْلِ حَدِيْثِ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ

    (594)

    Dan telah menceritakan kepadaku Ya’kub bin Ibrahim Ad Dauraqi telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj bin Abu Usman telah menceritakan kepadaku Abu Zubair katanya:

    Aku mendengar Abdullah bin Zubair berkhutbah diatas mimbar ini seraya berkata: Apabila Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai salam yaitu sehabis shalat, atau beberapa shalat… lalu ia menyebutkan seperti hadis Hisyam bin ‘Urwah.

    (Shahih Muslim 594)

    و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ أَنَّ أَبَا الزُّبَيْرِ الْمَكِّيَّ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ وَهُوَ يَقُوْلُ فِي إِثْرِ الصَّلاَةِ إِذَا سَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيْثِهِمَا وَقَالَ فِي آخِرِهِ وَكَانَ يَذْكُرُ ذَلِكَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    141-(594)

    Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Salamah Al Muradi telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Yahya bin Abdullah bin Salim dari Musa bin ‘Uqbah, bahwa Abu Az Zubair Al Makki menceritakan bahwa ia mendengar Abdulah bin Zubair mengatakan, Yaitu Seusai shalat setelah mengucapkan salam, seperti hadis keduanya. Dan ia katakan di akhir haditsnya. Abu Zubair selalu membaca bacaan ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

    (Shahih Muslim 594-141)

    حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ النَّضْرِ التَّيْمِيُّ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ قَالَ ح وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ كِلاَهُمَا عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهَذَا حَدِيْثُ قُتَيْبَةَ:

    أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِيْنَ أَتَوْا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيْمِ الْمُقِيْمِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوْا يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُوْنَ وَلاَ نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُوْنَ وَلاَ نُعْتِقُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلاَ أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُوْنَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُوْنَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلاَ يَكُوْنُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ قَالُوْا بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ تُسَبِّحُوْنَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُوْنَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ مَرَّةً

    قَالَ أَبُوْ صَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِيْنَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ اْلأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوْا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَزَادَ غَيْرُ قُتَيْبَةَ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ عَنِ اللَّيْثِ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ قَالَ سُمَيٌّ فَحَدَّثْتُ بَعْضَ أَهْلِي هَذَا الْحَدِيْثَ فَقَالَ وَهِمْتَ إِنَّمَا قَالَ تُسَبِّحُ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَتَحْمَدُ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَتُكَبِّرُ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ فَرَجَعْتُ إِلَى أَبِي صَالِحٍ فَقُلْتُ لَهُ ذَلِكَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَقَالَ اَللهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ اَللهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ حَتَّى تَبْلُغَ مِنْ جَمِيْعِهِنَّ ثَلاَثَةً وَثَلاَثِيْنَ قَالَ اِبْنُ عَجْلاَنَ فَحَدَّثْتُ بِهَذَا الْحَدِيْثِ رَجَاءَ بْنَ حَيْوَةَ فَحَدَّثَنِي بِمِثْلِهِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    142 – (595)

    Telah menceritakan kepada kami Ashim bin Nadhir At Tamimi telah menceritakan kepada kami Al Mu’tamir telah menceritakan kepada kami ’Ubaidullah dia berkata ( Dan diriwayatkan dari jalur lain ) telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits dari Ibn ‘Ajlan , keduanya dari Sumay dari Ibnu Shalih dari Abu Hurairah Radhiyallaahu’anhu -dan ini adalah hadis Qutaibah- :

    Bahwa orang-orang fakir Muhajirin menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata: Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Maksud kalian? Mereka menjawab: Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa memerdekakan budak dan kami tidak bisa melakukannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang karenanya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kalian dan yang dapat membuat kalian mendahului orang-orang yang sesudah kalian? dan tak seorang pun lebih utama dari pada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan? Mereka menjawab: Baiklah wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Kalian baca tasbih (subhaanallooh) , takbir (Alloohu Akbar), dan tahmid (Alhamdu lillah) setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.

    Abu shalih berkata: Tidak lama kemudian para fuqara’ Muhajirin kembali ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Itu adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya! Dan selain Qutaibah menambahkan dalam hadis ini dari Al Laits dari Ibn ‘Ajlan. Sumay mengatakan: Lalu aku ceritakan hadits ini kepada beberapa keluargaku, maka keluargaku berkata: Engkau salah, yang benar beliau bersabda: Engkau bertasbih kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, bertakbir kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali. Aku lalu kembali menemui Abu Shalih dan aku katakan kepadanya, Abu Shalih menarik tanganku dan berkata: Allahu akbar- subhanallah- Alhamdulillah, Allahu akbar, subhanallah, Alhamdulillah, sehingga sampai berjumlah tiga puluh tiga. Kata Ibn ‘Ajlan; Lalu kuceritakan hadis ini kepada Raja` bin Haiwah, ia menceritakan kepadaku hadits seperti di atas dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

    (Shahih Muslim 595-142)

    و حَدَّثَنِي أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامَ الْعَيْشِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا رَوْحٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيْمِ الْمُقِيْمِ بِمِثْلِ حَدِيْثِ قُتَيْبَةَ عَنِ اللَّيْثِ إِلاَّ أَنَّهُ أَدْرَجَ فِي حَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ قَوْلَ أَبِي صَالِحٍ ثُمَّ رَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِيْنَ إِلَى آخِرِ الْحَدِيْثِ وَزَادَ فِي الْحَدِيْثِ يَقُوْلُ سُهَيْلٌ إِحْدَى عَشْرَةَ إِحْدَى عَشْرَةَ فَجَمِيْعُ ذَلِكَ كُلِّهِ ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُوْنَ

    143 – (595)

    Dan telah menceritakan kepadaku Umayyah bin Bustham Al ‘Aisyi, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Rauh dari Suhail dari Ayahnya dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa para sahabat berkata; Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong derajat tinggi dan kenikmatan yang tiada habis… seperti hadis Qutaibah dari Al Laits, hanya ia memudrajkan ucapan Abu Shalih dalam hadits Abu Hurairah “Kemudian orang faqir muhajirin kembali, hingga akhir hadits”. Dalam hadis itu ia tambahkan, Suhail mengatakan; Sebelas sebelas, hingga semuanya berjumlah tiga puluh tiga.

    (Shahih Muslim 595-143)

    وَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عِيْسَى أَخْبَرَنَا اِبْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ قَالَ سَمِعْتُ الْحَكَمَ بْنَ عُتَيْبَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

    مُعَقِّبَاتٌ لاَ يَخِيْبُ قَائِلُهُنَّ أَوْ فَاعِلُهُنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ ثَلاَثٌ وَثَلاَثُوْنَ تَسْبِيْحَةً وَثَلاَثٌ وَثَلاَثُوْنَ تَحْمِيْدَةً وَأَرْبَعٌ وَثَلاَثُوْنَ تَكْبِيْرَةً

    144 – (596)

    Dan telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Isa telah mengabarkan kepada kami Ibnul Al Mubarak telah mengabarkan kepada kami Malik bin Mighwal katanya: Aku mendengar Al Hakam bin ‘Utaibah menceritakan dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ka’ab bin ‘Ujrah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

    Beberapa amalan penyerta, siapa saja yang mengucapkan dan mengamalkannya, maka dirinya tidak akan merugi, yaitu mengucapkan tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh empat kali setiap usai shalat wajib.

    (Shahih Muslim 596-144)

    حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيِّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُوْ أَحْمَدَ حَدَّثَنَا حَمْزَةُ الزَّيَّاتُ عَنِ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مُعَقِّبَاتٌ لاَ يَخِيْبُ قَائِلُهُنَّ أَوْ فَاعِلُهُنَّ ثَلاَثٌ وَثَلاَثُوْنَ تَسْبِيْحَةً وَثَلاَثٌ وَثَلاَثُوْنَ تَحْمِيْدَةً وَأَرْبَعٌ وَثَلاَثُوْنَ تَكْبِيْرَةً فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ

    145 – (596)

    Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdاami telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Hamzah Az Zayat dari Al Hakam dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ka’ab bin ‘Ujrah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

    Ada amalan penyerta, siapa yang mengucapkan dan melakukannya, maka dirinya tidak akan merugi, yaitu mengucapkan tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid dan tiga puluh empat kali takbir setiap kali sehabis shalat.

    (Shahih Muslim 596-145)

    حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا أَسْبَاطُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ اَلْمُلاَئِيُّ عَنِ الْحَكَمِ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ مِثْلَهُ

    (596)

    Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim, telah menceritakan kepada kami Asbath bin Muhammad telah menceritakan kepada kami ’Amru bin Qais Al Mula’i dari Al Hakam dengan isnad seperti ini.

    (Shahih Muslim 596)

    حَدَّثَنِي عَبْدُ الْحَمِيْدِ بْنُ بَيَانٍ الْوَاسِطِيُّ أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ الْمَذْحِجِيِّ قَالَ مُسْلِمٌ أَبُوْ عُبَيْدٍ مَوْلَى سُلَيْمَانَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيْدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِدَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَكَبَّرَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

    146 – (597)

    Telah menceritakan kepadaku Abdul Hamid bin Bayan Al Wasithi telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Abdullah dari Suhail dari Abu ‘Ubaid Al Madzhiji. -Muslim menjelaskan bahwa Abu Ubaid adalah mantan budak Sulaiman bin Abdul Malik- dari’Atha` bin Yazid Al Laitsi dari Abu Hurairah Radhiyallaahu’anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

    Barangsiapa bertasbih kepada Allah sehabis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali, dan bertakbir kepada Allah tiga puluh tiga kali, hingga semuanya berjumlah sembilan puluh sembilan, -dan beliau menambahkan- dan kesempurnaan seratus adalah membaca Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiirun, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan.

    (Shahih Muslim 597-146)

    وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيْلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ

    (597)

    Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shabah telah menceritakan kepada kami Ismail bin Zakariya dari Suhail dari Abu ‘Ubaid dari Atha` dari Abu Hurairah Radhiyallaahu’anhu dia berkata:

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda seperti hadits di atas.

    (Shahih Muslim 597)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s