HADATS KECIL DAN MEMBACA/MENYENTUH AL-QURAN

PENGERTIAN HADATS KECIL

Sesuatu yang menghalangi seseorang untuk melakukan shalat dan dia wajib wudhu bila hendak sholat.

A. MENYENTUH AL-QUR’AN BAGI ORANG YANG BERHADATS KECIL.

Didalam masalah ini ulama berbeda faham dalam menetapkan hukumnya.

Pendapat Golongan Pertama :

Mereka berpendapat bahwa hukumnya “Haram” dengan dasar-dasar :

لاَ يَمَسُّهُ اِلاَّ الْمُطَهَّرُوْنَ

  1. Tidak menyentuhnya (Al-Qur’an) melainkan orang yang suci. [Al-Waqiah : 79]

لاَيَمَسُّ الْقُرْءَانَ اِلاَّ طَاهِرٌ

  1. Tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang thohir/suci [HR Daruquthni, Hakim, Baihaqi dari Amr bin Hazm]

قَالَ حَكِيْمُ بْنُ حِزَامٍ: لَمَّا بَعَثَنِى رَسُوْلُ اللهِ ص. إِلَى الْيَمَنِ الطبرنى

  1. Hakim bin Hizam berkata : Ketika Rasulullah SAW mengutus saya ke Yaman, beliau berpesan : Janganlah sekali-kali engkau menyentuh Al-Qur’an kecuali apabila engkau thohir/suci.

Pendapat Golongan Kedua :

Mereka berpendapat bahwa hukumnya boleh dan tidak terlarang, dan mereka menyanggah dasar-dasar pendapat golongan pertama sebagai berikut :

1.    Firman Allah di surat Al-Waqiah 79 itu bila dilihat dari sebab turun serta rangkaian ayat sebelum dan sesudahnya adalah merupakan penolakan dari Allah kepada tuduhan orang kafir, yang menuduh bahwa Al-Qur’an itu diturunkan oleh syetan. Maka dengan ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu di tempat yang terpelihara dan tidak menyentuhnya melainkan makhluq suci (para malaikat)

إِنَّهُ لَقُرْءَانٌ كَرِيْمٌ.فِى كِتَابٍ مَّكْنُوْنٍ. لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُنَ. تَنْزِلٌ مِّنْ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia. (Yang terdapat) pada kitab yang terpelihara (Lauhil Mahfuz). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. [Al-Waqiah : 77-80]

Sedang bila dilihat dari kandungan dan makna ayat tersebut, maka maksudnya sebagai berikut :

“Tidak akan tersentuh oleh makna dan pengertian yang sebenarnya dari Al-Qur’an, kecuali orang-orang yang telah disucikan hatinya/jiwanya dari gejolak hawa nafsunya”

Keterangan ini diperkuat dengan firman Allah SWT yang merupakan gambaran sifat hawa nafsu, firman-Nya di surat Yusuf 53 :

إِنَّ النَّفْسَ لاَءَمَّرَةٌ بِالسُّوْءِ

“Sesungguhnya hawa nafsu itu cenderung kepada kejahatan”

Dan juga sabda Nabi SAW :

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتــَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًالِمَا جِئــْتُ بـــِهِ – الترمذى

“Tidak beriman seorang diantara kamu sehingga hawa nafsunya mau tunduk dengan apa yang datang bersamaku (Al-Qur’an)” [HR Tirmidzi]

2.    Hadits kedua yang dipakai sebagai hujjah golongan pertama adalah lemah. Demikian pula hadits ketiga, karena kedua-duanya dalam isnadnya terdapat seorang yang bernama : Suwaid Abu Hatim, yang dilemahkan oleh imamimam Bukhari, Nasa’I, Abu Zar’ah, dan kata Ibnu Hibban : “Dia kerap kali meriwayatkan hadits-hadits palsu”. Maka hadits ‘Amr bin Hazm serta Hakim bin Hizam itu dilemahkan oleh Imam Ibnu Hazm, Nasa’I, Ibnu Katsir dan Syekh Muhyiddin.

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Daruquthni dan Thabarani dari jalan Ibnu ‘Umar yang menurut Imam Al Hafidh bin Hajar Atsqalani di kitabnya Talkhisul Kabir, isnadnya boleh diterima. Tetapi pendapat ini tidak benar, karena sebenarnya dalam isnad hadits tersebut terdapat seorang bernama Sulaiman bin Musa Al-Asydaq yang menjadi pembicaraan diantara para ahli hadits tentang kelemahannya, maka menurut ilmu hadits berlaku qo’idah :

اَلْجُرْحُ مُقَدَّمٌ عَلَى التـــَّعْدِيْلِ

“Celaan itu lebih baik didahulukan dari pada pujian”

Oleh karena itu hadits tersebut tidak dapat dipakai hujjah.

Demikian pula diriwayatkan dari Utsman bin Abil Ash oleh Imam Abu Dawud tetapi isnadnya munqathi’ (terputus). Sedang hadits yang sama yang diriwayatkan oleh Imam Thabarani dalam isnadnya ada seorang yang tidak dikenal, dan juga riwayat Ali bin Abdul ‘Aziz dari Tsauban pada isnadnya terdapat Hashib bin Jahdar, padahal dia itu tidak dipercaya riwayatnya oleh ahli hadits.

Imam Malik meriwayatkan hadits tadi dari Abdullah bin Abu Bakar, seorang tabi’in, maka riwayatnya Mursal.

B. MEMBACA AL-QUR’AN BAGI ORANG YANG BERHADATS KECIL.

Demikian pula masalah membaca Al-Qur’an bagi orang yang berhadats kecil. Karena tidak adanya larangan yang jelas dan kuat dari nabi, maka tidak mengapa bagi seorang yang berhadats kecil untuk membaca Al-Qur’an.

CATATAN :

Surat Al-Waqiah ayat 79 : Tidak menyentuhnya (Al-Qur’an) melainkan orang yang suci.  bukan dimaknai secara harfiah. Tapi sesuai dengan ayat sebelum dan sesudahnya, maka semestinya dimaknai bahwa isi kandungan yang terdapat di dalam Al-Quran itu akan menyentuh hati dan jiwa pembaca/pendengarnya sehingga menggerakkan diri untuk merealisasikan dalam tindakan yang nyata apabila orang tersebut mau menyingkirkan hatinya dari kebencian, kedengkian, kecurigaan atas Islam. Bila sebelumnya sudah ada sikap menolak, atau benci, maka bacaan apapun tidak akan masuk ke relung hati dan jiwa, justru akan menambah permusuhan. Mengapa? Karena dia mendahulukan hawa nafsu atau sudah terjerat oleh motif2 duniawi. Bila demikian, jelas bahwa Al-Quran itu tidak akan menyentuh diri pembaca/pendengar yang dia tidak mau membersihkan/mensucikan pikirannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s