Jum’at : Jumlah Dalam Menegakkan Shalat Jum’at, Kapan Dianggap Mendapatkan Shalat.

SHALAT JUM’AT DALAM PANDANGAN FIQH

Oleh
Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi

JUMLAH YANG DISYARATKAN DALAM MENEGAKKAN SHALAT JUM’AT
Shalat Jum’at dilakukan secara berjama’ah dan tidak sah bila dilakukan
secara sendirian. Para ulama berselisih tentang jumlah minimal orang
yang menghadiri shalat Jum’at, terbagi menjadi beberapa pendapat.

Pertama : Tidak diadakan, kecuali minimal 40 orang dari orang yang
diwajibkan shalat Jum’at. Demikian ini pendapat madzhab Malik, Syafi’i
dan yang masyhur dalam madzhab Ahmad, dand diriwayatkan dari Umar bin
Abdul Aziz dan Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah.

Dalilnya sebagai berikut:

– Hadits Ka’ab bin Malik:

أَسْعَدُ بْنِ زُرَارَةَ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِي هَزْمِ النَّبِيتِ
مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ فِي نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ
الْخَضَمَاتِ قُلْتُ كَمْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعُون

“As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at
bagi kami di daerah Hazmi An Nabit dari harrah Bani Bayadhah di daerah
Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat. Saya bertanya kepadanya:
“Waktu itu, kalian berapa?” Dia menjawab,”Empat puluh.”[30]

– Hadits Jabir yang berbunyi:

مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِيْ كُلِّ أَرْبَعِينَ فَمَا فَوْقَهَا جُمْعَةٌ

“Telah lalu Sunnah, bahwa setiap empat puluh orang ke atas diwajibkan
shalat Jum’at.”[31]

Kedua : Tidak sah diadakan, kecuali terdapat limapuluh orang. Demikian
ini salah satu riwayat Imam Ahmad dengan hujjah:

– Hadits Abu Umamah, ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam :

عَلَى الْخَمْسِيْنَ جُمْعَةٌ وَلَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ ذَلِكَ

“Diwajibkan Jum’at pada lima puluh orang dan tidak diwajibkan pada di
bawahnya. (Namun haditsnya lemah, di sanadnya terdapat Ja’far bin Az
Zubair, seorang matruk).”

– Hadits Abu Salamah, ia bertanya kepada Abu Hurairah: “Berapa jumlah
orang yang diwajibkan shalat jama’ah padanya?” Abu Hurairah
menjawab,”Ketika sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berjumlah lima puluh, Rasulullah mengadakan shalat Jum’at’ [33]. Imam Al
Baihaqi berkata,”Telah diriwayatkan dalam permasalahan ini hadits
tentang jumlah lima puluh, namun isnadnya tidak shahih.” [34]

Pendapat ini lemah, karena dalil-dalilnya dhaif (lemah).

Ketiga : Harus ada dua belas orang dari yang diwajibkan Jum’at. Demikian
madzhab Rabi’ah bin Abdirrahman dan riwayat dalam madzhab Malik. Mereka
berdalil dengan hadits Jabir :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ
قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ
النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah pada hari
Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi
menemuinya sehingga tidak tersisa, kecuali dua belas orang.” [35]

Hadits ini tidak dapat dijadikan dalil pembatasan hanya dua belas orang
saja, karena terjadi tanpa sengaja, dan ada kemungkinan sebagiannya
kembali ke masjid setelah menemui mereka.

Keempat : Disyaratkan paling sedikit empat orang. Demikian pendapat
masdzhab Abu Hanifah, Al Laits bin Sa’ad, Zufar dan Muhammad bin Al
Hasan [36] dengan berdalil pada firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ
الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ

“Mereka menyatakan, bahwa kata amanu adalah bentuk jama’ (plural’s), dan
jama paling sedikit tiga ditambah imam, maka berjumlah empat orang. Ini
jelas lemah dalam pengambilan dalilnya”

Kelima : Disyaratkan paling sedikit tiga orang: seorang khatib dan dua
orang pendengarnya. Demikian riwayat dari Imam Ahmad, Al Hasan Al
Bashri, Abu Yusuf, Abu Tsaur dan salah satu pendapat Sufyan Ats Tsauri
[37], berdalil dengan pernyataan di bawah ini:

– Tiga adalah angka terkecil dalam bentuk jama’.
– Hadits Abu Ad Darda’yang berbunyi:

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ
الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ

“Tidak ada dari tiga orang di satu perkampungan atau pedalaman tidak
ditegakkan padanya shalat, kecuali syetan akan menguasai mereka”.[38]

Mereka menyatakan, shalat yang dimaksudkan disini bersifat umum,
meliputi shalat Jum’at dan yang lainnya. Ini menunjukkan kewajiban
shalat Jum’at bagi tiga orang.

Demikian pendapat Ibnu Taimiyah yang menyatakan: Shalat Jum’at sah
diadakan oleh tiga orang. Seorang berkhutbah, dan dua orang yang
mendengarnya.[39]” Dan pendapat ini juga dirajihkan Syaikh Ibnu Baaz
[40], Muhammad bin Shalih Al Utsaimin [41] dan fatwa Lajnah Daimah Saudi
Arabia [42].

Keenam : Sah diadakan oleh dua orang atau lebih. Demikian pendapat
madzhab Dzahiriyah, An Nakha’i, Al Hasan bin Shalih, Makhul dan Ath
Thabari. Mereka menyatakan, telah dimaklumi bahwa shalat jama’ah selain
Jum’at sah dilakukan dua orang saja secara Ijma’, dan shalat Jum’at sama
dengan shalat jama’ah lainnya. Barangsiapa yang mengeluarkannya dari
shalat jama’ah lainnya, maka harus mendatangkan dalil, dan tidak ada
dalil yang tegas dalam masalah ini. Pendapat ini dirajihkan Imam Ibnu
Hazm [43], Asy Syaukani [44], Muhammad Shidiq Hasan Khan dan Al Albani
[45]. Demikian inilah pendapat yang rajih, insya Allah.

HUKUM KHUTBAH JUM’AT
Menurut pendapat yang rajih, khutbah Jum’at merupakan satu kewajiban
dalam shalat Jum’at, dengan dalil sebagai berikut:

– Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ
الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ
خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat
pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui”. [Al Jum’ah:9]

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada kita agar bersegera mengingat
Allah Subhanahu wa Ta’ala sejak mendengar adzan, dan setelah adzan ada
khutbah. Dengan demikian firman Allah (فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ )
meliputi khutbah juga. Apabila bersegera mendengar khutbah merupakan
kewajiban, maka tentunya khutbah menjadi wajib, karena bersegera datang
mendengar khutbah merupakan wasilah dan tujuannya adalah khutbah.
Sehingga menurut kaidah yang baku, bila wasilahnya wajib, maka tentu
yang dituju menjadi pasti wajibnya.[46]

– Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berbicara ketika imam
berkhutbah, menunjukkan kewajiban mendengarkannya dan hal ini
menunjukkan kewajiban khutbah.
– Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berkhutbah dalam shalat
Jum’at, dan sekalipun tidak pernah meninggalkannya. Hal ini menunjukkan
juga wajibnya khutbah dalam shalat Jum’at.
– Seandainya khutbah tidak diwajibkan, maka tidak ada bedanya dengan
shalat-shalat lainnya, dan orang tidak dapat mengambil manfaat dari
pertemuan tersebut [47]

APAKAH MENGHADIRI KHUTBAH MENJADI SYARAT SAH SHALAT JUM’AT
Dalam masalah ini, para ulama terbagi menjadi dua pendapat.

Pertama : Tidak disyaratkan menghadiri khutbah.
Seandainya seseorang hanya mendapati shalat Jum’atnya saja, maka
dianggap sah dan sudah mencukupi jum’atnya. Demikianlah pendapat Ibnu
Mas’ud, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Sa’id bin Al Musayyab, Al Hasan Al
Bashri, Alqamah, Al Aswad, Urwah, Az Zuhri, An Nakha’i, Ats Tsauri,
Ishaq, Abu Tsaur, Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan Ahmad.

Kedua : Disyaratkan menghadiri khutbah.
Sehingga seseorang yang tidak menghadiri khutbah, maka harus shalat
empat raka’at. Demikian pendapat ‘Atha, Thawus, Mujahid, Makhul dan
riwayat kedua dari imam Malik. Mereka berdalil, bahwa khutbah adalah
syarat sahnya Jum’at, sehingga tidak sah Jum’at seseorang yang tidak
mendapati khutbah, padahal Allah berfirman: فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ
اللهِ .

Ibnu Qudamah merajihkan pendapat pertama dengan dalil hadits Abu
Hurairah yang berbunyi:

مَنْ أَدْرَكَ مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ رَكْعَةً فَقَدْ أَدْرَكَ

“Barangsiapa yang mendapatkan satu raka’at dari shalat Jum’at, maka ia
mendapatkannya.”

Demikian ini pendapat yang rajih, insya Allah.

KAPAN DIANGGAP MENDAPATKAN SHALAT JUM’AT
Telah jelas dari pembahasan di atas, bahwa menghadiri khutbah bukan
merupakan syarat Jum’at, sehingga seseorang yang mendapatkan shalat
Jum’at bersama Imam, berarti telah mendapatkan shalat Jum’at sempurna.
Lalu kapan seseorang dikatakan telah mendapatkan shalat Jum’at bersama
imam?

Dalam permasalahan ini, para ulama berselisih pendapat.
Pertama : Dianggap mendapatkan shalat Jum’at, bila mendapatkan satu
raka’at bersama Imam. Demikian pendapat jumhur Ulama [48], berdalil
dengan hadits Abu Hurairah :

مَنْ أَدْرَكَ مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ رَكْعَةً فَقَدْ أَدْرَكَ

“Barangsiapa yang mendapatkan satu raka’at dari shalat Jum’at, maka ia
mendapatkannya”.[49]

Pendapat ini dirajihkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[50]

Kedua : Dianggap mendapatkan shalat Jum’at, selama mendapatkan shalat
bersama Imam walaupun hanya sedikit, seperti dalam tasyahud saja.
Demikian pendapat madzhab Abu Hanifah, An Nakha’i dan Hamad; berdalil
dengan Qiyas terhadap shalat musafir yang mendapatkan Imam muqim, maka
musafir tersebut -walaupun hanya mendapat sedikit dari shalat Imam muqim
tersebut- maka ia wajib menyempurnakan shalat dengan sempurna.

Ketiga : Tidak mendapatkan shalat Jum’at tanpa mendengarkan khutbahnya.
Demikian ini pendapat ‘Atha, Thawus, Mujahid dan Makhul [51], berdalil
dengan hadits Ibnu Umar yang berbunyi:

إِنَّمَا جُعِلَتْ الْخُطبَةُ مَكَانَ الْرَكْعَتَيْنِ فَإِنْ لَمْ
يُدْرِكْ الْخُطْبَةَ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا

“Khutbah dijadikan sebagai pengganti dua raka’at. Jika tidak mendapatkan
khutbah, maka hendaklah shalat empat raka’at.” [52]

Dari ketiga pendapat tersebut, yang dianggap rajih ialah pendapat
pertama, karena keabsahan hadits yang dijadikan dalil tersebut.
Sedangkan hadits pendapat ketiga, merupakan hadits yang lemah, karena
sanadnya terputus, ada riwayat Yahya bin Abi Katsir dari Ibnu Umar. Dan
Yahya tidak mendengar hadits dari Ibnu Umar secara langsung.[53]

APA YANG DIPERBUAT ORANG YANG TIDAK MENDAPAT SHALAT JUM’AT BERSAMA IMAM
Seseorang yang tidak mendapatkan shalat Jum’at karena udzur, maka
diwajibkan shalat Dhuhur empat raka’at, berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud
yang berbunyi:

منْ فَاتَتْهُ الرَّكْعَتَان فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا

“Barangsiapa yang tidak mendapatkan dua raka’at Jum’at, maka shalatlah
empat raka’at.” [54]

Syaikh Al Albani berkata: Dalam hadits Ibnu Mas’ud ini, terdapat
isyarat, bahwa shalat Dhuhur adalah asal dan ia wajib bagi orang yang
tidak shalat Jum’at. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hal berikut:

– Sudah sangat dimaklumi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para sahabatnya shalat Dhuhur pada hari Jum’at jika dalam
perjalanan. Namun mereka shalat dengan qashar. Seandainya asal kewajiban
pada hari Jum’at adalah shalat Jum’at, tentulah mereka shalat Jum’at.
– Abdullah bin Mi’dan dari neneknya, ia berkata: Abdullah bin Mas’ud
telah berkata kepada kami: “Jika kalian (kaum wanita) shalat Jum’at
bersama Imam, maka shalatlah dengan shalatnya. Dan jika kalian shalat di
rumah kalian, maka shalatlah empat raka’at”.

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (1/207/2) dan sanadnya sampai
kepada nenek Ibnu Mi’dan, shahih. Sedangkan neneknya Ibnu Mi’dan, saya
belum mengetahuinya. Nampaknya, ia seorang tabi’in dan bukan sahabat.
Namun hal ini dikuatkan dengan pernyataan Al Hasan Al Bashri tentang
wanita yang datang ke masjid pada hari Jum’at, bahwa ia shalat dengan
shalat Imam tersebut, dan itu cukup baginya.

Dalam satu riwayat ia berkata: “Dulu, kaum wanita shalat Jum’at bersama
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan disampaikan kepada mereka
“Janganlah kalian keluar, kecuali tidak tercium dari kalian bau minyak
wangi”. Isnad kedua riwayat ini shahih. Dan dalam riwayat lain dari
jalur periwayatan Asy’ats dari Al Hasan, ia berkata: “Dulu, kaum wanita
Muhajirin shalat Jum’at bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, kemudian mencukupkan mereka dari shalat Dhuhur”.[55]

Kemudian Syaikh Al Albani menyatakan: “Barangsiapa menganggap bahwa asal
kewajiban pada hari Jum’at adalah shalat Jum’at, dan jika tidak
mendapatkannya, atau tidak diwajibkan atasnya -seperti musafir dan
wanita- hanya shalat dua raka’at; berarti ia telah menyelisihi nash-nash
ini dengan tanpa hujjah. Saya mendapatkan Ash Shan’ani menyebutkan
(dalam Subulul Salam, 2/74) seperti (yang telah saya jelaskan), dan
menyebutkan bahwa jika Jum’at tidak didapatkan seseorang, maka menurut
Ijma’, ia wajib shalat Dhuhur, karena ia adalah asal”.[56]

Demikianlah penjelasan para ulama tentang hal ini. Apakah masih kurang
jelas kesalahan orang yang mewajibkan kaum wanita shalat dua raka’at
bila tidak shalat Jum’at bersama Imam?!

Demikianlah sebagian hukum-hukum seputar shalat Jum’at yang banyak
dijumpai oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Mudah-mudahan dapat
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terbesit di hati pembaca seputar
shalat Jum’at ini.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun VIII/1425H/2004M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[30]. HR Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Ash Shalat, Bab Al Jum’ah Fil
Qura’, no.1069 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Iqamatu Ash Shalat
Wa Sunan Fiha, Bab Fardhiyah Al Jum’ah, no.
1082 dan Ibnu Al Jarud dalam Al Muntaqa, no 291. Hadits ini dihasankan
oleh Abu Ishaq Al Huwaini dalam kitab Ghauts Al Makdud Bi Takhrij
Muntaqa Ibni Al Jarud, karyanya, tanpa tahun, Dar Al Kitab Al ‘Arabi,
hlm. 1/254.
[31]. HR Ad Daraquthni dalam Sunan-nya, kitab Al Jum’ah, Bab Dzikru Al
‘Adad Fil Jum’ah, hlm. 2/4 dan dalam sanadnya terdapat Abdul Aziz bin
Abdurrahman Al Jazari, seorang yang lemah, sehingga Imam Ahmad
menyatakan: “Buang haditsnya,” dan Al Baihaqi menyatakan: “Hadits ini
tidak dapat dijadikan hujjah”. Lihat pernyataan Abu Thayib Muhammad Al
Abadi dalam At Ta’liq Al Mughni ‘Ala Ad Daraquthni yang terdapat di
footnote kitab Sunan Ad Daraquthni, 2/4.
[32]. HR Ad Daraquthni dalam Sunan-nya, kitab Al Jum’ah, Bab Dzikru Al
‘Adad Fil Jum’ah, hlm. 2/4.
[33]. Hadits ini dinukil dari kitab Ikhtiyarat Ibnu Qudamah Al Fiqhiyah
Min Asyhar Al Masail Al Khilafiyah, karya Dr. Ali bin Sa’id Al Ghamidi,
Cetakan Pertama, 1407 H, Dar Al Madani Jeddah, KSA, hlm. 366.
[34]. Sunan Al Kubra, karya Al Baihaqi, Tahqiq Muhammad Abdulqadir
‘Atha, Cetakan Pertama, Tahun 1414, Dar Al Kutub Al Ilmiyah Bairut,
3/255.
[35]. HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Jum’ah, Bab Fi Qaulihi Ta’ala
وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ
no. 863.
[36]. Al Muhalla, op.cit 5/46.
[37]. Ibid.
[38]. HR Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Shalat, Bab At Tasydid Fi
Tarki Al Jamah, no 537 dan An Nasa’i dalam Sunan-nya, kitab Al Imamah,
Bab At Tasydid Fi Tarki Al Jamah, 2/106 dan dishahihkan Ibnu Khuzaimah
dan Ibnu Hibban.
[39]. Dinukil pentahqiq Asy Syarhu Al Mumti’, 5/51 dari kitab Al
Ikhtiyarat, hlm. 79.
[40]. Majmu’ Fatawa Wa Maqalaat Mutanawi’ah, karya Syaikh Abdul Aziz bin
Baaz, Disusun Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir, Cetakan Ketiga,
1423 H, Muassasah Al Haramain Al Khairiyah, Riyadh, KSA, hlm. 12/326.
[41]. Asy Syarhu Al Mumti’, op.cit, hlm. 5/53.
[42]. Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah Wal Ifta’,
Disusun Ahmad Abdur Razaq Ad Duwaisy, Cetakan Pertama, 1416 H, Dar Al
‘Ashimah, Riyadh, KSA, hlm. 8/178 no.1794.
[43]. Al Muhalla, op.cit, hlm. 5/45.
[44]. Nailul Authar, op.cit.
[45]. Al Ajwiba An Nafi’ah, op.cit, hlm. 44.
[46]. Lihat Asy Syarhu Al Mumti’, op.cit, hlm. 5/66 dan Al Ajwiba An
Nafi’ah, op.cit, hlm. 53.
[47]. Asy Syarhu Al Mumti’, op.cit, hlm. 5/66.
[48]. Taisir Al Fiqh Al Jami’ Lil Ikhtiyarat Al Fiqhiyah Li Syaikh Al
Islam Ibni Taimiyah, karya Dr. Ahmad Muwafi, Cetakan Kedua, Tahun 1416H,
Dar Ibnu Al Jauzi, Damam, KSA, hlm. 1/278.
[49]. HR An Nasa’i dalam Sunan-nya, kitab Al Jum’ah, Bab Man Adraka
Shalat Rak’atan Min Shalat Al Jum’ah, no. 1408, dengan sanad yang
shahih. Hadits ini dishahihkan Al Albani di dalam Al Ajwibah An Nafi’ah,
op.cit, hlm. 48.
[50]. Lihat Majmu’ Fatawa, op.cit, 23/330-332.
[51]. Telah lalu sebagian dalilnya dalam masalah Apakah Menghadiri
Khutbah Adalah Syarat Sah Shalat Jum’at?
[52]. HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, 1/126/1. Lihat Al Ajwibah
An Nafi’ah, op.cit, hlm. 49.
[53]. Hadits tersebut dilemahkan Al Albani. Lihat Al Ajwibah An Nafi’ah,
op.cit, hlm. 49.
[54]. HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, 1/126/1; Ath Thabrani
dalam Mu’jam Al Kabir, 2/38/2; dan ini lafadz Ath Thabrani dari jalur
periwayatan Abul Ahwash dari Ibnu Mas’ud secara mauquf. Berkata Al
Albani: “Sebagian jalur periwayatannya shahih”. Al Haitsami
menghasankannya di dalam Al Majma’, 2/192. Nampaknya penulis (Muhammad
Shidiq Hasan Khan) berargumentasi dengan hadits Ibnu Mas’ud ini; padahal
mauquf, karena tidak diketahui adanya sahabat yang menyelisihinya.
Lihat semua ini di dalam Al Ajwibah An Nafi’ah, op.cit, hlm. 47.
[55]. Al Ajwibah An Nafi’ah, op.cit, 48.
[56]. Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s