Updates from September, 2011 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • blistyo 12:41 am on September 24, 2011 Permalink | Reply
    Tags: bid'ah, ,   

    14 CONTOH BID’AH DALAM SHALAT TARAWIH 21AUG 

    Disusun Oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc.

    Dalam rubrik ini, saya akan menguraikan bahasan khusus seputar masalah bid’ah dalam shalat tarawih yang banyak menyebar di tengah masyarakat, dan diyakini sebagai perkara sunnah serta dianggap baik oleh sebagian besar orang awam. Akibatnya sunnah-sunnah shalat tarawih yang dianjurkan, banyak kehilangan bentuk dan kemurniannya. Di antara bid’ah yang lazim terjadi di masyarakat seputar masalah shalat tarawih, ialah sebagai berikut.

    Pertama. Shalat tarawih dengan cepat, laksana ayam mematuk makanan. Mayoritas imam masjid kurang memiliki akal sehat dan pengetahuan agama yang baik. Hal itu nampak dari cara melakukan shalat. Bahwa hampir semua shalat yang dilakukan, mirip dengan shalatnya orang yang sedang kesurupan, terutama ketika shalat tarawih. Mereka melakukan shalat 23 raka’at hanya dalam waktu 20 menit, dengan membaca surat Al ‘Ala atau Adh Dhuha. Menurut semua madzhab, dalam melakukan shalat tidak boleh seperti itu, karena ia merupakan shalat orang munafik, sebagaimana firmanNya: Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia dan tidak menyebut Allah, kecuali hanya sedikit sekali. (QS An Nisa’:142). Bentuk dan cara shalat tarawih yang seperti itu, jelas bertentangan dengan cara shalat tarawih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam , para sahabat dan ulama salaf.

    Nabi  Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

    فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

    Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (bid’ah), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat. (Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallamn bersabda,

    صَلُّوْا كَمَا رَأَيْْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي

    Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad. Lihat Irwaul Ghalil no: 213).

    Ad Darimy meriwayatkan, bahwa Abu Aliyah berkata,”Jika kami mendatangi seseorang untuk menuntut ilmu, maka kami akan melihat ia shalat. Jika ia shalat dengan benar, kami akan duduk untuk belajar dengannya. Dan kami berkata,’Dia akan lebih baik dalam masalah lain’. Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka kami akan berpaling darinya dan kami berkata,’Dia akan lebih rusak dalam masalah yang lain’.” Dan suatu hal yang menguatkan lagi, bahwa demikian itu menjadi perkara bid’ah, karena dikerjakan secara rutin dan permanen pada setiap bulan Ramadhan. Mereka beranggapan, bahwa hal itu merupakan cara terbaik dalam menunaikan shalat tarawih.

    (More …)

     
  • blistyo 4:33 am on September 4, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , ,   

    Awas, malam genap juga Lailatul Qadar! 

    Saif Al Battar

    Dalam makalah sebelum ini, kita telah mengkaji hadits-hadits Nabi SAW yang memerintahkan untuk mencari lailatu qadar pada malam-malam ganjil dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Hadits-hadits tersebut menjelaskan bahwa lailatul qadar pada zaman Nabi SAW pernah atau sangat mungkin terjadi pada malam 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Dalam makalah kali ini, kita akan mengjaji hadits-hadits Nabi SAW yang memerintahkan untuk mencari lailalatul qadar pada malam-malam genap dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

    Jangan kaget! Sangat mungkin lailatul qadar terjadi pada malam-malam yang genap dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Lailatul qadar sangat mungkin terjadi pada malam ke-22, 24, 26, 28, atau 30 Ramadhan. Dengan begitu, kita tidak boleh memburunya pada malam-malam ganjil belaka. Kesungguhan dalam melaksanakan shalat tarawih, witir, tadarus Al-Qur’an, doa, dzikir, istighfar, dan amal-amal shalih lainnya di malam yang genap tetap harus dijaga. Berikut ini dalil-dalil yang menegaskan hal ini.

    Hadits Pertama

    عَنْ مُعَاوِيَةَ بنِ أَبي سُفيانَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم  : «التَمِسُوا لَيْلَةَ القَدْرِ في آخِرِ لَيْلَةٍ»

    Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, ”Carilah lailatul qadar pada malam terakhir Ramadhan!” (HR. Muhammad bin Nashr Al-Marwazi dalam kitab Ash-Shalat dan Ibnu Khuzaimah no. 2189. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1471 dan Shahih Jami’ Shaghir no. 1238)

    Dalam kitab shahihnya, imam Ibnu Khuzaimah menempatkan hadits ini di bawah judul ‘Bab perintah mencari lailatul qadar pada malam terakhir Ramadhan, karena boleh jadi pada sebagian tahun lailatul qadar terjadi pada malam tersebut’.

    Sebagaimana kita ketahui bersama, Ramadhan terkadang terdiri dari 29 hari dan terkadang 30 hari. Dengan demikian, hari terakhir terkadang adalah hari ke-30. Nabi SAW memerintahkan umatnya untuk mencari lailatul qadar pada malam terakhir Ramadhan. Sehingga, terkadang lailatul qadar terjadi pada malamke-30 Ramadhan.

    Hadits Kedua (More …)

     
  • blistyo 2:19 am on August 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , ,   

    Antara Shalat Taraweh, Tahajud dan Witir 

    Ditulis oleh Dewan Asatidz
    Apakah perbedaan sholat tarawih dengan sholat tahajud ? apakah jika sudah sholat tarawih tidak perlu sholat tahajud ?
    1. Shalat Tarawih
    Pendapat yang populer dalam jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan Rasulullah adalah sebagai berikut :
    1. 11 rokaat terdiri dari 4 rokaat x 2 + 3 rokaat witir. Ini sesuai dengan hadist A’isyah yang diriwayatkan Bukhari.
    2. 11 rokaat terdiri dari 4 rokaat x 2 + 2 rokaat witir + 1 witir. Ini sesuai dengan hadist Ai’syah riwayat Muslim.
    3. 11 rokaat terdiri dari 2 rokaat x 4 & 2 rokaat witir + 1 witir. Ini juga diriwayatkan oleh Muslim.
    4. Ada juga riwayat Ibnu Hibban yang mengatakan 8 rakaat + witir.
    5. Ada juga riwayat yang mengatakan 13 rakaat termasuk witir.
    Itu adalah diantara riwayat-riwayat yang sahih shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah. Khusus untuk bulan Ramadhan Rasulullah pernah shalat berjamaah bersama sahabat, kemudian hari berikutnya beliau tidak lagi melakukan hal yang sama, ketika ditanya alasannya, beliau menjawab karena khawatir diwajibkan. Kemudian pada masa Umar bin Khattab, karena orang berbeda-beda, sebagian ada yang shalat dan ada yang tidak shalat, maka Umar ingin agar umat Islam nampak seragam, lalu disuruhlah agar umat Islam berjamaah di masjid dengan shalat berjamah dengan imam Ubay bin Ka’b. Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih, artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selasai melakukan shalat 4 rakaat.
    Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan perbedaan riwayat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan pada saat itu : ada yang mengatakan 13 rakaat, ada yang mengatakan 21 rakaat, ada yang mengatakan 23 rakaat. Khusus rakaat shalat tarawih, ada juga yang mengatakan 36 rakaat plus 3 witir, ini diriwayatkan pada masa Umar bin Abdul Aziz. Ada juga yang meriwayatkan 41 rakaat. Bahkan ada yang meriwayatkan 40 rakaat plus 7 rakaat witir. Riwayat dari imam Malik beliau melaksanakan 36 rakaat plus 3 rakaat witir.
    Kebanyakan masyarakat Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat atau 11 rakaat, termasuk witir. Kedua cara ini sama-sama mempunyai landasan dalil yang kuat. Shalat tarawih bisa juga disebut shalat qiyamullail, yaitu shalat yang tujuannya menghidupkan malam bulan Ramadhan. Penamaan shalat tarawih tersebut belum muncul pada zaman Rasulullah s.a.w. (More …)
     
  • blistyo 1:55 am on August 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , , ,   

    Tata cara shalat tarawih dan Cara Shalat Witir 

    Bagaimana Sholat Tarawih Sesuai Sunnah Rasulullah Tata cara solat tarawih dan Tata cara Solat Witir

    Berikut adalah Panduan Lengkap Tata cara shalat tarawih dan cara Shalat Witir di

    Bulan Ramadhan.

    Sholat Tarawih

    Syaikh Nashiruddin Al-Albani  telah menjelaskan perincian tentang tata cara shalat

    tarawih dalam kitab “Shalat Tarawih” (hal.101-105), kemudian disini diringkasnya untuk

    mempermudah pembaca dan sebagai peringatan.

    Cara Pertama

    Shalat 13 rakaat yang dibuka dengan 2 rakaat yang ringan atau yang pendek, 2 rakaat

    itu menurut pendapat yang kuat adalah shalat sunnah ba’diyah Isya’. Atau 2 rakaat yang

    dikhususkan untuk membuka shalat malam, kemudian 2 rakaat panjang sekali, kemudian

    2 rakaat kurang dari itu, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat

    kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian witir 1

    kali.

    Cara Kedua

    Shalat 13 rakaat diaantaranya 8 rakaat salam pada setiap 2 rakaat kemudian melakukan

    witir 5 rakaat tidak duduk dan salam kecuali pada rakaat kelima.

    Cara Ketiga

    Shalat 11 rakaat, salam pada setiap 2 rakaat dan witir 1 rakaat.

    Cara Keempat

    Shalat 11 rakaat, shalat 4 rakaat dengan 1 salam, kemudian 4 rakaat lagi seperti itu

    kemudian 3 rakaat. Lalu apakah duduk (tasyahud –pent) pada setiap 2 rakaat pada yang

    4 dan 3 rakaat? Kami belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dalam masalah ini.

    Tapi dudukpada rakaat kedua dari yang tiga rakaat tidak disyariatkan !.

    Cara Kelima

    Shalat 11 rakaat diantaranya 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada yang kedelapan, (pada

    yang ke-8 ini –pent) bertsyahud dan bershalawat kepada Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa

    sallam, kemudian berdiri lagi dan tidak salam, kemudian witir 1 rakaat, lalu salam, ini

    berjumlah 9 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat lagi sambil duduk.

    Cara Keenam

    Shalat 9 rakaat, 6 rakaat pertama tidak diselingi duduk (tasyahud –pent) kecuali pada

    rakaat keenam dan bershalawat kepada Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya

    sebagaimana tersebut dalam cara yang telah lalu.

    Inilah tata cara yang terdapat dari Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam secara jelas, dan

    dimungkinkan ditambah cara-cara yang lain yaitu dengan dikurangi pada setaip cara

    berapa rakaat yang dikehendaki walaupun tinggal 1 rakaat dalam rangka mengamalkan

    hadist Rasulullah Shallaalhu ‘alaihi wa sallam yang telah lalu (“…Barangsiapa yang ingin,

    witirlah dengan 5 rakaat, barangsiapa yang ingin, witirlah dengan 3 rakaat, barang siapa

    yang ingin,witirlah dengan 1 rakaat) [Faedah penting : Berkata Ibnu Khuzaimah dalam

    “Shahih Ibni Khuzaimah” 2/194, setelah menyebutkan hadist Aisyah dan yang lainnya

    pada sebagian cara-cara tersebut, maka dibolehkan shalat dengan jumlah yang ana dari

    yang diasukai dari yang telah diriwayatkan daari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    melakukannya tida larangan bagi siapapun padanya, Saya katakan: Ini difahami sangat

    sesuai dengan apa yang kita pilih yang konsisten dengan jumlah yang shahih. Dari Nabi

    Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menambahinya. Segala puji bagi Allah atas taufiq-

    Nya dan aku meminta Nya untuk menambahi keutamaan-Nya.] [1].

    Shalat 5 dan 3 rakaat ini, jika seseorang menghendaki untuk melakukannya dengan 1

    kali duduk (tasyahud –pent) dan satu kali salam sebagaimana pada cara kedua, boleh.

    Dan jika ingin, bisa dengan salam pada setiap 2 rakaat seperti pada cara ketiga dan yang

    lain dan itu lebih baik[2]. Adapun shalat yang 5 dan 3 rakaat denagn duduk (tasyahud –

    pent) pada setiap 2 rakaat tanpa salam, kita tidak mendapatinya terdapat dari Nabi

    Shallaalhu ‘alaihi wasallam, pada asalnya boleh, akan tetapi nabi Shallaalhu ‘alaihi wa

    sallam ketika melarang untuk 3 rakaat dan memberikan alasannya dengan sabda beliau

    “Jangan serupakan dengan shalat mahgrib…” (diriwayatkan At-Thahawi dan Daruquthni

    dan selain keduanya lihat “Shalatut Tarawih” hal 99-110) .

    Maka bagi yang ingin shalat witir 3 rakaat hendaknya keluar dari cara penyerupaan

    terhadap mahgrib dan itu dengan 2 cara :

    1. Salam antara rakaat genap dan ganjil itu lebih utama.

    2. Tidak duduk (tasyahud –pent) antara genap dan ganjil, (yakni pada rakaat kedua –

    pent).

    (Dinukil dari terjemahan kitab “Qiyamu Ramadhan”, karya Syaikh Muhammad

    Nashiruddin al Albani, edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu

    ‘alaihi wa sallam ”, Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Bab “Tata Cara Shalat

    Tarawih”

    Hal : 60 – 71, Penerbit “Cahaya Tauhid Press) (More …)

     
  • blistyo 1:13 am on August 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , ,   

    SOAL JAWAB RAMADAN 2 AMALAN AMALAN DI BULAN… 

    AMALAN-AMALAN DI BULAN RAMADAN

    1. Apakah cara terbaik untuk saya menghayati bulan Ramadan dan menambah amalan di dalamnya?

    Firman Allah S.W.T dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 yang bermaksud: “Bulan Ramadan diturunkan padanya Al Quran, sebagai petunjuk itu dan pembeda (di antara yang hak dan yang batil).”

    Sesuai dengan bulan Al-Quran ini, maka penghayatannya melibatkan tiga cara:

    1. Berusaha membanyakkan amal baik dengan tujuan mngukuhkan keimanan dan mendapat keredhaan Allah S.W.T.

    2. Mempertingkatkan ilmu, melalui pembacaan dan pengkajian Al-Quran, serta mempelajari sejarah Baginda Rasulullah S.A.W.

    3. Menghayati nilai murni yang ditunjukkan dalam Al-Qur’an, terutama dari sudut akhlak. Tingkah laku kita sebagai orang yang beriman harus mencerminkan akhlak mulia yang diajar dalam kitab tersebut.

    Penghayatan bulan Ramadan dan Al-Quran tidak terbatas dalam lingkungan solat dan puasa secara ritual sahaja. Malah, lebih dari itu, mesti menghayatinya dalam setiap aspek kehidupan seharian dan melahirkannya dalam tingkah laku, pertuturan dan gerak hati kita.

    2. Saya ingin menunaikan solat terawih. Bagaimana caranya?

    Solat terawih adalah sangat digalakkan pada malam-malam Ramadan. Ia adalah ibadat khusus di dalam bulan Ramadan, dan tidak dilakukan pada bulan-bulan lain.

    Masanya adalah setelah seseorang itu mengerjakan solat fardu Isyak. Afdal (utama) dikerjakan berjemaah di masjid. Namun, boleh dikerjakan bersendirian juga.

    Solat terawih boleh dilaksanakan sebanyak 8 rakaar, 20 rakaat atau 36 rakaat, setiap 2 rakaat dengan satu salam. Cara menunaikannya adalah sama seperti solat sunat biasa (seperti sunat qabliyah (sebelum) atau ba’diyah (selepas) bagi solat fardhu lima waktu).

    Menurut hadis Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah R.A maksudnya:

    “Adalah Rasulullah S.A.W sangat sukacita menganjurkannya supaya beramal di malam-malam bulan Ramadan, hanya Baginda itu tidak menganjurkannya dengan keras. Baginda S.A.W bersabda: “Sesiapa yang menunaikan ibadat solat pada malam-malam bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan semata-mata kerana Allah S.W.T, nescaya diampunkan oleh Allah dosa-dosanya yang lalu.”

    3. Bagaimana saya boleh mengerjakan solat witir?

    Witir bermakna angka yang ganjil. Solat witir boleh dikerjakan pada tiap-tiap malam dan yang lebih afdal adalah pada bulan Ramadan, samada bersendirian atau berjemaah. Solat ini dikerjakan sekurang-kurangnya 1 rakaat dan boleh dikerjakan 3 rakaat, 5 rakaat, 7 rakaat, 9 rakaat dan sebanyak 11 rakaat.

    Imam Abu Daud dan An-Nasa’I telah meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Ayyub yang maksudnya: “Rasulullah S.A.W pernah bersabda “Solat witir itu adalah benar. Siapa yang suka mengerjakannya lima rakaat, kerjakanlah. Siapa yang suka mengerjakannya tiga rakaat kerjakanlah, dan siapa yang suka mengerjakannya satu rakaat sahaja pun, kerjakanlah.”

    Niat witir dua rakaat di dalam jemaah adalah seperti: “Sahaja aku solat witir dua rakaat menjadi makmum kerana Allah ta’ala.” Niat witir satu rakaat pula di dalam jemaah adalah seperti: “Sahaja aku solat witir satu rakaat menjadi makmum kerana Allah ta’ala.”

    4. Saya ingin mengerjakan solat witir berjemaah di masjid.

    Namun, saya berniat ingin bangun waktu malam. Bolehkah saya mengerjakan solat witir sekali lagi, sedangkan tidak ada dua witir pada satu malam, seperti hadith Rasulullah S.A.W?

    Solat witir boleh dilaksanakan dari 1 sehingga 11 rakaat. Ia dilaksanakan selepas solat terawih di kebanyakan masjid untuk menutup tirai solat di waktu malam di dalam bulan Ramadan. Oleh yang demikian, sekiranya seseorang itu telah menunaikan solat witir sebanyak 3 rakaat selepas terawih dan kemudian bangun di waktu malam menunaikan solat tahajjud, ia boleh menunaikan solat witir sebagai penambahan bagi 3 rakaat yang dilaksanakan selepas terawih.

    Caranya adalah dengan hanya bersolat 2, 4, 6, atau 8 rakaat dengan niat “Sahaja aku dirikan 2 rakaat dari solat sunat witir kerana Allah ta’ala.” Dengan demikian, ia tidak dikira mendirikan 2 witir pada satu malam kerana

    Baginda Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud: “Tidak ada dua witir pada satu

    malam.”

    5. Saya terdengar seorang Ustaz menyebut kelebihan solat malam yang dinamakan solat tahajjud. Apakah solat itu, dan bagaimana boleh saya melaksanakannya?

    Solat tahajjud dianjurkan selepas tidur di waktu malam dan sebelum tiba waktu subuh. Ia boleh dilaksanakan sebanyak mungkin, dengan setiap dua rakaat satu salam.

    Firman Allah dalam surah Al-Isra’ ayat 19 yang bermaksud: “Pada sebahagian

    malam, bersolat tahajjudlah kamu sebagai satu ibadat tambahan.”

    Niat bagi solat ini adalah seperti: “Sahaja aku solat sunat tahajjud dua rakaat kerana

    Allah ta’ala.”

    6. Apakah itu iktikaf?

    Iktikaf artinya berhenti seketika atau lebih di dalam masjid dengan niat beribadat atau menghampirkan diri kepada Allah.

    Hukumnya sunat dan istimewa pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.

    Sayidatina Aisyah R.A meriwayatkan yang maksudnya: “Adalah Rasulullah S.A.W melakukan iktikaf sesudah tanggal 20 Ramadan. Hal ini menjadi amalan Baginda hingga Baginda wafat.”

    Niat iktikaf adalah seperti: “Sahaja aku beriktikaf dalam masjid ini kerana

    Allah ta’ala.”

    7. Saya sering mendengar tentang istimewanya malam Lailatul qadar. Adakah perlu saya beribadat pada malam tersebut? Kalau ia, bagaimana?

    Firman Allah dalam Surah Al-Qadr ayat 1-3 yang bermaksud: “Kami telah menurunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qadar. Adakah kamu tahu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan…”

    Para Ulama berselisih pendapat tentang masanya Lailatul Qadar. Di antara pendapat tentang masanya Lailatul Qadar jatuh pada malam-malam yang ganjil selepas tanggal 20 Ramadan iaitu: 21, 23, 25, 27 atau 29 Ramadan.

    Pada malam-malam itu, sangat elok kalau kita memperbanyakkan ibadat seperti solat, membaca Al-Quran, berselawat, berzikir dan memohon doa minta diampunkan dosa.

    Imam Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tarmidzi telah melaporkan sebuah hadis yang diterimanya dari Sayidatina Aisyah R.A bahwa Rasulullah S.A.W telah mengajarkan kepadanya doa yang diucapkan pada malam Lailatul Qadar iaitu yang bermaksud: “Wahai Tuhanku, bahawasanya Engkau Tuhan yang maha Pemaaf, Engkau menggemari kemaafan, maka maafkanlah daku.”

     
  • blistyo 1:00 am on August 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , ,   

    Kelebihan Solat Sunat Witir Di Bulan Ramadhan. 

    Solat Witir ialah solat sunat yang dikerjakan pada waktu malam selepas solat isyak sehingga terbit fajar saddiq (sebelum masuk waktu subuh), lebih afdal lagi bila ia dilakukan pada sepertiga malam yang terakhir. Ia boleh dilakukan setiap malam, tidak hanya pada bulan ramadhan sahaja.

    Solat Witir adalah solat yang unik kerana dikerjakan pada jumlah rakaat yang ganjil jumlahnya iaitu sekurang-kurangnya satu rakaat, selebihnya 11 rakaat. Paling afdal ialah 3 rakaat iaitu dimulai dengan solat witir dua rakaat satu salam dan disambung dengan solat witir satu rakaat satu salam. Kerana ianya unik, Solat witir mesti dilakukan dengan rakaat yang ganjil sebagai penyudah.

    Solat witir sangat digalakkan untuk dilakukan berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw

    Rasulullah saw, bersabda yang bermaksud:

    “Sesungguhnya Allah itu witir (ganjil), dan Dia menyukai witir, maka lazimkanlah solat witir, wahai ahli Al-Quran.”

    Hadis Riwayat Abu Daud dan Tirmizi.

    “Sesiapa yang mengerjakan sembahyang dhuha, berpuasa tiga hari daripada sebulan dan tidak pernah meninggalkan sembahyang witir sama ada dalam pelayaran dan bermuqim, dicatat baginya pahala orang syahid.”

    Hadis riwayat at-Thabran

    “Witir itu hak (benar). Barangsiapa yang tidak berwitir ia bukan dari golongan kita! Witir itu hak maka barang siapa yang tidak mengerjakannya ia bukan dari golongan kita! Witir itu hak, barangsiapa yaang tidak mengerjakannya maka ia bukan dari golongan kita!

    Hadis Riwayat Ahmad dan Abu Daud

    Kelebihan Solat Witir

    Nabi Muhammad saw bersabda:

    “Sesungguhnya Allah telah memberikan (hadiahkan) kepada kamu satu solat, yang mana ianya adalah lebih baik daripada unta-unta yang terbaik. Iaitulah Solat Witir.

    Hadis Riwayat Abu Daud, Tarmizi dan Ibnu Majah

     

    Gambaran masyarakat Arab ketika itu ialah sesiapa yang memiliki unta yang terbaik akan dianggap sebagai orang yang berharta dan kaya. Boleh diibaratkan seperti zaman sekarang ialah orang ynag berstatuskan jutawan, memiliki kekayaan.

    Bayangkan berapa lama untuk mengumpulkan harta sehingga menjadi jutawan dan memiliki kekayaan, adalak kita cuma perlu lakukan selama 10 tahun ? 30 tahun untuk menjadi seorang jutawan?

    Tetapi dengan mengerjakan solat witir dengan hanya satu rakaat sahaja, melebihi daripada apa yang kita idamkan iaitu menjadi jutawan dan miliki harta yang berlimpah luah. Bayangkan pula jika solat witir itu dilakukan 3 rakaat atau 5 rakaat. Berapa kali ganda kekayaan yang boleh dibayangkan dengan hanya mengerjakan solat witir.

    Tetapi ini hanyalah satu perumpamaan, apa yang diterangkan oleh Rasulullah saw adalah untuk memudahkan fahaman kita kepada gambaran kebendaan, sedangkan di Akhirat nanti balasan yang diterima adalah berkali ganda di dalam syurga.

    Ia seolah-olah mengambarkan betapa mudahnya kita boleh menjadi kaya raya iaitu hanya mengambil masa beberapa minit sahaja. Ternyata hadiah ini sememangnya bernilai diberikan oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Terlalu mudah untuk hamba-hamba-Nya memasuki syurga tetapi hanya segelintir sahaja yang mengambil manafaatnya,

    Oleh yang demikian janganlah ditinggalkan solat witir, kerjakanlah walaupun hanya sedikit bilangan rakaatnya tetapi berterusan. Amalan yang berterusan tetapi sedikit adalah perkara yang disukai oleh Allah swt.

    Sebagai mana di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra yang bermaksud

    “Ditanya Nabi Muhammad saw tentang amalan-amalan yang disukai oleh Allah. Baginda bersabda: “Amalan yang berterusan walaupun sedikit.”

    Hadis riwayat Bukhari

     
  • blistyo 1:21 am on September 6, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    Tata Cara Sholat Witir 

    Sholat witir hukumnya sunnah muakkadah. Salat Witir disunnahkan setiap hari dan tidak hanya pada bulan Ramadhan. Witir artinya ganjil. Maka jumlah rakaatnya minimum satu rakaat dan maksimum 11 rakaat. Yang paling sempurna adalah 3 rakaat. Bila melaksanakan witir lebih tiga rakaat, maka dilakukan setiap dua rakaat salam dan ditutup dengan satu rakaat. Bila melaksanakan tiga rakaat boleh dilakukan langsung rikaat seperti sholat maghrib. Tetapi sebagian ulama melihat bahwa dipisah lebih utama, yaitu dua rakaat salam lalu satu rakaat, karena ada hadist yang mengatakan “Janganlah menyamakan witirmu dengan Maghrib”.
    Hadist tersebut diriwayatkan oleh Baihaqi dan beliau berkata rawinya bisa dipercaya. Akan tetapi tiga rakaat berturu-turut lebih utama dibandingkan hanya satu rakaat. Qadli Abu Tayyib mengatakan bahwa witir satu rakaat hukumnya makruh. Tentu ini bertentangan dengan hadist sahih riwayat Abu Dawud yang mengatakan “Barangsiapa ingin witir 5 rakaat silahkan, barangsiapa ingin witir 3 rakaat silahkan dan barangsiapa ingin witir 1 rakaat silahkan”.

    Waktunya adalah mulai setelah salat Isya’ sampai dengan salat Subuh. Kalau seseorang merasa khawatir akan tidak melaksanakan salat witir di tengah atau akhir malam, maka ia sebaiknya melaksanakannya setelah salat Isya’, atau setelah salat Tarawih pada bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mengira tidak akan bangun malam, maka hendaknya ia berwitir pada awal malam, barangsiapa merasa yakin bisa bangun malam, maka hendaknya ia berwitir di akhir malam karena salat akhir malam dihadiri malaikat” (H.R. Muslim, Ahmad, Tirmizi).

    Sholat witir tidak disunnahkan berjamaah, kecuali bersama dengan sholat tarawih. Surat yang disunnahkan dibaca dalam witir 3 rakaat adalah “Sabbih-isma Rabiika”, Al-Kafiruun dan rakaat ketiga al-Ikhlas dan Muawwidzatain.

    Dalam witir juga disunnahkan melakukan qunut seperti qunut sholat Subuh bagi yang melakukannya. Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu dan tata cara qunut dalam witir. Madzhab Syafii mengatakan qunut dalam witir hanya dilakukan pada pertengahan kedua bulan Ramadhan, tempatnya setelah saat I’tidal sebelum sujud pada rakaat terakhir, sesuai yang dilakukan Ubay bib Ka’b. Madzhab Hanafi melakukan qunut pada setiap sholat witir sebelum ruku’ setelah membaca surah pada rakaat terakhir. Hanbali melakukan qunut setiap witir bulan ramadhan dengan tatacara seperti madzhab Syafi’i.

    Setelah sholat witir disunnahkan membaca do’a sesuai hadist sahih riwayat Abu  Dawud:
    سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ (3 kali)
    اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاك مِنْ سَخَطِك وَبِمُعَافَاتِك مِنْ عُقُوبَتِك وَأَعُوذُ بِك مِنْك لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسِك .

    Para ulama berbeda pendapat mengenai seseorang yang yang berwitir pada awal malam lalu tidur dan bangun di akhir malam dan melakukan sholat. Sebagian ulama berpendapat bahwa batal witir yang telah dilakukannya pada awal malam dan di akhir malam ia menambahkan satu rakaat pada sholat witirnya, karena ada hadist yang mengatakan “tidak ada witir dua kali dalam semalam”. Witir artinya ganjil, kalau ganjil dilakukan dua kali menjadi genap dan tidak witir lagi, maka ditambah satu rakaat agar tetap witir. Pendapat in diikuti imam Ishaq dll.
    Redaksi hadist tersebut sbb:

    Dari Qais bin Thalk berkata suatu hari aku kedatangan ayahnya Thalq bin Ali di hari Ramadhan, lalu beliau bersama kita hingga malam dan sholat (tarawih) bersama kita dan berwitir juga. Lalu beliau pulang ke kampungnya dan mengimam sholat lagi dengan penduduk kampung hingga sampailah sholat witir, lalu beliau meminta seseorang untuk mengimami sholat witir “berwitirlah bersama makmum” aku mendengar Rauslullah s.a.w. bersabda “Tidak ada witir dua kali dalam semalam” H.R. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, Ahmad dll.

    Pendapat kedua mengatakan tidak perlu witir lagi karena sudah witir di awal malam. Ia cukup sholat malam tanpa witir. Alasannya banyak sekali riwayat dari Rasulullah s.a.w. mengatakan bahwa beliau melakukan sholat sunnah setelah witir. Pendapat ini diikuti Malik, Syafii, Ahmad, Sufyan al-Tsuari dan Hanafi.

     
  • blistyo 3:21 pm on August 30, 2010 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Amalan di Bulan Ramadhan (Ibadah malam Lailatul Qadr) 

    sholat Tahajud

    Lailatul Qadr (atau lebih dikenal dengan malam Lailatul Qadar) mempunyai keutamaan yang sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al-Qur`anul Karim, yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti Sunnah Rasulnya berlomba-lomba untuk beribadah di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

    Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi yang shahih menjelaskan tentang malam tersebut.

    1. Keutamaan Lailatul Qadr
    Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadr dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr:1-5)

    (More …)

     
  • blistyo 2:51 pm on August 18, 2010 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Salat Tarawih Sendirian 

    Assalaamu’alaikum pak ustadz

    Izinkanlah saya untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda, berikut:

    1. Bagaimana
      cara kita melaksanakan salat tarawih sendirian. Artinya, tanpa harus
      pergi ke masjid (atau di masjid tapi sendiri) karena waktu yang tidak
      memungkinkan?
    2. Jika kita melaksanakan tarawih sendiri, apakah
      boleh melakukan salat malam dahulu (tahajud, hajat, sunat lainnya)
      setelah itu baru ditutup dengan salat Witir (kan terakhir?) atau kah
      sebaliknya?

    Saya rasa itu saja yang ingin tanyakan, atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan terima kasih.

    Husnul yaqin – Jakarta

    Jawaban:

    Wa’alaikum Salam Wr. Wb.

    Yth. Sdr. Husnul Yaqin

    Salat
    Tarawih boleh berjamaah dan boleh sendirian. Tata caranya sama. Boleh
    dilaksanakan 8 rakaat karena berlandaskan kepada hadis ‘Aisyah yang
    mengatakan “Rasulullah tidak pernah mendirikan salat malam melebihi 11
    rakaat, baik di bulan Ramadan maupun bulan lainnya, beliau mendirikan
    empat rakaat yang sangat panjang, kemudian empat rakaat lagi yang sangat
    panjang, setelah itu salat tiga rakaat” (H.R. Bukhari).

    Boleh
    juga melaksanakannya sebanyak 20 rakaat sebagaimana yang dilakukan sejak
    masa Umar (dan dihidupan para sahabat lainnya) sampai sekarang. Salat
    20 rakaat ini juga dilaksanakan di masjid-masjid besar Islam seperti
    Masjid al Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

    Salat
    tarawih juga boleh juga dilaksanakan dengan empat rakaat salam, empat
    rakaat salam dan dilanjutkan dengan witir tiga rakaat sebagaimana hadis
    di atas. Demikian juga boleh dilaksanakan setiap dua rakaat salam, ini
    berlandaskan kepada hadis yang mengatakan “Salat malam adalah dua
    rakaat, dua rakaat” (H.R. Jamaah).

    Dalam melaksanakan salat
    tarawih juga disunnahkan duduk sebentar setelah salam, pada setiap
    rakaat keempat. Inilah mengapa disebut tarawih yang artinya “istirahat”,
    karena ‘mushali’ duduk sebentar beristirahat setiap empat rakaat. Tidak
    ada bacaan khusus selama duduk tersebut, namun disunnahkan memperbanyak
    berzikir. Istilah tarawih sendiri belum ada pada zaman Nabi saw. Pada
    saat itu salat tarawih hanya disebut dengaan salat malam atau salat
    ‘qiyam al lail’.

    Salat tahajjud adalah salat malam yang
    dilaksanakan setelah tidur. Apabila salat tarawih dilaksanakan setelah
    tidur maka ini juga termasuk salat tahajjud.

    Disunnahkan juga
    dalam salat tarawih untuk mengeraskan suara dalam membaca Fatihah dan
    surah. Alangkah baiknya bila Saudara dalam melaksanakan salat tarawih
    sendiri, digunakan untuk menghafalkan kembali surah-surah Al Qur’an yang
    pernah Saudara hapal.

    Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga amal kita diterima Allah. Amin.

    Wassalam

    Technorati Tags: , ,

     
  • blistyo 2:42 pm on August 18, 2010 Permalink | Reply  

    Tata Cara Sholat Tarawih 

    Sekedar informasi, bukan berarti aku menyalahkan yg taraweh 20 rakaat…  (insya ALLOH di kesempatan lain aku tuliskan juga artikel ttg sholat taraweh 20 rakaat…

    (Dikutip dari tulisan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, judul asli Sholatut Tarawih, edisi Indonesia Kelemahan Riwayat Tarawih 20 Rakaat.)

    Beberapa Cara Shalat Malam yang dikerjakan Rasulullah shallallahu `alaihi wa allam

    Dari hadits-hadits dan riwayat yang ada dapat disimpulkan bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakan shalat malam dan witir lengkap berbagai cara:

    Pertama.
    Shalat 13 rakaat dan dimulai dengan 2 rakaat yang ringan.
    Berkenaan dengan ini ada beberapa riwayat:
    a. Hadits Zaid bin Khalid al-Juhani bahwasanya berkata: “Aku perhatikan shalat malam Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Yaitu (ia) shalat dua rakaat yang ringan kemudian ia shalat dua rakaat yang panjang sekali. Kemudian shalat dua rakaat, dan dua rakaat ini tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian witir satu rakaat, yang demikian adalah tiga belas rakaat.” (Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr)

    b. Hadits Ibnu Abbas, ia berkata: “Saya pernah bermalam di kediaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam suatu malam, waktu itu beliau di rumah Maimunah radliyallahu anha. Beliau bangun dan waktu itu telah habis dua pertiga atau setengah malam, kemudian beliau pergi ke tempat yang ada padanya air, aku ikut berwudlu bersamanya, kemudian beliau berdiri dan aku berdiri di sebelah kirinya maka beliau pindahkan aku ke sebelah kanannya. Kemudian meletakkan tangannya di atas kepalaku seakan-akan beliau memegang telingaku, seakan-akan membangunkanku, kemudian beliau shalat dua rakaat yang ringan. Beliau membaca Ummul Qur’an pada kedua rakaat itu, kemudian beliau memberi salam kemudian beliau shalat hingga sebelas rakaat dengan witir, kemudian tidur. Bilal datang dan berkata: Shalat Ya Rasulullah! Maka beliau bangun dan shalat dua rakaat, kemudian shalat mengimami orang-orang. (HR. Abu Dawud dan Abu `Awanah dalam kitab Shahihnya. Dan asalnya di Shahihain)

    Ibnul Qayim juga menyebutkan hadits ini di Zadul Ma`ad 1:121 tetapi Ibnu Abbas tidak menyebut bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan sebagaimana yang disebutkan Aisyah.

    c. Hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam apabila bangun malam, memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan, kemudian shalat delapan kemudian berwitir. Pada lafadh lain: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam shalat Isya, kemudian menambah dengan dua rakaat, aku telah siapkan siwak dan air wudhunya dan berwudlu kemudian shalat dua rakaat, kemudian bangkit dan shalat delapan rakaat, beliau menyamakan bacaan antara rakaat-rakaat itu, kemudian berwitir pada rakaat yang ke sembilan. Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sudah berusia lanjut dan gemuk, beliau jadikan yang delapan rakaat itu menjadi enam rakaat kemudian ia berwitir pada rakaat yang ketujuh, kemudian beliau shalat dua rakaat dengan duduk, beliau membaca pada dua rakaat itu “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Idza zulzilat.”

    Penjelasan.
    Dikeluarkan oleh Thahawi 1/156 dengan dua sanad yang shahih. Bagian pertama dari lafadh yang pertama juga dikeluarkan oleh Muslim 11/184; Abu Awanah 1/304, semuanya diriwayatkan melalui jalan Hasan Al-Bashri dengan mu`an`an, tetapi Nasai meriwayatkannya (1:250) dan juga Ahmad V:168 dengan tahdits. Lafadh kedua ini menurut Thahawi jelas menunjukan bahwa jumlah rakaatnya 13, ini menunjukan bahwa perkataannya di lafadh yang pertama: “kemudian ia berwitir” maksudnya tiga rakaat. Memahami seperti ini gunanya agar tidak timbul perbedaan jumlah rakaat antara riwayat Ibnu Abbas dan Aisyah.

    Kalau kita perhatikan lafadh kedua, maka di sana Aisyah menyebutkan dua rakaat yang ringan setelah shalat Isya’nya, tetapi tidak menyebutkan adanya shalat ba’diyah Isya. Ini mendukung kesimpulan penulis pada uraian terdahulu bahwa dua rakaat yang ringan itu adalah sunnah ba`diyah Isya.

    Kedua
    Shalat 13 rakaat, yaitu 8 rakaat (memberi salam setiap dua rakaat) ditambah lima rakaat witir, yang tidak duduk kecuali pada rakaat terakhir (kelima).

    Tentang ini ada riwayat dari Aisyah sebagai berikut: Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidur, ketika bangun beliau bersiwak kemudian berwudhu, kemudian shalat delapan rakat, duduk setiap dua rakaat dan memberi salam, kemudian berwitir dengan lima rakaat, tidak duduk kecuali ada rakaat kelima, dan tidak memberi salam kecuali pada rakaat yang kelima. Maka ketika muadzin beradzan, beliau bangkit dan shalat dua rakaat yang ringan.

    Penjelasan :
    Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad II:123, 130, sanadnya shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim. Dikeluarkan juga oleh Muslim II:166; Abu Awanah II:325, Abu Daud 1:210; Tirmidzi II:321 dan beliau mengesahkannya. Juga oleh Ad-Daarimi 1:371, Ibnu Nashr pada halaman 120-121; Baihaqi III:27; Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla III:42-43.

    Semua mereka ini meriwayatkan dengan singkat, tidak disebut padanya tentang memberi salam pada tiap dua rakaat, sedangkan Syafi’i 1:1/109, At-Thayalisi 1:120 dan Hakim 1:305 hanya meriwayatkan tentang witir lima rakaat saja.

    Hadits ini juga mempunyai syahid dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1:214 daan Baihaqi III:29, sanad keduanya shahih. Kalau kita lihat sepintas lalu, seakan-akan riwayat Ahmad ini bertentangan dengan riwayat Aisyah yang membatas bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas rakaat, sebab pada riwayat ini jumlah yang dikerjakan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam adalah 13 rakaat ditambah 2 rakaat qabliyah Shubuh. Tetapi sebenarnya kedua riwayat ini tidak bertentangan dan dapat dijama’ seperti pad uraian yang lalu. Kesimpulannya dari 13 rakaat itu, masuk di dalamnya 2 rakaat Iftitah atau 2 rakaat ba’diyah Isya.

    Ketiga.
    Shalat 11 rakaat, dengan salam setiap dua rakaat dan berwitir 1 rakaat.

    Dasarnya hadits Aisyah berikut ini: “Adalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam shalat pada waktu antara selesai shalat Isya, biasa juga orang menamakan shalat `atamah hingga waktu fajar, sebanyak 11 rakaat, beliau memberi salam setiap dua rakaat dan berwitir satu rakaat, beliau berhenti pada waktu sujudnya selama seseorang membaca 50 ayat sebelum mengangkat kepalanya”.

    Penjelasan:
    Diriwayatkan oleh Muslim II:155 dan Abu Awanah II:326; Abu Dawud I:209; Thahawi I:167; Ahmad II:215, 248. Abu Awanah dan Muslim juga meriwayatkan dari hadits Ibnu Umar, sedangkan Abu Awanah juga dari Ibnu Abbas.

    Mendukung riwayat ini adalah Ibnu Umar juga: Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tentang shalat malam, maka sabdanya: Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Kalau seseorang daripada kamu khawatir masuk waktu Shubuh, cukup dia shalat satu rakaat guna menggajilkan jumlah rakaat yang ia telah kerjakan.

    Riwayat Malik I:144, Abu Awanah II:330-331, Bukhari II:382,385, MuslimII:172. Ia menambahkan (Abu Awanah): “Maka Ibnu Umar ditanya: Apa yang dimaksud dua rakaat – dua rakaat itu? Ia menjawab: Bahwasanya memberi salam di tiap dua rakaat.”

    Keempat.
    Shalat 11 rakaat yaitu sholat 4 rakaat dengan 1 salam, empat rakaat salam lagi, kemudian tiga rakaat.

    Haditsnya adalah riwayat Bukhari Muslim sebagaimana disebutkan terdahulu. Menurut dhahir haditsnya, beliau duduk di tiap-tiap dua rakaat tetapi tidak memberi salam, demikianlah penafsiran Imam Nawawi. Yang seperti ini telah diriwayatkan dalam beberapa hadits dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak memberi salam antara dua rakaat dan witir, namun riwayat-riwayat itu lemah, demikianlah yang disebutkan oleh Al-Hafidh Ibnu Nashr, Baihaqi dan Nawawi.

    **update, 3 September 2008***
    Hadits yg menyatakan Rasululloh SAW shalat tarawih 4 raka’at dg 1 salam adalah sebagai berikut:
    “Nabi Saw. salat tidak lebih dari sebelas rakaat, baik dalam bulan Ramadhan maupun lainnya: Beliau salat empat rakaat –jangan tanya tentang bagus dan lamanya– kemudian empat rakaat lagi—jangan tanya pula tentang bagus dan lamanya–, kemudian tiga rakaat…” (HR. Muslim)
    **update, 3 September 2008***

    Kelima
    Shalat 11 rakaat dengan perincian 8 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan tersebut, maka beliau bertasyahud dan bershalawat atas Nabi, kemudian bangkit dan tidak memberi salam, selanjutnya beliau witir satu rakaat, kemudian memberi salam (maka genap 9 raka’at). Kemudian Nabi sholat 2 raka’at sambil duduk.

    Dasarnya adalah hadits Aisyah radliallahu `anha, diriwayatkan oleh Sa’ad bin Hisyam bin Amir. Bahwasanya ia mendatangi Ibnu Abbas dan menanyakan kepadanya tentang witir Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam maka Ibnu Abbas berkata: Maukah aku tunjukan kepada kamu orang yang paling mengetahui dari seluruh penduduk bumi tentang witirnya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: Ia bertanya siapa dia? Ia berkata: Aisyah radlillahu anha, maka datangilah ia dan Tanya kepadanya: Maka aku pergi kepadnya, ia berkata: Aku bertanya; Hai Ummul mukminin khabarkan kepadaku tentang witir Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, Ia menjawab: Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudlunya, maka ia bersiwak dan berwudlu dan shalat sembilan rakaat tidak duduk padanya kecuali pada rakaat yang kedelapan, maka ia mengingat Allah dan memuji-Nya dan bershalawat kepada nabi-Nya dan berdoa, kemudian bangkit dan tidak memberi salam, kemudian berdiri dan shalat (rakaat) yang kesembilan, kemudian beliau duduk dan mengingat Allah dan memujinya (at tahiyat) dan bershalawat atas nabi-Nya shallallahu `alaihi wa sallam dan berdoa, kemudian memberi salam dengan salam yang diperdengarkan kepada kami, kemudian shalat dua rakat setelah beliau memberi salam, dan beliau dalam keadaan duduk, maka yang demikian jumlahnya sebelas. Wahai anakku, maka ketika Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menjadi gemuk, beliau berwitir tujuh rakaat, beliau mengerjakan di dua rakaat sebagaimana yang beliau kerjakan (dengan duduk). Yang demikian jumlahnya sembilan rakaat wahai anakku.

    Penjelasan
    Diriwayatkan oleh Muslim II:169-170, Abu Awanah II:321-325, Abu Dawud I:210-211, Nasai I/244-250, Ibnu Nashr halaman 49, Baihaqi III:30 dan Ahmad VI:53,54,168.

    Keenam.
    Shalat 9 rakaat, dari jumlah ini, 6 rakaat beliau kerjakan tanpa duduk (tasyahud) kecuali pada rakaat yang keenam tersebut, beliau bertasyahud dan bershalawat atas Nabi shallallahu `alaihi wa sallam kemudian beliau bangkit dan tidak memberi salam sedangkan beliau dalam keadaan duduk.

    Yang menjadi dasar adalah hadits Aisyah radiyallahu anha seperti telah disebutkan pada cara yang kelima.

    Itulah cara-cara shalat malam dan witir yng pernah dikerjakan Rasulullah, cara yang lain dari itu bisa juga ditambahkan yang penting tidak melebihi sebelas rakaat. Adapun kurang dari jumlah itu tidak dianggap menyalahi karena yang demikian memang dibolehkan, bahkan berwitir satu rakaatpun juga boleh sebagaimana sabdanya yang lalu: “….Maka barang siapa ingin maka ia boleh berwitir 5 rakaat, dan barangsiapa ingin ia boleh berwitir 3 rakaat, dan barangsiapa ingin ia boleh berwitir dengan satu rakaat.”

    Hadits di atas merupakan nash boleh ia berwitir dengan salah satu dari rakaat-rakaat tersebut, hanya saja seperti yang dinyatakan hadits Aisyah bahwasaya beliau tidk berwitir kurang dari 7 rakaat.

    Tentang witir yang lima rakaat dan tiga rakaat dapat dilakukan dengan berbagai cara:
    a. Dengan sekali duduk dan sekali salam
    b. Duduk at tahiyat setiap dua rakaat
    c. Memberi salam setiap dua rakaat

    Al-Hafidh Muhammad bin Nashr al-Maruzi dalam kitab Qiyamul Lail halaman 119 mengatakan: Cara yang kami pilih untuk mengerjakan shalat malam, baik Ramadlan atau lainnya adalah dengan memberi salam setiap dua rakaat. Kalau seorang ingin mengerjakan tiga rakaat, maka di rakaat pertama hendaknya membaca surah “Sabbihisma Rabbikal A’la” dan pada rakaat kedua membaca surah “Al-Kafirun”, dan bertasyahud dirakaat kedua kemudian memberi salam. Selanjutya bangkit lagi dan shalat satu rakaat, pada rakaat ini dibaca Al-Fatihah dan Al-Ikhlash, Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas), setelah itu beliau (Muhammad bin Nashr) menyebutkan cara-cara yang telah diuraikan terdahulu.

    Semua cara-cara tersebut boleh dilakukan, hanya saja kami pilih cara yang disebutkan di atas karen didasarkan pada jawaban Nabi shallallahu `alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang shalat malam, maka beliau menjawab: bahwa shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, jadi kami memilih cara seperti yang beliau pilih.

    Adapun tentang witir yang tiga rakaat, tidak kami dapatkan keterangan yang pasti dan terperinci dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bahwasanya beliau tidak memberi salam kecuali pada rakat yang ketiga, seperti yang disebutkan tentang Witir lima rakaat, tujuh dan sembilan rakaat. Yang kami dapati adalah bahwa beliau berwitir tiga rakaat dengan tidak disebutkan tentang salam sedangkan tidak disebutkan itu tidak dapat diartikan bahwa beliau tidak mengerjakan, bahkan mungkin beliau melakukannya.

    Yang jelas tentang pelaksanaan yang tiga rakaat ini mengandung beberapa ihtimaalat (kemungkinan), diantaranya kemungkinan beliau justru memberi salam, karena demikialah yang kami tafsirkan dari shalat beliau yang sepuluh rakaat, meskipun di sana tidak diceritakan tentang adanya salam setiap dua rakaat, tapi berdasar keumuman sabdanya bahwa asal shalat malam atau siang itu adalah dua rakaat, dua rakaat.

    Sedangkan hadits Ubay bin Ka’ab yang sering dijadikan dasar tidak adanya salam kecuali pada rakaat yang ketiga (laa yusallimu illa fii akhirihinna), ternyata tambahan ini tidak dapat dipakai, karena Abdul Aziz bin Khalid bersendiri dengan tambahan tersebut, sedangkan Abdul Aziz ini, tidak dianggap tsiqah oleh ulama Hadits. Dalam at-Taqrib dinyatakan bahwa dia maqbul apabila ada mutaba’ah (hadits lain yang mengiringi), kalau tidak ia termasuk Layyinul Hadits. Di samping itu tambahan riwayatnya menyalahi riwayat dari Sa’id bin Abi Urubah yang tanpa tambahan tersebut. Ibnu Nashr, Nasai dan Daruqutni juga meriwayatkan tanpa tambahan. Dengan ini, jelas bahwa tambahan tersebut adalah munkar dan tidak dapat dijadikan hujjah.

    Tapi walaupun demikian diriwayatkan bahwa shahabat-shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakan witir tiga rakaat dengan tanpa memberi salam kecuali pada rakaat yang terakhir dan ittiba’ kepada mereka ini lebih baik baik daripada mengerjakan yang tidak dicontohkan. Dari sisi lain perlu juga diketengahkan bahwa terdapat banyak riwayat baik dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, para shahabat ataupun tabi’in yang menunjukan tidak disukainya shalat witir tiga rakaat, diantaranya: “Janganlah engkau mengerjakan witir tiga rakaat yang menyerupai Maghrib, tetapi hendaklah engkau berwitir lima rakaat.” (HR. Al-Baihaqi, At Thohawi dan Daruquthny dan selain keduanya, lihat Sholatut Tarawih hal 99-110).

    Hadits ini tidak dapat dipakai karena mempunyai kelemahan pada sanadnya, tapi Thahawi meriwayatkan hadits ini melalui jalan lain dengan sanad yang shahih. Adapun maksudnya adalah melarang witir tiga rakaat apabila menyerupai Maghrib yaitu dengan dua tasyahud, namun kalau witir tiga rakaat dengan tidak pakai tasyahud awwal, maka yang demikian tidak dapat dikatakan menyerupai. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari II:385 dan dianggap baik oleh Shan’aani dalam Subulus Salam II:8.

    Kesimpulan dari yang kami uraikan di atas bahwa semua cara witir yang disebutkan di atas adalah baik, hanya perlu dinyatakan bahwa witir tiga rakaat dengan dua kali tasyahhud, tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bahkan yang demikian tidak luput dari kesalahan, oleh karenanya kami memilih untuk tidak duduk di rakaat genap (kedua), kalau duduk berarti memberi salam, dan cara ini adalah yang lebih utama.

    Technorati Tags: , ,

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.