Updates from September, 2011 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • blistyo 9:33 am on September 10, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , ,   

    Panduan Sholat Witir 

    Ditulis oleh Dewan Asatidz

    sholat Malam

    Sholat witir hukumnya sunnah muakkadah. Salat Witir disunnahkan setiap hari dan tidak hanya pada bulan Ramadhan. Witir artinya ganjil. Maka jumlah rakaatnya minimum satu rakaat dan maksimum 11 rakaat. Yang paling sempurna adalah 3 rakaat. Bila melaksanakan witir lebih tiga rakaat, maka dilakukan setiap dua rakaat salam dan ditutup dengan satu rakaat. Bila melaksanakan tiga rakaat boleh dilakukan langsung rikaat seperti sholat maghrib. Tetapi sebagian ulama melihat bahwa dipisah lebih utama, yaitu dua rakaat salam lalu satu rakaat, karena ada hadist yang mengatakan

    “Janganlah menyamakan witirmu dengan Maghrib”. Hadist tersebut diriwayatkan oleh Baihaqi dan beliau berkata rawinya bisa dipercaya.

    Akan tetapi tiga rakaat berturu-turut lebih utama dibandingkan hanya satu rakaat. Qadli Abu Tayyib mengatakan bahwa witir satu rakaat hukumnya makruh. Tentu ini bertentangan dengan hadist sahih
    riwayat Abu Dawud yang mengatakan “Barangsiapa ingin witir 5 rakaat silahkan, barangsiapa ingin witir 3 rakaat silahkan dan barangsiapa ingin witir 1 rakaat silahkan”.
    Waktunya adalah mulai setelah salat Isya’ sampai dengan salat Subuh. Kalau seseorang merasa khawatir akan tidak melaksanakan salat witir di tengah atau akhir malam, maka ia sebaiknya melaksanakannya setelah salat Isya’, atau setelah salat Tarawih pada bulan Ramadhan. (More …)
     
  • blistyo 11:10 pm on August 20, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Ramadhan & Lailatul Qadar: Rahasia Penamaan dan Keutamaan Lailatul Qadar 

    Saif Al Battar

    Arrahmah.com – Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada lailatul qadri (malam yang agung), yaitu lailah mubarakah (malam yang dibekahi). Itulah malam yang nilai ibadah pada saat itu lebih utama dari ibadah selama 1000 bulan, yaitu setara dengan ibadah selama 83 tahun 4 bulan. Itulah malam yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Karena besarnya kemuliaan dan keutamaan ibadah di dalamnya, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mencari dan meraih lailatul qadar. (More …)

     
  • blistyo 2:19 am on August 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , ,   

    Antara Shalat Taraweh, Tahajud dan Witir 

    Ditulis oleh Dewan Asatidz
    Apakah perbedaan sholat tarawih dengan sholat tahajud ? apakah jika sudah sholat tarawih tidak perlu sholat tahajud ?
    1. Shalat Tarawih
    Pendapat yang populer dalam jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan Rasulullah adalah sebagai berikut :
    1. 11 rokaat terdiri dari 4 rokaat x 2 + 3 rokaat witir. Ini sesuai dengan hadist A’isyah yang diriwayatkan Bukhari.
    2. 11 rokaat terdiri dari 4 rokaat x 2 + 2 rokaat witir + 1 witir. Ini sesuai dengan hadist Ai’syah riwayat Muslim.
    3. 11 rokaat terdiri dari 2 rokaat x 4 & 2 rokaat witir + 1 witir. Ini juga diriwayatkan oleh Muslim.
    4. Ada juga riwayat Ibnu Hibban yang mengatakan 8 rakaat + witir.
    5. Ada juga riwayat yang mengatakan 13 rakaat termasuk witir.
    Itu adalah diantara riwayat-riwayat yang sahih shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah. Khusus untuk bulan Ramadhan Rasulullah pernah shalat berjamaah bersama sahabat, kemudian hari berikutnya beliau tidak lagi melakukan hal yang sama, ketika ditanya alasannya, beliau menjawab karena khawatir diwajibkan. Kemudian pada masa Umar bin Khattab, karena orang berbeda-beda, sebagian ada yang shalat dan ada yang tidak shalat, maka Umar ingin agar umat Islam nampak seragam, lalu disuruhlah agar umat Islam berjamaah di masjid dengan shalat berjamah dengan imam Ubay bin Ka’b. Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih, artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selasai melakukan shalat 4 rakaat.
    Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan perbedaan riwayat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan pada saat itu : ada yang mengatakan 13 rakaat, ada yang mengatakan 21 rakaat, ada yang mengatakan 23 rakaat. Khusus rakaat shalat tarawih, ada juga yang mengatakan 36 rakaat plus 3 witir, ini diriwayatkan pada masa Umar bin Abdul Aziz. Ada juga yang meriwayatkan 41 rakaat. Bahkan ada yang meriwayatkan 40 rakaat plus 7 rakaat witir. Riwayat dari imam Malik beliau melaksanakan 36 rakaat plus 3 rakaat witir.
    Kebanyakan masyarakat Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat atau 11 rakaat, termasuk witir. Kedua cara ini sama-sama mempunyai landasan dalil yang kuat. Shalat tarawih bisa juga disebut shalat qiyamullail, yaitu shalat yang tujuannya menghidupkan malam bulan Ramadhan. Penamaan shalat tarawih tersebut belum muncul pada zaman Rasulullah s.a.w. (More …)
     
  • blistyo 2:08 am on August 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , ,   

    Ramadhan: Apakah Boleh Solat Witir 3 Rakaat Satu Salam? 

    Kebiasaan yang dilihat ataupun yang dilakukan oleh kia ialah melakukan solat Witir 3 rakaat dengan dua salam. iaitu 2 rakaat dan satu rakaat. Panel Feqh al-ahkam.net pernah ditanya tentang solat Witir 3 rakaat 1 salam. Bolehkah? Atau bagaimana?

    Ustaz al-Jawhar menjawab: Solat witir dikerjakan sebanyak 3 , 5 , 7 ,9 dan 11 rakaat. Bagi yang mengerjakan solat witir 3 rakaat , hendaklah ia tidak duduk (tahiyyat awal) kecuali pada rakaat yang akhir.Iaitu membaca tasyahhud akhir dan salam.Ini berdasarkan hadis Rasulullah saw , daripada Saidatina A’isyah ra : (Baginda saw) tidak duduk sama sekali semasa mengerjakannya melainkan pada rakaat yang terakhir. (HR Muslim no : 737)

    Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah : Tidak harus menjadikan solat witir seperti solat Maghrib.

    Apa yang dapat difahami daripada kata-kata Ibn Taimiyyah ini ialah solat witir itu mestilah berbeza dengan solat maghrib , walaupun sama dari segi bilangan rakaatnya.Maka pada solat witir itu tidak boleh dilakukan tahiyyah awal yang mana jika dilakukan akan menyebabkan persamaan pada kedua-dua solat tersebut (maghrib dan witir).

    Hujjah di atas juga dikuatkan dengan dalil hadis Rasulullah saw :
    Janganlah Kamu mengerjakan solat witir 3 rakaat seperti solat maghrib. (HR Al-Hakim.Ibn Hajar al-‘Asqalani mengatakan sanad hadis ini sahih mengikut Bukhari dan Muslim.Rujuk Fath al-Bari m jilid 4 ,ms :301)

    Sekiranya solat witir yang dilakukan secara jahr , maka bacaan yang perlu dijahrkan hanyalah pada 2 rakaat pertama sahaja , iaitu rakaat pertama dan kedua.Manakala pada rakaat ketiga dibaca secara perlahan (sirr)

    Walaubagaimana pun dibolehkan juga untuk membaca secara jahr pada ketiga-tiga rakaat solat witir tersebut sebagaimana yang di amalkan di Masjid Nabawi , Madinah Al-Munawwarah….WaAllahu A’lam

    Ruj:
    Al-Mulakhkhas Al-Fiqhi , Asy-Syaikh Dr.Salih bin Fauzan
    Taysir al-‘Allam syarh ‘umdatu al-Ahkam , Asy-Syaikh Abdullah bin Abd Rahman Al-Bassam.

    Sumber: http://www.al-ahkam.net/forum09/viewtopic.php?f=95&t=36808

     
  • blistyo 1:55 am on August 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , , ,   

    Tata cara shalat tarawih dan Cara Shalat Witir 

    Bagaimana Sholat Tarawih Sesuai Sunnah Rasulullah Tata cara solat tarawih dan Tata cara Solat Witir

    Berikut adalah Panduan Lengkap Tata cara shalat tarawih dan cara Shalat Witir di

    Bulan Ramadhan.

    Sholat Tarawih

    Syaikh Nashiruddin Al-Albani  telah menjelaskan perincian tentang tata cara shalat

    tarawih dalam kitab “Shalat Tarawih” (hal.101-105), kemudian disini diringkasnya untuk

    mempermudah pembaca dan sebagai peringatan.

    Cara Pertama

    Shalat 13 rakaat yang dibuka dengan 2 rakaat yang ringan atau yang pendek, 2 rakaat

    itu menurut pendapat yang kuat adalah shalat sunnah ba’diyah Isya’. Atau 2 rakaat yang

    dikhususkan untuk membuka shalat malam, kemudian 2 rakaat panjang sekali, kemudian

    2 rakaat kurang dari itu, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat

    kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian witir 1

    kali.

    Cara Kedua

    Shalat 13 rakaat diaantaranya 8 rakaat salam pada setiap 2 rakaat kemudian melakukan

    witir 5 rakaat tidak duduk dan salam kecuali pada rakaat kelima.

    Cara Ketiga

    Shalat 11 rakaat, salam pada setiap 2 rakaat dan witir 1 rakaat.

    Cara Keempat

    Shalat 11 rakaat, shalat 4 rakaat dengan 1 salam, kemudian 4 rakaat lagi seperti itu

    kemudian 3 rakaat. Lalu apakah duduk (tasyahud –pent) pada setiap 2 rakaat pada yang

    4 dan 3 rakaat? Kami belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dalam masalah ini.

    Tapi dudukpada rakaat kedua dari yang tiga rakaat tidak disyariatkan !.

    Cara Kelima

    Shalat 11 rakaat diantaranya 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada yang kedelapan, (pada

    yang ke-8 ini –pent) bertsyahud dan bershalawat kepada Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa

    sallam, kemudian berdiri lagi dan tidak salam, kemudian witir 1 rakaat, lalu salam, ini

    berjumlah 9 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat lagi sambil duduk.

    Cara Keenam

    Shalat 9 rakaat, 6 rakaat pertama tidak diselingi duduk (tasyahud –pent) kecuali pada

    rakaat keenam dan bershalawat kepada Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya

    sebagaimana tersebut dalam cara yang telah lalu.

    Inilah tata cara yang terdapat dari Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam secara jelas, dan

    dimungkinkan ditambah cara-cara yang lain yaitu dengan dikurangi pada setaip cara

    berapa rakaat yang dikehendaki walaupun tinggal 1 rakaat dalam rangka mengamalkan

    hadist Rasulullah Shallaalhu ‘alaihi wa sallam yang telah lalu (“…Barangsiapa yang ingin,

    witirlah dengan 5 rakaat, barangsiapa yang ingin, witirlah dengan 3 rakaat, barang siapa

    yang ingin,witirlah dengan 1 rakaat) [Faedah penting : Berkata Ibnu Khuzaimah dalam

    “Shahih Ibni Khuzaimah” 2/194, setelah menyebutkan hadist Aisyah dan yang lainnya

    pada sebagian cara-cara tersebut, maka dibolehkan shalat dengan jumlah yang ana dari

    yang diasukai dari yang telah diriwayatkan daari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    melakukannya tida larangan bagi siapapun padanya, Saya katakan: Ini difahami sangat

    sesuai dengan apa yang kita pilih yang konsisten dengan jumlah yang shahih. Dari Nabi

    Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menambahinya. Segala puji bagi Allah atas taufiq-

    Nya dan aku meminta Nya untuk menambahi keutamaan-Nya.] [1].

    Shalat 5 dan 3 rakaat ini, jika seseorang menghendaki untuk melakukannya dengan 1

    kali duduk (tasyahud –pent) dan satu kali salam sebagaimana pada cara kedua, boleh.

    Dan jika ingin, bisa dengan salam pada setiap 2 rakaat seperti pada cara ketiga dan yang

    lain dan itu lebih baik[2]. Adapun shalat yang 5 dan 3 rakaat denagn duduk (tasyahud –

    pent) pada setiap 2 rakaat tanpa salam, kita tidak mendapatinya terdapat dari Nabi

    Shallaalhu ‘alaihi wasallam, pada asalnya boleh, akan tetapi nabi Shallaalhu ‘alaihi wa

    sallam ketika melarang untuk 3 rakaat dan memberikan alasannya dengan sabda beliau

    “Jangan serupakan dengan shalat mahgrib…” (diriwayatkan At-Thahawi dan Daruquthni

    dan selain keduanya lihat “Shalatut Tarawih” hal 99-110) .

    Maka bagi yang ingin shalat witir 3 rakaat hendaknya keluar dari cara penyerupaan

    terhadap mahgrib dan itu dengan 2 cara :

    1. Salam antara rakaat genap dan ganjil itu lebih utama.

    2. Tidak duduk (tasyahud –pent) antara genap dan ganjil, (yakni pada rakaat kedua –

    pent).

    (Dinukil dari terjemahan kitab “Qiyamu Ramadhan”, karya Syaikh Muhammad

    Nashiruddin al Albani, edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu

    ‘alaihi wa sallam ”, Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Bab “Tata Cara Shalat

    Tarawih”

    Hal : 60 – 71, Penerbit “Cahaya Tauhid Press) (More …)

     
  • blistyo 1:13 am on August 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , ,   

    SOAL JAWAB RAMADAN 2 AMALAN AMALAN DI BULAN… 

    AMALAN-AMALAN DI BULAN RAMADAN

    1. Apakah cara terbaik untuk saya menghayati bulan Ramadan dan menambah amalan di dalamnya?

    Firman Allah S.W.T dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 yang bermaksud: “Bulan Ramadan diturunkan padanya Al Quran, sebagai petunjuk itu dan pembeda (di antara yang hak dan yang batil).”

    Sesuai dengan bulan Al-Quran ini, maka penghayatannya melibatkan tiga cara:

    1. Berusaha membanyakkan amal baik dengan tujuan mngukuhkan keimanan dan mendapat keredhaan Allah S.W.T.

    2. Mempertingkatkan ilmu, melalui pembacaan dan pengkajian Al-Quran, serta mempelajari sejarah Baginda Rasulullah S.A.W.

    3. Menghayati nilai murni yang ditunjukkan dalam Al-Qur’an, terutama dari sudut akhlak. Tingkah laku kita sebagai orang yang beriman harus mencerminkan akhlak mulia yang diajar dalam kitab tersebut.

    Penghayatan bulan Ramadan dan Al-Quran tidak terbatas dalam lingkungan solat dan puasa secara ritual sahaja. Malah, lebih dari itu, mesti menghayatinya dalam setiap aspek kehidupan seharian dan melahirkannya dalam tingkah laku, pertuturan dan gerak hati kita.

    2. Saya ingin menunaikan solat terawih. Bagaimana caranya?

    Solat terawih adalah sangat digalakkan pada malam-malam Ramadan. Ia adalah ibadat khusus di dalam bulan Ramadan, dan tidak dilakukan pada bulan-bulan lain.

    Masanya adalah setelah seseorang itu mengerjakan solat fardu Isyak. Afdal (utama) dikerjakan berjemaah di masjid. Namun, boleh dikerjakan bersendirian juga.

    Solat terawih boleh dilaksanakan sebanyak 8 rakaar, 20 rakaat atau 36 rakaat, setiap 2 rakaat dengan satu salam. Cara menunaikannya adalah sama seperti solat sunat biasa (seperti sunat qabliyah (sebelum) atau ba’diyah (selepas) bagi solat fardhu lima waktu).

    Menurut hadis Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah R.A maksudnya:

    “Adalah Rasulullah S.A.W sangat sukacita menganjurkannya supaya beramal di malam-malam bulan Ramadan, hanya Baginda itu tidak menganjurkannya dengan keras. Baginda S.A.W bersabda: “Sesiapa yang menunaikan ibadat solat pada malam-malam bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan semata-mata kerana Allah S.W.T, nescaya diampunkan oleh Allah dosa-dosanya yang lalu.”

    3. Bagaimana saya boleh mengerjakan solat witir?

    Witir bermakna angka yang ganjil. Solat witir boleh dikerjakan pada tiap-tiap malam dan yang lebih afdal adalah pada bulan Ramadan, samada bersendirian atau berjemaah. Solat ini dikerjakan sekurang-kurangnya 1 rakaat dan boleh dikerjakan 3 rakaat, 5 rakaat, 7 rakaat, 9 rakaat dan sebanyak 11 rakaat.

    Imam Abu Daud dan An-Nasa’I telah meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Ayyub yang maksudnya: “Rasulullah S.A.W pernah bersabda “Solat witir itu adalah benar. Siapa yang suka mengerjakannya lima rakaat, kerjakanlah. Siapa yang suka mengerjakannya tiga rakaat kerjakanlah, dan siapa yang suka mengerjakannya satu rakaat sahaja pun, kerjakanlah.”

    Niat witir dua rakaat di dalam jemaah adalah seperti: “Sahaja aku solat witir dua rakaat menjadi makmum kerana Allah ta’ala.” Niat witir satu rakaat pula di dalam jemaah adalah seperti: “Sahaja aku solat witir satu rakaat menjadi makmum kerana Allah ta’ala.”

    4. Saya ingin mengerjakan solat witir berjemaah di masjid.

    Namun, saya berniat ingin bangun waktu malam. Bolehkah saya mengerjakan solat witir sekali lagi, sedangkan tidak ada dua witir pada satu malam, seperti hadith Rasulullah S.A.W?

    Solat witir boleh dilaksanakan dari 1 sehingga 11 rakaat. Ia dilaksanakan selepas solat terawih di kebanyakan masjid untuk menutup tirai solat di waktu malam di dalam bulan Ramadan. Oleh yang demikian, sekiranya seseorang itu telah menunaikan solat witir sebanyak 3 rakaat selepas terawih dan kemudian bangun di waktu malam menunaikan solat tahajjud, ia boleh menunaikan solat witir sebagai penambahan bagi 3 rakaat yang dilaksanakan selepas terawih.

    Caranya adalah dengan hanya bersolat 2, 4, 6, atau 8 rakaat dengan niat “Sahaja aku dirikan 2 rakaat dari solat sunat witir kerana Allah ta’ala.” Dengan demikian, ia tidak dikira mendirikan 2 witir pada satu malam kerana

    Baginda Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud: “Tidak ada dua witir pada satu

    malam.”

    5. Saya terdengar seorang Ustaz menyebut kelebihan solat malam yang dinamakan solat tahajjud. Apakah solat itu, dan bagaimana boleh saya melaksanakannya?

    Solat tahajjud dianjurkan selepas tidur di waktu malam dan sebelum tiba waktu subuh. Ia boleh dilaksanakan sebanyak mungkin, dengan setiap dua rakaat satu salam.

    Firman Allah dalam surah Al-Isra’ ayat 19 yang bermaksud: “Pada sebahagian

    malam, bersolat tahajjudlah kamu sebagai satu ibadat tambahan.”

    Niat bagi solat ini adalah seperti: “Sahaja aku solat sunat tahajjud dua rakaat kerana

    Allah ta’ala.”

    6. Apakah itu iktikaf?

    Iktikaf artinya berhenti seketika atau lebih di dalam masjid dengan niat beribadat atau menghampirkan diri kepada Allah.

    Hukumnya sunat dan istimewa pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.

    Sayidatina Aisyah R.A meriwayatkan yang maksudnya: “Adalah Rasulullah S.A.W melakukan iktikaf sesudah tanggal 20 Ramadan. Hal ini menjadi amalan Baginda hingga Baginda wafat.”

    Niat iktikaf adalah seperti: “Sahaja aku beriktikaf dalam masjid ini kerana

    Allah ta’ala.”

    7. Saya sering mendengar tentang istimewanya malam Lailatul qadar. Adakah perlu saya beribadat pada malam tersebut? Kalau ia, bagaimana?

    Firman Allah dalam Surah Al-Qadr ayat 1-3 yang bermaksud: “Kami telah menurunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qadar. Adakah kamu tahu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan…”

    Para Ulama berselisih pendapat tentang masanya Lailatul Qadar. Di antara pendapat tentang masanya Lailatul Qadar jatuh pada malam-malam yang ganjil selepas tanggal 20 Ramadan iaitu: 21, 23, 25, 27 atau 29 Ramadan.

    Pada malam-malam itu, sangat elok kalau kita memperbanyakkan ibadat seperti solat, membaca Al-Quran, berselawat, berzikir dan memohon doa minta diampunkan dosa.

    Imam Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tarmidzi telah melaporkan sebuah hadis yang diterimanya dari Sayidatina Aisyah R.A bahwa Rasulullah S.A.W telah mengajarkan kepadanya doa yang diucapkan pada malam Lailatul Qadar iaitu yang bermaksud: “Wahai Tuhanku, bahawasanya Engkau Tuhan yang maha Pemaaf, Engkau menggemari kemaafan, maka maafkanlah daku.”

     
  • blistyo 1:00 am on August 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , , ,   

    Kelebihan Solat Sunat Witir Di Bulan Ramadhan. 

    Solat Witir ialah solat sunat yang dikerjakan pada waktu malam selepas solat isyak sehingga terbit fajar saddiq (sebelum masuk waktu subuh), lebih afdal lagi bila ia dilakukan pada sepertiga malam yang terakhir. Ia boleh dilakukan setiap malam, tidak hanya pada bulan ramadhan sahaja.

    Solat Witir adalah solat yang unik kerana dikerjakan pada jumlah rakaat yang ganjil jumlahnya iaitu sekurang-kurangnya satu rakaat, selebihnya 11 rakaat. Paling afdal ialah 3 rakaat iaitu dimulai dengan solat witir dua rakaat satu salam dan disambung dengan solat witir satu rakaat satu salam. Kerana ianya unik, Solat witir mesti dilakukan dengan rakaat yang ganjil sebagai penyudah.

    Solat witir sangat digalakkan untuk dilakukan berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw

    Rasulullah saw, bersabda yang bermaksud:

    “Sesungguhnya Allah itu witir (ganjil), dan Dia menyukai witir, maka lazimkanlah solat witir, wahai ahli Al-Quran.”

    Hadis Riwayat Abu Daud dan Tirmizi.

    “Sesiapa yang mengerjakan sembahyang dhuha, berpuasa tiga hari daripada sebulan dan tidak pernah meninggalkan sembahyang witir sama ada dalam pelayaran dan bermuqim, dicatat baginya pahala orang syahid.”

    Hadis riwayat at-Thabran

    “Witir itu hak (benar). Barangsiapa yang tidak berwitir ia bukan dari golongan kita! Witir itu hak maka barang siapa yang tidak mengerjakannya ia bukan dari golongan kita! Witir itu hak, barangsiapa yaang tidak mengerjakannya maka ia bukan dari golongan kita!

    Hadis Riwayat Ahmad dan Abu Daud

    Kelebihan Solat Witir

    Nabi Muhammad saw bersabda:

    “Sesungguhnya Allah telah memberikan (hadiahkan) kepada kamu satu solat, yang mana ianya adalah lebih baik daripada unta-unta yang terbaik. Iaitulah Solat Witir.

    Hadis Riwayat Abu Daud, Tarmizi dan Ibnu Majah

     

    Gambaran masyarakat Arab ketika itu ialah sesiapa yang memiliki unta yang terbaik akan dianggap sebagai orang yang berharta dan kaya. Boleh diibaratkan seperti zaman sekarang ialah orang ynag berstatuskan jutawan, memiliki kekayaan.

    Bayangkan berapa lama untuk mengumpulkan harta sehingga menjadi jutawan dan memiliki kekayaan, adalak kita cuma perlu lakukan selama 10 tahun ? 30 tahun untuk menjadi seorang jutawan?

    Tetapi dengan mengerjakan solat witir dengan hanya satu rakaat sahaja, melebihi daripada apa yang kita idamkan iaitu menjadi jutawan dan miliki harta yang berlimpah luah. Bayangkan pula jika solat witir itu dilakukan 3 rakaat atau 5 rakaat. Berapa kali ganda kekayaan yang boleh dibayangkan dengan hanya mengerjakan solat witir.

    Tetapi ini hanyalah satu perumpamaan, apa yang diterangkan oleh Rasulullah saw adalah untuk memudahkan fahaman kita kepada gambaran kebendaan, sedangkan di Akhirat nanti balasan yang diterima adalah berkali ganda di dalam syurga.

    Ia seolah-olah mengambarkan betapa mudahnya kita boleh menjadi kaya raya iaitu hanya mengambil masa beberapa minit sahaja. Ternyata hadiah ini sememangnya bernilai diberikan oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Terlalu mudah untuk hamba-hamba-Nya memasuki syurga tetapi hanya segelintir sahaja yang mengambil manafaatnya,

    Oleh yang demikian janganlah ditinggalkan solat witir, kerjakanlah walaupun hanya sedikit bilangan rakaatnya tetapi berterusan. Amalan yang berterusan tetapi sedikit adalah perkara yang disukai oleh Allah swt.

    Sebagai mana di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra yang bermaksud

    “Ditanya Nabi Muhammad saw tentang amalan-amalan yang disukai oleh Allah. Baginda bersabda: “Amalan yang berterusan walaupun sedikit.”

    Hadis riwayat Bukhari

     
  • blistyo 5:02 am on May 31, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Do’a di sepertiga malam terakhir Saif Al Battar. 

    Di antara doa yang mustajab (mudah diijabahi atau dikabulkan) adalah doa di sepertiga malam terakhir. Namun kita sering melalaikan hal ini karena waktu malam kita biasa diisi dengan tidur lelap. Cobalah kita bertekad kuat untuk mendapatkan waktu tersebut. Malamnya kita isi dengan shalat tahajjud dan memperbanyak do’a pada Allah atas setiap hajat kita. (More …)

     
  • blistyo 4:16 am on May 12, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    Shalat Sunnah Witir 

    Shalat sunnah witir ialah shalat sunnah lail yang dikerjakan dengan bilangan rakaat yang ganjil (witir = ganjil)

    عَنْ عَلِيٍّ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اَوْتِرُوْا يَا اَهْلَ اْلقُرْاٰنِ فَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ اْلوِتْرَ. ﴿الجمعة وصححه ابن خزيمة﴾

    Dari ‘Ali RA, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW, “Berwitirlah kamu hai ahli Qur’an karena sesungguhnya Allah itu witir/tunggal, Ia suka kepada (shalat) witir”. [Diriwayatkan oleh Khamsah dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah]

    Waktu shalat witir

    Pada setiap malam, baik di malam maupun di luar Ramadlan, boleh dikerjakan di awal, pertengahan ataupun di akhir malam. Baik sebelum maupun sesudah tidur. Kesemuanya itu pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

    عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ:مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ اَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص مِنْ اَوَّلِ اللَّيْلِ وَاَوْسَطِهِ وَاٰخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ اِلَى السَّحَرِ. ﴿الجماعة﴾

    Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Dalam seluruh (bagian) malam Rasulullah SAW pernah mengerjakan witir, di permulaan malam, dipertengahannya, dan di akhirnya, hingga witirnya selesai pada waktu sahur”. [HR Al-Jama’ah]

    عَنْ جَابِرٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ خَافَ اَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ اخَِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرُاَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ اَنْ يَقُوْمَ اَخِرَهُ فَلْيُوْتِرْ اَخِرَ اللَّيْلِ. فَاِنَّ صَلاَتَ اَخِرِاللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ وَذَلِكَ اَفْضَلُ. ﴿مسلم ١:٥٢٠﴾

    Dari Jabir RA, ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa khawatir tidak akan bangun pada akhir malam, maka bolehlah berwitir pada awal malam. Dan barangsiapa berkeyakinan mampu bangun malam di ahir malam, maka hendaklah mengerjakan witir pada saat itu, karena shalat di akhir malam itu disaksikan  dan yang demikian itu lebih utama”. [HR Muslim   juz 1, hal 520]

    Bilangan Rakaat serta Cara Pelaksanaan Shalat Witir

    a.   Satu Rakaat, berdasarkan sabda Nabi SAW :

    عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلىَّ رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُلَهُ مَاقَدْ صَلَّى. ﴿مسلم ١:٥١٦﴾

    Dari Ibnu ‘Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam. Maka Rasulullah SAW menjawab, ‘Shalat malam itu dua (rakaat) dua (rakaat), maka apabila seseorang di antara kamu khawatir masuk waktu Shubuh hendaklah shalat witir 1 rakaat. Yang serakaat  itu mewitirkan shalat yang telah dikerjakan”. [HR. Muslim juz 1 hal 516]

    b.  Tiga Rakaat. Bila melaksanakan 3 rakaat, maka harus  dengan satu tasyahud di rakaat yang akhir, lalu salam, sebagaimana  riwayat di bawah ini :

    قَالَتْ عَائِشَةُ رض:كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُوْتِرُبِثَلاَثٍ وَلاَ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ. ﴿ احمد والنسائى، ولفظه : كَانَ لاَ يُسَلِّمُ فِى رَكْعَتَيِ اْلوِتْرِ. فى نيل الاوطار ٣:٤٠﴾

    ‘Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW pernah berwitir dengan 3 rakaat, tidak mengadakan pemisahan antaranya (mengerjakan dengan sekali salam)”. [HR. Ahmad dan An-Nasai] Adapun dalam loafadh Nasai : Adalah beliau tidak salam pada dua rekaat dalam shalat witir tersebut. [Naillul Authar juz 3 hal 40]

    Dan tidak diperkenankan shalat witir yang 3 itu dengan 2 rakaat salam, kemudian disambung dengan 1 rakaat lalu salam. Hal ini menyalahi riwayat ‘Aisyah di atas dan juga menyalahi arti witir itu sendiri, karena witir itu artinya ganjil. Sedang 2 itu artinya genap, jadi tidak dapat dikatakan  witir. Dan juga tidak diperkenankan shalat 3 rakaat tersebut dengan 2 tasyahud 1 salam. Sebab ini menyerupai maghrib, yang demikian itu dilarang oleh Nabi SAW sebagaimana hadits dibawah ini. Sabda Nabi SAW:

    لاَتُوْتِرُوْا بِثَلاَثٍ. اَوْتِرُوْابِخَمْسٍ اَوْبِسَبْعٍ وَلاَ تُشَبِّهُوْابِصَلاَةِاْلمَغْرِبِ.﴿الدارقطنى ٢:٢٤﴾

    Jangan kamu shalat witir 3 rakaat, (tetapi) shalatlah witir 5 atau 7, dan janganlah kamu menyerupai dengan shalat maghrib”.[HSR.Daruquthni juz 2 hal 24]

    Keterangan

    Dalam hadist ini, Rasullullah SAW melarang kita shalat witir 3 rakaat dan memerintahkan untuk shalat dengan 5 rekaat atau 7 rekaat.  Sedang hadist lain menerangkan bahwa Rasullullah SAW sendiri mengerjakan shalat witir dengan 3 rekaat. Maka dari kedua macam hadist tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa : “Yang dilarang mengerjakan shalat witir 3 rekaat itu adalah yang menyerupai shalat maghrib, sedang shalat witir 3 rekaat yang tidak serupa dengan shalat maghrib tidak dilarang,bahkan dikerjakan oleh Rasullulah SAW itu sendiri.”

    c.   5 Rakaat dengan satu tasyahud di rakaat yang terakhir kemudian salam.Berdasar riwayat sebagai berikut:

    قَا لَتْ عَائِشَةَ:كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَرَكْعَةً يُوْتِرُمِنْ ذَٰلِكَ بِخَمْسٍ وَلاَ يَجْاِسُ فِى شَيْءٍ مِنْهُنَّ اِلاَّ فِى اٰخِرِهِنَّ. ﴿ احمد و البخارى و مسلم فى نيل الاوطار ٣:٤٢  ﴾

    ‘Aisyah RA berkata,”Rasullulah SAW shalat di malam hari 13 rekaat, dari 13 rekaat itu beliau shalat witir 5 rekaat. Beliau tidak duduk (attahiyat) pada sesuatu rekaat dari yang 5 ini, melainkan pada akhirnya”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim  dalam Nailul Authar juz 3 hal 42].

    d.  7 Rakaat dengan 2 tasyahud di rekaat 6 dan 7 lalu salam. Berdasar riwayat sebagai berikut:

    عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص لمَاَّ كَبُرَوَضَعُفَ اَوْتَرَ بَسَبْعِ رَكَعَاتٍ لاَ يَقْعُدُ اِلاَّ فىِ السَّادِسَةِ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ فَيُصَلِّى السَّابِعَةَ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمَةً.﴿ ابن حزم فى المحلى ٣:٤٥ ﴾

    Dari Aisyah RA, bahwasanya Rasullulah SAW setelah lanjut usia dan lemah badannya, beliau berwitir dengan 7 rekaat dan tidak duduk kecuali pada rekaat yang ke 6, kemudian berdiri tanpa salam lalu menyelesaikan rekaat yang ke 7 kemudian salam dengan satu kali salam. [HR.Ibnu Hazm  dalam Al-Muhalla juz 3 hal 45].

    e.  9 Rakaat dengan 2 tasyahud di rekaat ke 8 dan 9 setelah itu salam Berdasar riwayat sebagai berikut:

    عَنْ سَعِيْدِ بْنِ هِشَامٍ اَنَّهُ قَالَ لِعَائِشَةَ. اَنْبِئِيْنِى عَنْ وِتْرِرَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَتْ: كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُوْرَهُ فَيَبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ اَنْ يََبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَ يُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيْهَا اِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْْكُرُ اللهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوْهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَابُنَيَّ. ﴿ مسلم  ١:٥١٣﴾

    Dari Sa’id bin Hisyam bahwasanya ia bertanya kepada ‘Aisyah RA, “(Ya ‘Aisyah), beritahukanlah kepadaku tentang shalat witir Rasulullah SAW”. Jawab ‘Aisyah, “Kami biasa menyediakan penggosok gigi dan air wudlu bagi Rasulullah SAW, lalu beliau bangun malam pada waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau menggosok gigi dan berwudlu lalu shalat (witir) sembilan rekaat dan beliau tidak duduk (attahiyat) melainkan pada rakaat yang ke delapan, lalu beliau menyebut, memuji dan berdo’a kepada Allah. Kemudian beliau bangun dengan tidak mengucap salam dan berdiri shalat (rekaat) yang ke sembilan, kemudian beliau duduk (attahiyat) menyebut, memuji dan berdo’a kepada Allah, kemudian beliau mengucap dalam sehingga terdengar oleh kami. Setelah itu beliau shalat 2 rekaat dengan duduk. Yang demikian itu jadi 11 rekaat hai anakku”. [HSR Muslim juz 1 hal 513]

    Dan kita dilarang mengerjakan 2 kali shalat witir pada satu malam.

    عَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ رض قَلَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ص يَقُوْلُ: لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ.﴿احمد والترمذي وصححه ابن حبان﴾

    Dari Thalq bin Ali, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dua witir pada satu malam”. [HR Ahmad, Nasai, Tirmidzi dan dishahkan oleh Ibnu Hibban]

    f. Bacaan Sesudah Shalat Witir

    Menurut riwayat Nasa’i, Rasulullah SAW setelah shalat witir beliau membacaSubhaanal Malikil Qudduus  3 kali.

    عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عَبْدِالرَّحْمٰنِ بْنِ اَبْزَى عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص، كَانَ يُوْتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلاَعْلٰى، وَقُلْ يٰۤايُّهَا اْلكَافِرُوْنَ، وَقُلْ هُوَاللهُ اَحَدٌ. فَاِذَا فَرَغَ قَالَ: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ ثَلاَ ثًا وَ يَمُدُّ فِى الثَّالِثَةِ. ﴿النسائى ٣:٢٤٧﴾

    Dari Qatadah dari Zurarah dari Abdur Rahman bin Abza dari Rasulullah SAW di dalam shalat witir membaca surat Al-A’laa, Al-Kaafirun dan Al-Ikhlash. Setelah selesai lalu beliau mengucapkan, “Subhaanal Malikil Qudduus 3 kali, dan beliau memanjangkan pada bacaan yang ketiga”. [HR Nasaiy juz 3 hal 247]

    Dan menurut riwayat Thabrani, setelah bacaan tersebut ada tambahan Rabbul malaaikati war ruuh” (namun tambahan ini tidak shahih, karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Isa bin Yunus, yang tidak diketahui jarh-ta’dilnya)

    Adapun bacaan “Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa, fa’fu ‘annii” itu adalah bacaan bila mengetahui Lailatul Qadr, sebagaimana riwayat berikut :

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرَأَيْتَ اِنَّ عَلِمْتُ اَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ مَا اَقُوْلُ فِيْهَا؟ قِالَ : اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي . ﴿ الترمذي، وَ قَالَ: هَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ، ٥:١٩٥، رقم ٣٥٨٠﴾

    Dari ‘Aisyah, ia berkata : Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau apabila aku mengetahui bahwa malam itu malam Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca?”, Beliau menjawab, “Bacalah Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa, fa’fu ‘annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku)”. [HR Tirmidzi, dia berkata hadis ini hasan sahih, juz 5 hal 195 no. 3580]

    Lafadh tersebut juga diriwayatkan oleh Ahmad juz 9 hal 526, juz 9 hal 547 dan juz 10 hal 24. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah juz 2, hal 1265, no. 3850. Namun dalam ‘Aridlatul Ahwadzi dengan lafadh :

    اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي ﴿ الترمذى، فى عارضة الا حو ذى ١٣:٤٢ ، رقم : ٣٥١٣﴾

    Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku. [HR Tirmidzi, dalam ‘Aridlatul Ahwadzi juz 13 hal 42 no. 3513)

    D. SHALAT IFTITAH

    Shalat Iftitah adalah shalat sunnah dua rakaat yang ringan untuk mengawali shalat lail.

    عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيُّ ص قَالَ: اِذَا قَامَ اَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَحْ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ. ﴿ مسلم ١:٥٣٢  ﴾

    Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kamu bangun pada malam hari, maka hendaklah ia membuka shalatnya dengan dua rekaat yang ringan.”  [HR Muslim  juz 1 hal 532]

    ~oO[A]Oo~

     
    • reza 6:44 pm on May 16, 2011 Permalink | Reply

      blog anda bagus>>>

      saya ajungi jempol!!!!

      dan saya hanya sekedar mampir ya sekalian blogwalking!!!

      jika bernit liat blog saya kunjungin balik jja!!!!

  • blistyo 4:36 am on March 12, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , ,   

    tata cara tahajjud ala Rasullullah SAW 

    Tentu sudah banyak trit membahas keistimewaan & manfaat shalat tahajjud. Mulai dari memberikan ketenangan batin, hingga penyembuhan terhadap penyakit2 lahiriah seburuk kanker. Besarnya fadillah shalat tahajjud tsb tentu membuat tidak sedikit diantara kita terketuk melaksanakannya. Namun, sayangnya tidak sedikit pula diantara kita yg terlupa, atau bahkan belum mengetahui sama sekali bagaimana tata cara shalat tahajjud sesuai sunnah Rasullullah SAW (shalawat dan salam selalu utk Beliau).

    catatan:
    Sudah barang tentu shalat Rasulullah tidak dapat persis disamai dari segi kualitas, misalnya saja, beliau berdiri membaca ayat hampir 50 ayat dalam satu raka’at, belum termasuk rukuk dan sujud Beliau yang lamanya sama dengan 50 ayat tsb. Sehingga wajarlah –sesuai kesaksian Aisyah ra.– bahwa Rasulullah SAW shalat hingga kaki Beliau bengkak….  

    1. Tidur terlebih dahulu

    mengapa sebaiknya tidur dulu ?Supaya ketika tahajjud kita tidak terlalu ngantuk, kecuali agan2 yg biasa begadang , maka kita dianjurkan tidur terlebih dahulu. Di zaman yang serba canggih ini tentu sangat mudah bagi kita untuk dapat bangun tepat waktu. Kita gampang saja nyetel alarm henpon pada jam sepertiga malam terakhir agar kita mendapati waktu tahajjud yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:

    Dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Shalat yang paling disukai oleh ALLAH subhanahu wa ta’ala adalah shalatnya Nabi Dawud ‘alaihissalam. Dan puasa yang paling disukai oleh ALLAH subhanahu wa ta’ala adalah puasanya Nabi Dawud. Beliau biasa tidur seperdua malam dan shalat pada sepertiganya, kemudian tidur lagi seperenamnya. Dan beliau berpuasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari.” (HR Bukhari)

    2. Bangun pada sepertiga malam terakhir
    Jika 1 (satu) malam dihitung sejak masuk waktu Isya dan berakhir pada masuk waktu Subuh, yang berarti 1 malam = 9 jam, maka ini berarti sepertiga terakhir malam berada pada jam 01:30AM hingga 04:30AM. Wallahu ‘alam…Setelah bangun, segera bersiwak/menggosok gigikemudian berwudhu….anjuran untuk menggosok gigi tsb berasal dari hadits mutafaq‘alaihi: Dari Hudzaifah ia berkata bahwa apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun untuk melaksanakan shalat Tahajjud, beliau menggosok giginya dengan siwak.” [HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad Darami]

    JUMLAH RAKA’AT

    Tahajjud hendaknya diiringi dengan Witir. Karena itu kitapun berpendapat bahwa Witir ini harus menyertai Tahajjud, yaitu dengan jumlah raka’at maksimal 11 (sebelas) yang terdiri dari;

    Shalat Tahajjud sebanyak 10 (sepuluh) raka’at dengan setiap dua raka’at maka satu salam. Berarti ada lima kali salam.

    Shalat Witir sebanyak 1 raka’at dengan satu salam.

    Dari Qasim bin Muhammad, katanya dia pernah mendengar Aisyah berkata: “Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam 10 raka’at. Kemudian beliau Witir 1 raka’at. Sesudah itu shalat sunat Fajar 2 raka’at. Jadi jumlahnya 13 raka’at.” [HR Muslim]
    Dari Jabir katanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya orang. Tanyanya: “Shalat (malam) bagaimanakah yang lebih baik?” Rasulullah menjawab: “Yang lama berdirinya.” [HR Muslim]

    …masih banyak lagi hadis shahih lainnya dari Bukhari dan Muslim yang menyebut tentang anjuran mengerjakan Tahajjud bersamaan dengan Witir yang jumlahnya adalah 11 (sebelas) raka’at. (10 Tahajjud + 1 Witir).

    Kemudian jika ada yang bertanya, bolehkah melebihi dari 11 raka’at??? Maka kita katakan Rasulullah sudah mencontohkan cukup 11, meskipun sebenarnya kita mampu lebih dari itu. Namun yang utama dari pahala shalat adalah kekhusyuan, bukan jumlah bilangan raka’at.

    PELAKSANAAN SHOLAT TAHAJJUD

    Berniat
    Membaca doa iftitah sesudah takbiratul ihram
    Membaca Al Fatihah
    Seusai membaca Al Fatihah, ayat-ayat yang dibaca adalah:

    • Tahajjud ke-1 > Al-Baqarah: 284-286 dan Al-Ikhlas
    • Tahajjud ke-2 > Ali Imran dan Al-Ikhlas
    • Tahajjud ke-3 > Al Kahfi: 102-110 dan Al-Ikhlas
    • Tahajjud ke-4 > Ayat Qursy dan Al-Ikhlas
    • Tahajjud ke-5 > Al-Lail dan Al-Ikhlas
    • Saat witir, setelah Al Fatihah, surah yg dibaca adalah surah Al-A’laa

    Ayat-ayat tsb tentu saja ada keutamaannya tersendiri sebagaimana ada dalam sabda Rasul, namun jika belum hafal ayat-ayat/surah-surah tsb, maka sebaiknya kita membaca ayat-ayat yang pendek yaitu Ayat Qursy dan Qulhu (Al-Ikhlas) pada semua rakaat Tahajjud (pendapat lain yaitu Al-Kafirun dan Al Ikhlas). Dan gabungan dua surah Muawidzat pada shalat Witir yaitu An-Naas dan Al-Falaq.

    SETELAH SHALAT TAHAJJUD

    Setelah selesai mengerjakan Tahajjud, kita boleh berzikir istigfar dan lainnya sebagaimana pada zikir shalat.

    Atau kita dapat langsung berdoa dengan bacaan sesuai yg diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Bukhari berikut ini:

    artinya:

    Ya Allah, bagiMU segala puji. Engkaulah penegak langit dan bumi dan alam semesta serta segala isinya. BagiMU segala puji. Engkau raja penguasa langit dan bumi. BagiMU segala puji Pemencar cahaya langit dan bumi. BagiMU segala puji, engkaulah yang hak, dan janjiMU adalah hak dan perjumpaanMU adalah hak, dan firmanMU adalah hak, dan sorga adalah hak, dan neraka adalah hak, dan nabi-nabi adalah hak, dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa sallam adalah hak, dan hari kiamat adalah hak.
    Ya Allah kepadaMU kami bertawakkal, kepadaMU kami kembali, dan kepadaMU kami rindu dan kepadaMU kami berhukum. Ampunilah kami atas dosa-dosa yang sudah kami lakukan dan dosa yang terdahulu, baik yang kami sembunyikan maupun yang kami nyatakan.
    Engkaulah Tuhan yang Awwal (Permulaan) dan Akhir. Tiada Tuhan selain Allah Tuhan Alam semesta. Tiada daya dan kuasa melainkan kepunyaan Allah.

    Dan untuk shalat Witir, setelahnya kita boleh berdoa atau berzikir atau kembali tidur. Para ulama Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada batasan berdoa, baik itu dengan bahasa Arab maupun dengan bahasa ibu, karena ALLAH tentu lebih mengetahuinya walaupun hanya dalam hati.

    ======
     
    • Reza erpani 3:10 pm on January 31, 2014 Permalink | Reply

      Itu maksudnya shalat tahajjud dulu baru witir,,atau shalat tahajjud dan witir digabungi.??
      Mohon penjelasannya..

    • Reza erpani 3:19 pm on January 31, 2014 Permalink | Reply

      Apakah pas shalat tahajjud selesai membaca doa dlu baru shalat witir,,atau shalat tahajjud digabung shalat witir baru membaca do’a..

    • rivan 2:48 pm on February 12, 2014 Permalink | Reply

      jazakumullahu khairan ya akhi, terimakasih artikelnya sangat bermanfaat buat ana

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.