Perbedaan Infaq, Shodaqoh dan Zakat menurut Al Jurjani

Al Jurjani dalam kitabnya At Ta’rifaat menjelaskan bahwa infaq adalah penggunaan harta untuk memenuhi kebutuhan (sharful maal ilal haajah) (Al Jurjani, tt : 39). Dengan demikian, infaq mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding zakat. Dalam kategorisasinya, infak dapat diumpamakan dengan “alat transportasi” –yang mencakup kereta api, mobil, bus, kapal, dan lain-lain– sedang zakat dapat diumpamakan dengan “mobil”, sebagai salah satu alat transportasi.

Maka hibah, hadiah, wasiat, wakaf, nazar (untuk membelanjakan harta), nafkah kepada keluarga, kaffarah (berupa harta) –karena melanggar sumpah, melakukan zhihar, membunuh dengan sengaja, dan jima’ di siang hari bulan Ramadhan–, adalah termasuk infaq. Bahkan zakat itu sendiri juga termasuk salah satu kegiatan infak. Sebab semua itu merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan pihak pemberi maupun pihak penerima.
Dengan kata lain, infaq merupakan kegiatan penggunaan harta secara konsumtif –yakni pembelanjaan atau pengeluaran harta untuk memenuhi kebutuhan– bukan secara produktif, yaitu penggunaan harta untuk dikembangkan dan diputar lebih lanjut secara ekonomis (tanmiyatul maal).

Al Jurjani dalam kitabnya At Ta’rifaat menjelaskan bahwa infaq adalah penggunaan harta untuk memenuhi kebutuhan (sharful maal ilal haajah) (Al Jurjani, tt : 39). Dengan demikian, infaq mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding zakat. Dalam kategorisasinya, infak dapat diumpamakan dengan “alat transportasi” –yang mencakup kereta api, mobil, bus, kapal, dan lain-lain– sedang zakat dapat diumpamakan dengan “mobil”, sebagai salah satu alat transportasi.

“Al wasilatu ilal haram haram”
“Segala perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram pula”.
Bisa pula hukumnya menjadi wajib, misalnya untuk menolong orang yang berada dalam keadaan terpaksa (mudhthar) yang amat membutuhkan pertolongan, misalnya berupa makanan atau pakaian. Menolong mereka adalah untuk menghilangkan dharar (izalah adh dharar) yang wajib hukumnya. Jika kewajiban ini tak dapat terlaksana kecuali denganshadaqah, maka shadaqah menjadi wajib hukumnya, sesuai kaidah syara’ :

“ Maa laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib”
“Segala sesuatu yang tanpanya suatu kewajiban tak terlaksana sempurna, maka sesuatu itu menjadi wajib pula hukumnya”
Dalam ‘urf (kebiasaan) para fuqaha, sebagaimana dapat dikaji dalam kitab-kitab fiqh berbagai madzhab, jika disebut istilah shadaqah secara mutlak, maka yang dimaksudkan adalah shadaqah dalam arti yang pertama ini –yang hukumnya sunnah– bukan zakat.


Kedua, shadaqah adalah identik dengan zakat (Zallum, 1983 : 148). Ini merupakan makna kedua dari shadaqah, sebab dalam nash-nash syara’ terdapat lafazh “shadaqah” yang berarti zakat. Misalnya firman Allah SWT :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu adalah bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil-amil zakat …” (QS At Taubah : 60)

Dalam ayat tersebut, “zakat-zakat” diungkapkan dengan lafazh “ash shadaqaat”. Begitu pula sabda Nabi SAW kepada Mu’adz bin Jabal RA ketika dia diutus Nabi ke Yaman :

“…beritahukanlah kepada mereka (Ahli Kitab yang telah masuk Islam), bahwa Allah telah mewajibkan zakat atas mereka, yang diambil dari orang kaya di antara mereka, dan diberikan kepada orang fakir di antara mereka…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada hadits di atas, kata “zakat” diungkapkan dengan kata “shadaqah”.
Berdasarkan nash-nash ini dan yang semisalnya, shadaqah merupakan kata lain dari zakat. Namun demikian, penggunaan kata shadaqah dalam arti zakat ini tidaklah bersifat mutlak. Artinya, untuk mengartikan shadaqah sebagai zakat, dibutuhkan qarinah (indikasi) yang menunjukkan bahwa kata shadaqah –dalam konteks ayat atau hadits tertentu– artinya adalah zakat yang berhukum wajib, bukan shadaqah tathawwu’ yang berhukum sunnah. Pada ayat ke-60 surat At Taubah di atas, lafazh “ash shadaqaat” diartikan sebagai zakat (yang hukumnya wajib), karena pada ujung ayat terdapat ungkapan “faridhatan minallah” (sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah). Ungkapan ini merupakan qarinah, yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan lafazh “ash shadaqaat” dalam ayat tadi, adalah zakat yang wajib, bukan shadaqah yang lain-lain.

Begitu pula pada hadits Mu’adz, kata “shadaqah” diartikan sebagai zakat, karena pada awal hadits terdapat lafazh “iftaradha” (mewajibkan/memfardhukan). Ini merupakan qarinah bahwa yang dimaksud dengan “shadaqah” pada hadits itu, adalah zakat, bukan yang lain.
Dengan demikian, kata “shadaqah” tidak dapat diartikan sebagai “zakat”, kecuali bila terdapat qarinah yang menunjukkannya.

Ketiga, shadaqah adalah sesuatu yang ma’ruf (benar dalam pandangan syara’). Pengertian ini didasarkan pada hadits shahih riwayat Imam Muslim bahwa Nabi SAW bersabda :

“Kullu ma’rufin shadaqah” (Setiap kebajikan, adalah shadaqah).

Berdasarkan ini, maka mencegah diri dari perbuatan maksiat adalah shadaqah, memberi nafkah kepada keluarga adalah shadaqah, beramar ma’ruf nahi munkar adalah shadaqah, menumpahkan syahwat kepada isteri adalah shadaqah, dan tersenyum kepada sesama muslim pun adalah juga shadaqah.

Agaknya arti shadaqah yang sangat luas inilah yang dimaksudkan oleh Al Jurjani ketika beliau mendefiniskan shadaqah dalam kitabnya At Ta’rifaat. Menurut beliau, shadaqah adalah segala pemberian yang dengannya kita mengharap pahala dari Allah SWT (Al Jurjani, tt : 132). Pemberian (al ‘athiyah) di sini dapat diartikan secara luas, baik pemberian yang berupa harta maupun pemberian yang berupa suatu sikap atau perbuatan baik.
Jika demikian halnya, berarti membayar zakat dan bershadaqah (harta) pun bisa dimasukkan dalam pengertian di atas. Tentu saja, makna yang demikian ini bisa menimbulkan kerancuan dengan arti shadaqah yang pertama atau kedua, dikarenakan maknanya yang amat luas. Karena itu, ketika Imam An Nawawi dalam kitabnya Sahih Muslim bi Syarhi An Nawawi mensyarah hadits di atas (“Kullu ma’rufin shadaqah”) beliau mengisyaratkan bahwa shadaqah di sini memiliki arti majazi (kiasan/metaforis), bukan arti yang hakiki (arti asal/sebenarnya). Menurut beliau, segala perbuatan baik dihitung sebagai shadaqah, karena disamakan dengan shadaqah (berupa harta) dari segi pahalanya (min haitsu tsawab). Misalnya, mencegah diri dari perbuatan dosa disebut shadaqah, karena perbuatan ini berpahala sebagaimana halnya shadaqah. Amar ma’ruf nahi munkar disebut shadaqah, karena aktivitas ini berpahala seperti halnya shadaqah. Demikian seterusnya (An Nawawi, 1981 : 91).

Walhasil, sebagaimana halnya makna shadaqah yang kedua, makna shadaqah yang ketiga ini pun bersifat tidak mutlak. Maksudnya, jika dalam sebuah ayat atau hadits terdapat kata “shadaqah”, tak otomatis dia bermakna segala sesuatu yang ma’ruf, kecuali jika terdapat qarinah yang menunjukkannya. Sebab sudah menjadi hal yang lazim dan masyhur dalam ilmu ushul fiqih, bahwa suatu lafazh pada awalnya harus diartikan sesuai makna hakikinya. Tidaklah dialihkan maknanya menjadi makna majazi, kecuali jika terdapat qarinah. Sebagaimana diungkapkan oleh An Nabhani dan para ulama lain, terdapat sebuah kaidah ushul menyebutkan :
“Al Ashlu fil kalaam al haqiqah.”
“Pada asalnya suatu kata harus dirtikan secara hakiki (makna aslinya).” (Usman, 1996 : 181, An Nabhani, 1953 : 135, Az Zaibari : 151)

Namun demikian, bisa saja lafazh “shadaqah” dalam satu nash bisa memiliki lebih dari satu makna, tergantung dari qarinah yang menunjukkannya. Maka bisa saja, “shadaqah” dalam satu nash berarti zakat sekaligus berarti shadaqah sunnah. Misalnya firman Allah :

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (At Taubah : 103)

Kata “shadaqah” pada ayat di atas dapat diartikan “zakat”, karena kalimat sesudahnya “kamu membersihkan dan mensucikan mereka” menunjukkan makna bahasa dari zakat yaitu “that-hiir” (mensucikan). Dapat pula diartikan sebagai “shadaqah” (yang sunnah), karena sababun nuzulnya berkaitan dengan harta shadaqah, bukan zakat. Menurut Ibnu Katsir (1989 : 400-401) ayat ini turun sehubungan dengan beberapa orang yang tertinggal dari Perang Tabuk, lalu bertobat seraya berusaha menginfakkan hartanya. Jadi penginfakan harta mereka, lebih bermakna sebagai “penebus” dosa daripada zakat.

Karena itu, Ibnu Katsir berpendapat bahwa kata “shadaqah” dalam ayat di atas bermakna umum, bisa shadaqah wajib (zakat) atau shadaqah sunnah (Ibnu Katsir, 1989 : 400). As Sayyid As Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah Juz I (1992 : 277) juga menyatakan, “shadaqah” dalam ayat di atas dapat bermakna zakat yang wajib, maupun shadaqah tathawwu’.
Pendapat lain tentang Infaq

Kata infaq dalam al-Quran memang mendapat tempat istimewa. Dalam al-Baqarah (2): 261 di atas, misalnya, frasa al-ladzîna yunfiqûn (orang yang ber-infaq) segera diikuti dengan sederetan kalimat yang menggambarkan berlipat-lipatnya pahala, lalu dilanjutkan dengan kalimat wallâhu yudlâ’ifu liman yasyâ’ (Allah melipatgandakan [pahala] untuk orang yang Dia kehendaki), dan diakhiri dengan wallahu wâsi’un ‘alîm (Dan Allah Mahaluas [karunia-Nya] dan Maha Mengetahui). Betapa istimewanya: lafal infaq diletakkan di antara “samudera karunia” yang tak terjangkau luasnya.

Pada al-Baqarah (2): 265 juga demikian. Frasa al-ladzîna yunfiqûn segera disusul dengan kalimat perumpamaan yang indah: kamatsali jannatin bi rabwatin ashâbahâ wâbilun fa âtat ukulahâ dhi’fayn (seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi, yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat). Sebuah kebun yang tak hanya indah, tapi juga lebat buah-buahannya, produktif. Begitu produktifnya, sehingga disusul lagi dengan kalimat fa in lam yushibhâ wâbilun fathall (kalaupun hujan lebat tak mengguyur maka gerimis [pun cukup melebatkan buah]).

Posisi infaq yang demikian dalam al-Quran juga bisa dijumpai pada ayat-ayat lain. Kata infaq diiringi dengan kalimat-kalimat indah nan menyejukkan. Ada ajruhum ‘inda rabbihim (pahala di sisi Rabb), yang menunjukkan “intim”-nya hubungan antara infaq dan pahala. Ada Allâhu yuhibbul muhsinîn (Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsân), yang menandakan bahwa infâq begitu dekat dengan ihsân, yang kemudian sangat dekat dengan cinta Allah. Ada juga ‘uqba al-dâr (akhir yang baik), atau—seperti yang sering kita dengar—tijâratan lan tabûr (perniagaan yang tak bakal merugi), yang mengekspresikan kaitan yang hampir tak terpisahkan antara infaq dengan karunia yang tiada habis, dunia dan akhirat.

Namun, dari itu semua, apa sebenarnya yang dimaksudkan al-Quran dengan kata infaq itu sendiri?

Menarik satu pengertian dari kata infaq tak semudah yang kita bayangkan. Pernah, para penafsir di era Sahabat memperdebatkan makna kata infaq dalam satu ayat wa mimmâ razaqnâhum yunfiqûn (dan dari rezeki yang Aku [Allah] berikan kepada mereka, mereka ber-infaq). Ibnu Abbâs mengatakan, yang dimaksud dengan infaq di situ adalah zakat, zakat wajib. Alasannya, kata yunfiqûn di situ “sepaket” dengan kata yuqîmûn al-shalâh, mendirikan salat. Salat adalah ibadah wajib, maka urut-urutannya kemudian, ya, zakat wajib, yang diungkapkan dengan kata infaq itu.

Ibnu Mas’ûd tidak demikian. Infaq di situ adalah infaq seorang lelaki kepada keluarganya, nafkah keluarga. Argumen Ibnu Mas’ud, infaq dalam pengertian ini adalah infaq yang paling utama sebagaimana disebutkan Rasulullah. Lain lagi pendapat al-Dhahhâk. Menurut dia, yang dimaksud adalah sedekah sunah, shadaqat al-tathawwu’. Al-Dhahhâk punya logika begini. Kalau yang dimaksud zakat, tentu akan dipakai lafaz yang tegas, yaitu al-zakâh. Dan, jika yang digunakan lafaz selain al-zakât, kata al-shadaqah misalnya, maknanya bisa dua: wajib (zakat) dan sunah (sedekah). Lalu, kalau dipakai lafaz al-infâq maka maknanya tak lain adalah shadaqat al-tathawwu’, sedekah sunah.

Bisa kita lihat, dari perdebatan para Sahabat tersebut, kata infaq bisa dipakai untuk menunjuk berbagai pengertian. Bisa zakat, nafkah keluarga, atau sedekah sunah.

Lagi pula, kata infaq pun tak hanya digunakan untuk merepresentasikan “kebajikan” semata. Kalau kita telusuri lagi, kata infaq juga digunakan untuk menunjuk segala model pembelanjaan kekayaan. Surah al-Anfâl (8): 36, misalnya, menggunakannya dalam konteks orang kafir membelanjakan kekayaan untuk menggencet umat mukmin. Artinya, kata infaq juga dipakai untuk menunjuk pengertian “pembelanjaan harta demi sebuah kejahatan”.

Para Sahabat penafsir pun menggunakan kata infaq untuk menerangkan makna “menghambur-hamburkan harta” (al-tabdzîr). Ibnu ‘Abbâs, Ibnu Mas’ûd, Mujâhid, maupun Qatâdah (penafsir-penasfir besar era Sahabat), saat memberi tafsir wa lâ tubadzdzir tabdzîrâ (jangan kau hambur-hamburkan hartamu), mengatakan, al-tabdzîr infâqu l-mâl fi ghairi haqqihi (al-tabdzîr ‘menghamburkan harta’ adalah meng-infaq-kan harta untuk hal yang tak semestinya). Ini artinya, mengeluarkan harta untuk foya-foya pun bisa disebut infâq.

Tapi, tentu bukan ini makna infaq yang dimaksud dalam kemasan produk-produk “islami” di atas. Kita percaya, pengertian al-Dhahhâk di ataslah yang paling mendekati, yakni sedekah sunah. Hanya saja, sedekah sunah memang bisa ditujukan ke berbagai sasaran kebajikan: pembangunan masjid, pendirian madrasah, maupun untuk mereka yang kesusahan semacam fakir miskin, anak telantar, korban penggusuran, korban bencana alam, anak putus sekolah.

Konsekuensinya, substansi infaq pun sebenarnya juga masuk dalam produk yang tidak memakai label infaq tapi istilah lain yang mungkin “sekuler”. Jadi, itu juga akan dibalas 700 kali lipat sebagaimana dijanjikan Allah. Lalu, apa yang berbeda?*

About these ads