Salat Tarawih Sendirian

Assalaamu’alaikum pak ustadz

Izinkanlah saya untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda, berikut:

  1. Bagaimana
    cara kita melaksanakan salat tarawih sendirian. Artinya, tanpa harus
    pergi ke masjid (atau di masjid tapi sendiri) karena waktu yang tidak
    memungkinkan?
  2. Jika kita melaksanakan tarawih sendiri, apakah
    boleh melakukan salat malam dahulu (tahajud, hajat, sunat lainnya)
    setelah itu baru ditutup dengan salat Witir (kan terakhir?) atau kah
    sebaliknya?

Saya rasa itu saja yang ingin tanyakan, atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan terima kasih.

Husnul yaqin – Jakarta

Jawaban:

Wa’alaikum Salam Wr. Wb.

Yth. Sdr. Husnul Yaqin

Salat
Tarawih boleh berjamaah dan boleh sendirian. Tata caranya sama. Boleh
dilaksanakan 8 rakaat karena berlandaskan kepada hadis ‘Aisyah yang
mengatakan “Rasulullah tidak pernah mendirikan salat malam melebihi 11
rakaat, baik di bulan Ramadan maupun bulan lainnya, beliau mendirikan
empat rakaat yang sangat panjang, kemudian empat rakaat lagi yang sangat
panjang, setelah itu salat tiga rakaat” (H.R. Bukhari).

Boleh
juga melaksanakannya sebanyak 20 rakaat sebagaimana yang dilakukan sejak
masa Umar (dan dihidupan para sahabat lainnya) sampai sekarang. Salat
20 rakaat ini juga dilaksanakan di masjid-masjid besar Islam seperti
Masjid al Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Salat
tarawih juga boleh juga dilaksanakan dengan empat rakaat salam, empat
rakaat salam dan dilanjutkan dengan witir tiga rakaat sebagaimana hadis
di atas. Demikian juga boleh dilaksanakan setiap dua rakaat salam, ini
berlandaskan kepada hadis yang mengatakan “Salat malam adalah dua
rakaat, dua rakaat” (H.R. Jamaah).

Dalam melaksanakan salat
tarawih juga disunnahkan duduk sebentar setelah salam, pada setiap
rakaat keempat. Inilah mengapa disebut tarawih yang artinya “istirahat”,
karena ‘mushali’ duduk sebentar beristirahat setiap empat rakaat. Tidak
ada bacaan khusus selama duduk tersebut, namun disunnahkan memperbanyak
berzikir. Istilah tarawih sendiri belum ada pada zaman Nabi saw. Pada
saat itu salat tarawih hanya disebut dengaan salat malam atau salat
‘qiyam al lail’.

Salat tahajjud adalah salat malam yang
dilaksanakan setelah tidur. Apabila salat tarawih dilaksanakan setelah
tidur maka ini juga termasuk salat tahajjud.

Disunnahkan juga
dalam salat tarawih untuk mengeraskan suara dalam membaca Fatihah dan
surah. Alangkah baiknya bila Saudara dalam melaksanakan salat tarawih
sendiri, digunakan untuk menghafalkan kembali surah-surah Al Qur’an yang
pernah Saudara hapal.

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga amal kita diterima Allah. Amin.

Wassalam

Technorati Tags: , ,

About these ads